Level 1 · Investor Mandiri · Modul 4
Reksa Dana: Naik Bus Bersama
Reksa dana itu seperti bus. Kamu cukup membeli tiket, sopir profesional yang menyetir. Tapi bus yang satu menuju pantai, yang lain naik ke gunung. Ongkosnya juga berbeda, dan sebagian besar ongkos itu tidak tertulis di tiket. Di modul ini kamu belajar membaca bus mana yang cocok untukmu.
Iklan "+87% dalam 5 tahun"
Setelah modul ini, kamu bisa
- menjelaskan siapa saja yang terlibat di reksa dana dan siapa yang menyimpan uangmu;
- membedakan jenis-jenis reksa dana dan mencocokkannya dengan jangka waktu tujuanmu;
- menghitung total biaya kepemilikan dan dampaknya pada uangmu bertahun-tahun kemudian;
- membaca prospektus dan fund fact sheet untuk menemukan informasi yang penting;
- menilai kinerja reksa dana dengan tolok ukur yang tepat, bukan dengan angka iklan.
Reksa Dana X: imbal hasil 5 tahun +87%! NAB-nya baru Rp1.050, masih murah. Buruan sebelum mahal!
Wah, +87%! Dan murah pula. Sari, aku ikut ya?
Tunggu. Aku hitung ulang dulu dari data per tahunnya.
Hasil sebenarnya cuma +60%. Indeks pembandingnya malah +86%. Ia kalah jauh!
LHO?!Dan "NAB murah" itu tidak ada artinya. Yuk belajar membaca reksa dana dengan benar.
Di modul-modul sebelumnya kamu belajar tentang obligasi dan SBN. Sekarang kita bahas cara paling populer untuk berinvestasi tanpa memilih sendiri setiap aset: reksa dana. Banyak orang memulai dari sini. Justru karena itu, banyak juga yang tertipu angka iklan.
Reksa dana itu kendaraan, bukan isinya
Ini hal pertama yang wajib kamu pahami: reksa dana tidak punya sifat risiko dan imbal hasil sendiri. Sifatnya berasal sepenuhnya dari isinya.
Reksa dana pasar uang berperilaku seperti deposito. Reksa dana saham berperilaku seperti saham, termasuk bisa turun 50%. Menyebut keduanya "reksa dana" tanpa menyebut isinya sama seperti menyebut "kendaraan" tanpa membedakan sepeda dan truk tangki.
NAB per unit: harga tiket, bukan label murah-mahal
Saat membeli reksa dana, uangmu ditukar dengan unit penyertaan, yaitu satuan kepemilikan. Nilai satu unit disebut NAB/UP (Nilai Aktiva Bersih per Unit Penyertaan). NAB/UP dihitung setiap hari kerja.
Banyak orang mengira NAB/UP yang kecil berarti "murah" dan "masih bisa naik banyak". Itu keliru. NAB/UP hanya menunjukkan berapa nilai satu unit sejak reksa dana itu diluncurkan. Kalau kamu membeli Rp1 juta, kamu tetap memiliki Rp1 juta, berapa pun NAB/UP-nya. Bedanya hanya jumlah unit yang kamu terima.
Reksa dana adalah kendaraan. Risiko dan hasilnya ditentukan oleh isinya. NAB/UP yang kecil tidak berarti murah, yang besar tidak berarti mahal. Yang penting adalah imbal hasil setelah biaya.
Siapa yang menjaga uangmu?
Di Indonesia, reksa dana umumnya berbentuk KIK (Kontrak Investasi Kolektif). Artinya, ada kontrak antara manajer investasi dan bank kustodian yang mengikat semua pemegang unit. Ada empat pihak yang perlu kamu kenal.
| Pihak | Tugasnya | Kenapa penting bagimu |
|---|---|---|
| Manajer Investasi (MI) | Memutuskan aset apa yang dibeli dan dijual | Kemampuan dan proses MI menentukan kinerja |
| Bank Kustodian (BK) | Menyimpan aset, menghitung NAB, mencatat unit | Aset tidak disimpan oleh MI. Inilah perlindungan utama |
| Agen Penjual (APERD) | Menjual reksa dana kepada investor | Pintu masuk dan kontakmu; bisa mengenakan biaya sendiri |
| OJK | Memberi izin dan mengawasi | Produk hanya boleh ditawarkan setelah pernyataan pendaftarannya efektif |
Karena aset disimpan terpisah, kalau manajer investasi bermasalah atau bangkrut, asetmu tidak ikut menjadi harta MI. Aset itu milik para pemegang unit bersama-sama. Namun ada risiko yang tidak tertutup perlindungan ini:
- Risiko pasar: nilai aset di dalamnya tetap bisa turun.
- Risiko pengelolaan: MI bisa membuat keputusan buruk.
- Risiko pembubaran: reksa dana bisa dibubarkan bila dananya menyusut di bawah ambang atau atas perintah otoritas. Kamu menerima hasil penjualan aset pada nilai saat itu.
- Risiko likuiditas: bila banyak orang mencairkan bersamaan, MI bisa terpaksa menjual aset di harga tertekan.
- Manajer investasinya punya izin OJK yang masih berlaku.
- Produknya terdaftar dan pernyataan pendaftarannya sudah efektif.
- Agen penjualnya terdaftar sebagai APERD.
- Pembayaran ke rekening bank kustodian atas nama reksa dana, bukan ke rekening MI, agen, atau orang pribadi. Ini tanda bahaya yang paling bisa diandalkan.
Asetmu disimpan bank kustodian, terpisah dari harta manajer investasi. Ini melindungimu dari bangkrutnya MI, tetapi tidak dari turunnya pasar atau keputusan buruk MI.
Jenis-jenis bus dan tujuannya
Karena isinya menentukan perilaku, setiap jenis reksa dana cocok untuk jangka waktu yang berbeda.
| Jenis | Isi umumnya | Naik-turunnya | Cocok untuk jangka |
|---|---|---|---|
| Pasar uang | Instrumen jatuh tempo < 1 tahun | Sangat rendah | < 1 tahun; dana darurat lapis kedua |
| Pendapatan tetap | Sebagian besar obligasi | Rendah–sedang | 2–4 tahun |
| Campuran | Saham dan obligasi | Sedang | 3–7 tahun |
| Saham | Sebagian besar saham | Tinggi | > 7 tahun |
| Indeks | Mengikuti isi sebuah indeks acuan | Sesuai indeksnya | Sesuai isi indeksnya |
| Terproteksi | Obligasi dipegang sampai jatuh tempo | Rendah bila dipegang sampai akhir | Sesuai jatuh temponya |
| Syariah | Efek yang masuk daftar efek syariah | Sesuai isinya | Sesuai isinya |
"Terproteksi" bukan "dijamin"
Reksa dana terproteksi bekerja begini: manajer investasi membeli obligasi yang jatuh temponya sama dengan jatuh tempo produk. Dengan begitu, nilai pokok cenderung kembali utuh. Tapi ada dua syarat yang sering tidak dijelaskan: dipegang sampai jatuh tempo, dan penerbit obligasinya tidak gagal bayar. Proteksi hilang kalau kamu mencairkan lebih awal. Proteksi juga gagal kalau penerbitnya gagal bayar.
Aku pilih reksa dana terproteksi. Dijamin tidak rugi, kan? Seperti deposito di LPS?
Bukan dijamin, Pak. Pokoknya cenderung kembali kalau dipegang sampai jatuh tempo dan obligasinya tidak gagal bayar.
Jadi kalau kucairkan tahun depan, proteksinya hilang?
Betul. Bacalah prospektusnya sebelum percaya pada satu kata.
Reksa dana indeks
Reksa dana indeks tidak memilih saham satu per satu. Ia meniru isi sebuah indeks acuan. Karena tidak butuh banyak analis, biaya pengelolaannya umumnya jauh lebih rendah. Kenapa itu penting? Karena biaya adalah satu-satunya bagian dari imbal hasil yang pasti bisa kamu kendalikan.
Pilih jenis reksa dana berdasarkan kapan uangnya dibutuhkan. Pasar uang untuk kurang dari setahun, saham untuk lebih dari tujuh tahun. "Terproteksi" punya syarat dan bukan jaminan.
Lima lapis biaya, kebanyakan tak terlihat
Biaya reksa dana punya lima lapis. Masalahnya, lapis yang paling besar justru yang paling tidak terlihat.
| Lapis | Nama | Kapan dipotong | Kisaran umum | Terlihat? |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Biaya pembelian (subscription) | Saat membeli | 0%–2% | Ya, di bukti transaksi |
| 2 | Biaya penjualan kembali (redemption) | Saat mencairkan | 0%–2%, sering gratis setelah periode tertentu | Ya, di bukti transaksi |
| 3 | Biaya pengelolaan (management fee) | Setiap hari, dari NAB | 0,3%–3% per tahun | Tidak, sudah terpotong di NAB |
| 4 | Biaya bank kustodian | Setiap hari, dari NAB | 0,1%–0,3% per tahun | Tidak |
| 5 | Biaya transaksi portofolio | Saat MI jual-beli aset | Bervariasi | Tidak |
Lapis 1 dan 2 terlihat dan kecil. Lapis 3, 4, dan 5 tidak terlihat tetapi besar, karena dipotong setiap tahun. Kalau kamu membandingkan produk hanya dari biaya pembeliannya, kamu sedang membandingkan bagian yang paling tidak penting.
jumlahkan semua biaya yang dipotong setiap tahun dari NAB. Itulah total biaya kepemilikan (TBK) per tahun. Contohnya, imbal hasil kotor 10% dengan biaya pengelolaan 2,10% dan kustodian 0,25% menyisakan imbal hasil bersih 10% − 2,35% = 7,65%.
Di mana mencari angkanya? Prospektus memuat batas maksimum tiap biaya. Fund fact sheet bulanan memuat biaya yang berlaku. Laporan keuangan tahunan reksa dana memuat biaya yang benar-benar dibebankan. Yang terakhir ini paling akurat, tetapi paling jarang dibaca.
Ada satu petunjuk lagi: perputaran portofolio. Makin sering MI berjual-beli, makin besar biaya lapis 5. Perputaran tinggi tanpa kinerja yang lebih baik adalah kebocoran murni.
Pak Denny menyetor Rp5.000.000 per bulan selama 20 tahun. Imbal hasil kotor kedua produk sama: 10% per tahun.
Reksa Dana A (aktif): biaya pembelian 1,50%, pengelolaan 2,10%, kustodian 0,25%. TBK = 2,35%. Imbal hasil bersih 7,65%. Karena biaya pembelian, setoran efektifnya Rp4.925.000 per bulan.
Reksa Dana B (indeks): biaya pembelian 0%, pengelolaan 0,45%, kustodian 0,15%. TBK = 0,60%. Imbal hasil bersih 9,40%. Setoran efektif tetap Rp5.000.000.
Nilai setelah 20 tahun (dihitung per bulan). A: Rp2.777.935.000. B: Rp3.514.261.000. Total setoran keduanya sama, Rp1,2 miliar.
Selisihnya Rp736,3 juta, setara 61% dari seluruh uang yang pernah disetor. Untuk sekadar menyamai B, manajer A harus unggul 1,75 poin persen setiap tahun selama 20 tahun.
Biaya masuk-keluar pada jangka pendek
Biaya pembelian dan penjualan kembali memang kecil, tetapi bisa terasa besar kalau kamu sering keluar-masuk. Pada periode pendek, kedua biaya itu bisa memakan separuh lebih dari kenaikan NAB.
Biaya tahunan yang tak terlihat (pengelolaan, kustodian, transaksi) jauh lebih menentukan daripada biaya pembelian. Selisih 1,75 poin per tahun bisa bernilai ratusan juta dalam 20 tahun. Biaya adalah satu-satunya hal yang pasti: dibayar setiap tahun, untung atau rugi.
Rumus nilai akhir setoran bulanan
Dengan setoran \(S\) di akhir tiap bulan, imbal hasil bersih tahunan \(r\), dan \(N\) bulan:
Reksa Dana A: \(S = 4.925.000\), \(r = 7{,}65\%\), \(N = 240\), memberi sekitar Rp2,778 miliar. Reksa Dana B: \(S = 5.000.000\), \(r = 9{,}40\%\), memberi sekitar Rp3,514 miliar. Untuk setoran sekaligus (bukan bulanan), rumusnya cukup \(FV = PV \times (1 + r)^n\) dengan \(r\) = imbal hasil kotor dikurangi TBK.
Membaca prospektus dan fund fact sheet
Dua dokumen ini adalah "buku manual" reksa dana. Prospektus berisi aturan mainnya. Fund fact sheet adalah rapor bulanannya, biasanya satu-dua halaman.
Dari prospektus, cari:
Kebijakan investasi: batas porsi tiap jenis aset. Ini menentukan perilaku produk sebenarnya.
Biaya: batas maksimum tiap lapis.
Faktor risiko: sering memuat risiko yang tak kamu duga.
Pembubaran: apa yang terjadi bila dananya menyusut.
Tata cara pencairan: berapa hari kerja uangmu cair.
Dari fund fact sheet, cari:
Dana kelolaan (AUM): terlalu kecil berarti risiko bubar; menyusut cepat, cari tahu sebabnya.
Sepuluh isi terbesar: sesuai nama produknya? Seberapa terpusat?
Kinerja vs tolok ukur: yang paling penting.
Komposisi aset: sesuai kebijakan di prospektus?
Tanggal data: itu data bulan lalu.
Uji cepat tiga pertanyaan sebelum membeli reksa dana apa pun:
1. Apa sepuluh isi terbesarnya, dan apakah aku memahami aset-aset itu?
2. Berapa total biaya kepemilikan tahunannya, dan berapa dampaknya pada jangka waktuku?
3. Kinerjanya dibandingkan tolok ukur apa, dan apakah tolok ukur itu tepat?
Kalau belum bisa menjawab ketiganya, kamu belum siap membeli produk itu. Aset yang tidak kamu pahami adalah risiko, bukan peluang.
Contoh kartu pembedahan sebuah reksa dana saham
| Butir | Isi | Artinya |
|---|---|---|
| Dana kelolaan | Rp412 miliar, turun 18% dalam 12 bulan | Cari penyebabnya; waspadai risiko pembubaran |
| Biaya pengelolaan + kustodian | 2,25% + 0,20% = 2,45% per tahun | Tinggi; butuh keunggulan besar agar sepadan |
| Kinerja 1/3/5 tahun vs tolok ukur | −2,1 / −1,4 / −0,8 poin per tahun | Tertinggal di ketiga periode; tak ada bukti keunggulan |
| Sepuluh isi terbesar | 62% dari portofolio | Sangat terpusat pada sedikit saham |
| Penurunan maksimum 5 tahun | −41% | Siapkah kamu melihat uangmu turun sedalam itu? |
| Waktu pencairan | T+5 hari kerja | Tidak cocok untuk dana darurat |
Kesimpulan yang bisa dipertahankan: produk ini memungut biaya 2,45% per tahun sambil tertinggal dari tolok ukurnya di semua periode. Tanpa alasan kuat bahwa proses atau timnya berubah, tidak ada dasar untuk berharap hasilnya berbeda. Perhatikan: yang dinilai adalah metodenya, bukan nama produknya.
Baca prospektus untuk aturan main dan fund fact sheet untuk rapor bulanan. Jawab dulu tiga pertanyaan uji cepat: isinya apa, biayanya berapa, dan dibandingkan dengan tolok ukur apa.
Menilai kinerja tanpa tertipu
Kesalahan paling umum adalah melihat imbal hasil setahun terakhir lalu menyimpulkan "reksa dana ini bagus". Ada empat aturan yang lebih baik.
- Bandingkan dengan tolok ukur yang tepat. Reksa dana saham dibandingkan dengan indeks saham yang sebanding, bukan dengan deposito. Reksa dana pendapatan tetap dibandingkan dengan indeks obligasi.
- Pakai periode yang cukup panjang, dan lihat per tahun. Satu tahun itu terlalu banyak kebetulan. Lihat 3 tahun, 5 tahun, dan setiap tahun kalender secara terpisah.
- Perhitungkan risikonya. Reksa dana yang menang karena mengambil risiko jauh lebih besar bukan reksa dana yang lebih baik. Lihat penurunan maksimum dan imbal hasil per satuan risiko.
- Pisahkan keterampilan dari keberuntungan. Tanyakan: "Apakah ada proses yang menjelaskan kenapa ia bagus, dan bisakah proses itu diulang?"
Reksa Dana Saham X mencatat per tahun: +64%, −12%, +6%, −8%, +14%. Indeks acuannya: +21%, +8%, +14%, +5%, +19%.
Hitung hasil sebenarnya. X: 1,64 × 0,88 × 1,06 × 0,92 × 1,14 = 1,6044, jadi +60,44%. Indeks: 1,21 × 1,08 × 1,14 × 1,05 × 1,19 = 1,8614, jadi +86,14%.
Pertumbuhan per tahun (CAGR). X: (1,6044)1/5 − 1 = 9,92%. Indeks: (1,8614)1/5 − 1 = 13,23%. X tertinggal 3,31 poin per tahun.
Dari mana angka +87%? Bukan dari hasil sebenarnya. Mungkin dari menjumlahkan angka tahunan, atau dari periode yang dipilih berbeda. Apa pun sebabnya, hitung ulang sendiri dari data tahunan.
Lihat polanya. Keunggulan X hanya di tahun pertama (+43 poin di atas indeks). Empat tahun berikutnya selalu tertinggal. Kalau tidak ada proses yang menjelaskan tahun pertama itu, +64% tadi kemungkinan besar keberuntungan.
Cara jujur menyajikannya: "CAGR 5 tahun 9,92%, tertinggal 3,31 poin per tahun dari tolok ukur, dengan kinerja terpusat di tahun pertama."
Ganti angkanya dengan data indeks acuan (21, 8, 14, 5, 19) dan bandingkan pertumbuhan nyatanya.
Ingat rumus CAGR dari modul matematika investasi: \((\text{nilai akhir} / \text{nilai awal})^{1/n} - 1\). Rumus ini juga bisa dipakai langsung pada NAB/UP. Misalnya NAB/UP naik dari Rp1.000 menjadi Rp1.500 dalam 5 tahun: \((1.500/1.000)^{1/5} - 1 \approx 8{,}45\%\) per tahun.
Jangan menilai dari angka iklan atau dari satu tahun terbaik. Bandingkan dengan tolok ukur yang tepat, lihat per tahun, hitung CAGR, perhitungkan risiko, dan tanyakan apakah kinerjanya berasal dari proses yang bisa diulang. Kinerja masa lalu bukan jaminan masa depan.
Aktif atau indeks? Jawabannya aritmetika
Reksa dana aktif berusaha mengalahkan pasar dengan memilih aset. Reksa dana indeks cukup meniru pasar. Mana yang lebih baik? Perdebatan ini sering terdengar seperti soal selera. Padahal bingkainya sederhana: aritmetika.
Semua investor di suatu pasar, kalau digabung, adalah pasar itu sendiri. Jadi rata-rata hasil seluruh investor sebelum biaya pasti sama dengan hasil pasar. Setelah biaya, rata-ratanya pasti di bawah pasar. Yang biayanya lebih tinggi tertinggal lebih jauh.
| Pertanyaan | Jawaban |
|---|---|
| Apakah pengelolaan aktif tidak berguna? | Tidak. Sebagian manajer memang unggul, terutama di pasar yang kurang efisien. |
| Lalu apa masalahnya? | Menemukan mereka sebelumnya jauh lebih sulit daripada mengenali mereka sesudahnya. |
| Apa yang pasti? | Selisih biaya. Diketahui sejak awal dan berlaku setiap tahun. |
| Apa yang sebaiknya dilakukan pemula? | Mulai dari produk berbiaya rendah. Tambahkan yang aktif hanya bila kamu bisa menjelaskan kenapa manajer itu punya keunggulan yang bisa diulang. |
Coba lihat angka awalnya. Setoran Rp1 juta per bulan selama 30 tahun, imbal hasil kotor 10%. Dengan biaya 2% per tahun, uangnya menjadi sekitar Rp1,49 miliar. Dengan biaya 0,5%, sekitar Rp2,03 miliar. Selisihnya sekitar Rp543 juta, lebih besar dari seluruh uang yang disetor (Rp360 juta). Manajer aktif tidak harus buruk. Tetapi ia harus cukup hebat untuk menutup selisih itu setiap tahun, dan kamu harus bisa mengenalinya sejak awal.
Ini juga alasan kurikulum ini menyarankan pemula memulai dari produk berbiaya rendah. Kamu tidak perlu menebak siapa manajer terbaik. Kamu cukup memastikan bagian yang bisa kamu kendalikan, yaitu biaya, tetap kecil.
Bayar lebih mahal hanya bila kamu bisa menjelaskan apa yang kamu dapat dari selisih biayanya. Ini bukan soal manajer aktif itu buruk. Ini soal biaya yang pasti melawan keunggulan yang belum pasti.
Mitos atau fakta?
Ketuk setiap kartu untuk membaliknya.
"NAB/UP masih Rp1.050, jadi masih murah dan bisa naik banyak."
NAB/UP tidak menunjukkan murah atau mahal. Rp1 juta tetap Rp1 juta. Yang menentukan hasil adalah persentase kenaikan setelah biaya.
"Kalau manajer investasinya bangkrut, uangku ikut hilang."
Aset disimpan bank kustodian, terpisah dari harta MI. Tetapi nilainya tetap bisa turun karena pasar.
"Reksa dana terproteksi itu dijamin tidak rugi."
Bukan jaminan. Pokok cenderung kembali hanya bila dipegang sampai jatuh tempo dan penerbit obligasinya tidak gagal bayar.
"Bebas biaya pembelian berarti reksa dana itu murah."
Biaya terbesar tak terlihat: pengelolaan, kustodian, dan transaksi, dipotong setiap tahun dari NAB.
"Imbal hasil tahun lalu 40%, berarti manajernya hebat."
Satu tahun bisa kebetulan. Bandingkan dengan tolok ukur, lihat per tahun, dan cari proses yang bisa diulang.
Cek pemahamanmu
Latihan singkat ini tidak dinilai. Kuis resmi modul ada di bagian akhir halaman.
1. Kamu ingin tahu sifat risiko sebuah reksa dana. Pertanyaan pertama yang paling tepat adalah…
- Berapa imbal hasil tahun lalu?
- Apa isinya?
- Berapa NAB/UP-nya?
- Siapa artis iklannya?
Reksa dana hanyalah kendaraan. Sifat risikonya berasal dari isinya.
2. Untuk tabungan yang dipakai 10 tahun lagi, jenis reksa dana yang jangka waktunya paling sesuai adalah…
- Pasar uang
- Pendapatan tetap
- Terproteksi 2 tahun
- Saham
Reksa dana saham naik-turunnya tinggi, sehingga cocok untuk jangka lebih dari 7 tahun.
3. Imbal hasil kotor 9%, biaya pengelolaan 1,5%, kustodian 0,2%. Berapa imbal hasil bersihnya?
- 7,30%
- 7,50%
- 8,80%
- 10,70%
TBK = 1,5% + 0,2% = 1,7%. Bersih = 9% − 1,7% = 7,30%.
4. Seorang agen meminta pembayaran reksa dana ditransfer ke rekening pribadinya. Ini…
- Wajar, asal agennya ramah
- Wajar, karena agen penjual memang menyimpan aset
- Tanda bahaya; pembayaran seharusnya ke rekening bank kustodian atas nama reksa dana
- Wajar bila ia memberi diskon biaya
Pembayaran reksa dana ke rekening bank kustodian atas nama reksa dana, bukan ke MI, agen, atau orang pribadi.
5. NAB/UP naik dari Rp1.000 ke Rp1.210 dalam 2 tahun. Berapa CAGR-nya?
- 21%
- 10%
- 10,5%
- 11%
(1.210 ÷ 1.000)1/2 − 1 = 1,1 − 1 = 10% per tahun. Bukan 21% ÷ 2.
Ringkasan dan kamus mini
1. Reksa dana adalah kendaraan; risikonya berasal dari isinya. NAB/UP bukan ukuran murah-mahal.
2. Aset disimpan bank kustodian, terpisah dari MI. Bayar hanya ke rekening kustodian atas nama reksa dana.
3. Cocokkan jenis dengan jangka waktu. Terproteksi bukan dijamin.
4. TBK = pengelolaan + kustodian + transaksi. Biaya tak terlihat paling menentukan.
5. Baca prospektus dan fund fact sheet; jawab uji cepat tiga pertanyaan.
6. Nilai kinerja dengan tolok ukur yang tepat, per tahun, dengan CAGR dan risiko.
7. Setelah biaya, rata-rata investor pasti di bawah pasar. Biaya rendah adalah keunggulan yang pasti.
- Reksa dana
- Wadah yang menghimpun uang banyak investor dan dikelola manajer investasi.
- Unit penyertaan
- Satuan kepemilikan di reksa dana.
- NAB/UP
- Nilai satu unit penyertaan, dihitung setiap hari kerja.
- KIK
- Kontrak Investasi Kolektif, bentuk hukum reksa dana yang umum di Indonesia.
- Manajer investasi
- Pihak berizin yang memutuskan isi portofolio.
- Bank kustodian
- Bank yang menyimpan aset reksa dana dan menghitung NAB.
- APERD
- Agen penjual efek reksa dana yang terdaftar.
- TBK
- Total biaya kepemilikan tahunan: pengelolaan + kustodian + transaksi.
- Prospektus
- Dokumen aturan main reksa dana.
- Fund fact sheet
- Rapor bulanan ringkas reksa dana.
- Dana kelolaan (AUM)
- Total dana yang dikelola reksa dana.
- Tolok ukur
- Patokan pembanding kinerja yang isinya sebanding.
- Reksa dana indeks
- Reksa dana yang meniru isi indeks acuan, biasanya berbiaya rendah.
Materi ini untuk pendidikan, bukan rekomendasi membeli atau menjual produk apa pun. Angka-angka adalah contoh hitungan; hasil investasi tidak dijamin.
Selesai membaca? Mantap!
Uji pemahamanmu dengan kuis modul (4 soal). Skor terbaiknya dihitung 20% dari nilai akhir jenjang. Ingin rincian, rumus lengkap, dan latihan tambahan? Buka naskah lengkap modul ini.