Invesmentpedia Enigma Institute
L1.5 · Saham: Kepemilikan Bisnis dan Mekanisme Bursa
TINGKAT

Level 1 · Investor Mandiri · Modul 5

Saham: Ikut Memiliki Bisnis

Saham bukan sekadar kode empat huruf yang angkanya hijau-merah di layar HP. Saham adalah potongan kecil sebuah usaha sungguhan. Di modul ini kamu belajar apa yang sebenarnya kamu miliki, bagaimana bursa bekerja, kenapa dividen bukan uang gratis, dan kenapa ukuran taruhan lebih penting daripada ide yang hebat.

⏱ ±50 menit baca🏪 8 bab inti🎮 4 simulasi
TOKO MAJU 1 lbr Satu lembar saham = sepotong kecil usaha nyata

Kode yang lagi naik

Setelah modul ini, kamu bisa

  • menjelaskan apa yang sebenarnya kamu miliki saat membeli saham, dan dari mana untungnya berasal;
  • memahami cara kerja bursa: lot, fraksi harga, penyelesaian, papan pencatatan, auto rejection;
  • menghitung biaya transaksi, pajak, dan harga impas;
  • menghitung dampak dividen, pemecahan saham, saham bonus, dan HMETD pada kepemilikanmu;
  • membedakan memiliki bisnis dan memperdagangkan kode, serta menerapkan batas ukuran posisi.

Kode ini lagi terbang! Masuk sekarang, semua tabunganmu. Besok pasti naik lagi!

Kak, aku mau beli kode itu. Perusahaannya jualan apa, aku nggak tahu sih. Yang penting naik, kan?

Raka, saham itu bukan kode. Kamu membeli sepotong bisnis. Kalau tidak tahu bisnisnya, kamu membeli apa?

Eh… angka?

Dan jangan pernah semua tabungan di satu saham. Hari ini kita belajar dari dasar.

Raka tidak sendirian. Banyak orang membeli saham seperti membeli lotre: lihat angka hijau, ikut masuk. Modul ini mengajakmu melihat saham dari sisi yang benar dulu: sebagai kepemilikan usaha.

Apa yang sebenarnya kamu beli?

Saat membeli saham, kamu membeli bagian kepemilikan atas sebuah badan usaha. Bukan kode, bukan grafik. Perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa disebut emiten. Sebagai pemilik, kamu mendapat tiga hak.

HakIsinyaBatasnya
Hak atas sisa labaBagian laba yang dibagikan sebagai dividenHanya bila perusahaan memutuskan membagi. Tidak ada kewajiban.
Hak suaraSuara di RUPSBagi pemegang kecil, pengaruhnya praktis sangat kecil
Hak atas sisa asetBagian aset bila perusahaan dibubarkanPaling akhir, setelah semua pemberi pinjaman, pemegang obligasi, karyawan, dan negara

Perhatikan kata "sisa" muncul dua kali. Pemegang saham adalah pemilik residual: ia menerima apa yang tersisa setelah semua pihak lain dibayar.

Karena itu, di skenario baik, pemegang saham mendapat seluruh kelebihannya; potensi untungnya tidak terbatas. Di skenario buruk, pemegang saham yang pertama kehilangan segalanya; nilainya bisa menjadi nol. Inilah sebabnya saham punya imbal hasil harapan lebih tinggi, tetapi juga bisa jatuh jauh lebih dalam daripada obligasi.

Membeli saham berarti ikut memiliki bisnis, dengan posisi paling akhir dalam antrean. Untungnya bisa tak terbatas, ruginya bisa sampai nol.

Dari mana untung saham datang?

Imbal hasil saham berasal dari tiga sumber yang sifatnya sangat berbeda.

\[ \text{Imbal hasil saham} = \underbrace{\text{Imbal hasil dividen}}_{\text{arus kas}} + \underbrace{\text{Pertumbuhan laba}}_{\text{fundamental}} + \underbrace{\text{Perubahan penilaian pasar}}_{\text{sentimen}} \]

untungmu dari saham = uang dividen yang dibagikan + pertumbuhan laba usahanya + perubahan "suasana hati" pasar terhadap usaha itu.

SumberSifatnyaPaling berpengaruh di jangka
Imbal hasil dividenBisa diperkirakan, relatif stabilSemua jangka
Pertumbuhan labaBergantung kinerja usahaPanjang
Perubahan penilaianSangat naik-turun, tidak bisa ditebakPendek

Dalam jangka pendek, harga saham terutama bergerak karena perubahan perasaan pasar, bukan karena bisnisnya berubah. Dalam jangka panjang, dividen dan pertumbuhan laba yang dominan. Itulah alasan saham butuh jangka waktu panjang: hanya di jangka panjang, bagian yang bisa dianalisis menjadi penentu.

Untung saham = dividen + pertumbuhan laba + perubahan penilaian. Yang terakhir mendominasi jangka pendek dan tidak bisa ditebak. Karena itu saham cocok untuk uang yang tidak dibutuhkan bertahun-tahun.

Cara kerja Bursa Efek Indonesia

Saham diperjualbelikan di BEI (Bursa Efek Indonesia). Ada beberapa aturan dasar yang perlu kamu tahu.

IstilahAturan umumArtinya bagimu
Lot1 lot = 100 lembarModal minimum = harga × 100. Saham Rp3.250 butuh Rp325.000 per lot.
Fraksi harga (tick)Berbeda menurut kelompok hargaHarga hanya bisa naik-turun dengan langkah tertentu
PenyelesaianUmumnya T+2 hari bursaUang hasil jual tidak langsung tersedia hari itu
Papan pencatatanUtama, Pengembangan, Ekonomi Baru, Akselerasi, Pemantauan KhususMenunjukkan syarat pencatatan dan kondisi emiten
Auto rejectionBatas naik-turun harga harianPesanan di luar batas ditolak sistem
SuspensiPenghentian perdagangan sementaraSahammu tidak bisa dijual selama disuspensi

Sebuah saham bisa dipindah ke papan pemantauan khusus karena kondisi tertentu: harganya sangat rendah, sangat jarang diperdagangkan, opini auditor tertentu, atau kondisi keuangan tertentu. Cara perdagangannya bisa berbeda dari papan biasa. Satu penanda ini merangkum banyak risiko, jadi selalu periksa papannya.

Aturan lot, fraksi harga, auto rejection, papan, dan siklus penyelesaian ditetapkan BEI dan bisa berubah. Angka di modul ini ilustrasi; periksa peraturan bursa yang berlaku.

Rekening dan siapa menyimpan apa

Untuk membeli saham, kamu membuka rekening di perusahaan efek yang berizin OJK. Struktur penyimpanannya dirancang untuk melindungimu.

BagianFungsiCatatan keamanan
Perusahaan efekPerantara pesananCek izinnya di OJK sebelum membuka rekening
RDNMenyimpan uangmu di bank, atas namamuTerpisah dari rekening perusahaan efek
Sub-rekening efek di KSEIMenyimpan sahammuTerpisah dari aset perusahaan efek
SIDNomor identitas tunggal investorDipakai untuk memeriksa sendiri
Fasilitas investor KSEIMemeriksa kepemilikan secara mandiriWajib dipakai berkala

Perlindungan ini hanya bekerja kalau kamu memeriksanya. Kasus penyalahgunaan aset nasabah di berbagai negara umumnya ketahuan terlambat, karena nasabah hanya melihat aplikasi perantara. Aturannya: cek kepemilikanmu langsung di fasilitas resmi KSEI minimal sekali setiap tiga bulan, lalu cocokkan dengan laporan perantaramu.

SID adalah identitas tunggal. Walaupun kamu punya rekening di beberapa perusahaan efek, semua kepemilikan efekmu bisa kamu periksa dengan satu identitas itu di fasilitas resmi KSEI. Karena itu SID sangat berguna untuk memeriksa sendiri, tanpa bergantung pada aplikasi perantara.

1 lot = 100 lembar. Uang di RDN atas namamu, saham di sub-rekening KSEI atas namamu. Perusahaan efek hanya perantara. Periksa papan pencatatan sebelum membeli, dan periksa kepemilikanmu di KSEI tiap tiga bulan.

Biaya, pajak, dan harga impas

Setiap kali membeli, kamu membayar komisi perusahaan efek, biaya bursa dan lembaga terkait, serta PPN atas jasa. Setiap kali menjual, kamu membayar semua itu ditambah Pajak Penghasilan final atas nilai bruto penjualan.

Pajak final saat menjual dihitung dari nilai penjualan, bukan dari untungnya. Artinya, kamu tetap membayar pajak walaupun rugi. Ini membuat jual-beli yang sering jauh lebih mahal daripada yang dibayangkan.

Bagaimana dengan dividen? Dividen bagi orang pribadi dalam negeri bisa dikecualikan dari pajak bila memenuhi syarat tertentu, antara lain diinvestasikan kembali di Indonesia dalam jangka waktu tertentu dan dilaporkan. Bila syaratnya tidak dipenuhi, berlaku aturan pajak lain. Tarif dan syaratnya bisa berubah, jadi periksa ketentuan Direktorat Jenderal Pajak yang berlaku.

  1. Asumsi biaya (ilustrasi): komisi beli 0,15%, komisi jual 0,25%, PPh final 0,10% dari nilai penjualan.

  2. Beli 20 lot di Rp3.250. Nilai: 20 × 100 × 3.250 = Rp6.500.000. Komisi Rp9.750. Total dibayar Rp6.509.750.

  3. Jual di Rp3.400. Nilai: 20 × 100 × 3.400 = Rp6.800.000. Komisi Rp17.000 dan PPh Rp6.800. Total diterima Rp6.776.200.

  4. Laba bersih Rp6.776.200 − Rp6.509.750 = Rp266.450, atau 4,09%. Padahal harganya naik 4,62%. Biaya memakan 0,52 poin persen, lebih dari sepersepuluh untung kotornya.

  5. Harga impas: 3.250 × 1,0015 ÷ (1 − 0,0035) = Rp3.266,3. Harga harus naik sekitar 0,50% hanya agar tidak rugi.

  6. Kalau sering? Dua kali sebulan berarti 24 kali setahun. Biayanya 24 × 0,50% = 12% per tahun. Pak Reno harus mengalahkan pasar 12 poin per tahun hanya untuk menyamai orang yang membeli sekali lalu menahan.

\[ P_{\text{impas}} = P_{\text{beli}} \times \frac{1 + \text{komisi beli}}{1 - \text{komisi jual} - \text{PPh final}} \]

harga belimu ditambah biaya beli, lalu dibagi bagian yang tersisa setelah biaya jual. Hasilnya adalah harga jual terendah yang membuatmu tidak rugi.

Setiap transaksi punya biaya pasti, dan pajak penjualan dibayar walau rugi. Frekuensi transaksi adalah biaya, dan biaya adalah kerugian yang pasti. Hitung harga impas sebelum membeli.

Aksi korporasi: apa yang berubah, apa yang tidak

Aksi korporasi adalah keputusan perusahaan yang memengaruhi sahamnya. Ini bagian yang paling sering disalahpahami pemula. Kuncinya satu pertanyaan: apakah kekayaanku berubah, atau hanya bentuknya?

4 potong besar 16 potong kecil = martabaknya sama
Pemecahan saham seperti memotong martabak menjadi lebih banyak potongan. Potongannya bertambah, tetapi martabaknya tidak bertambah besar.

(a) Dividen tunai

Perusahaan membagikan sebagian laba sebagai uang. Pada tanggal tertentu yang disebut ex-date, harga saham secara teori turun sebesar dividen per lembar. Kenapa? Karena uang itu keluar dari perusahaan dan pindah ke kantongmu.

Yang berubah: bentuknya. Sebagian nilai pindah dari harga saham menjadi uang tunai. Yang tidak berubah: kekayaanmu saat itu (sebelum pajak dan biaya). Jadi strategi "beli menjelang ex-date demi dividen gratis" umumnya justru merugikan setelah dipotong pajak dan biaya transaksi.

(b) Pemecahan saham (stock split)

Satu lembar dipecah menjadi beberapa lembar. Harga per lembar turun sebanding. Yang berubah: jumlah lembar dan harga per lembar. Yang tidak berubah: nilai kepemilikanmu dan persentase kepemilikanmu. Manfaatnya hanya membuat saham lebih terjangkau per lot, yang bisa membuatnya lebih ramai diperdagangkan.

(c) Saham bonus

Kamu menerima saham tambahan tanpa membayar. Sumbernya biasanya dari pos modal atau laba ditahan perusahaan. Yang berubah: jumlah lembar. Yang tidak berubah: porsi kepemilikan dan nilai totalmu. Harganya menyesuaikan turun.

(d) HMETD: satu-satunya yang bisa merugikan kalau kamu diam

HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu) terjadi saat perusahaan menerbitkan saham baru. Saham baru itu ditawarkan lebih dulu kepada pemegang saham lama, biasanya di bawah harga pasar. Karena ada saham baru yang lebih murah, harga per lembar turun ke harga teoretis yang lebih rendah. Porsi kepemilikanmu juga menyusut bila tidak ikut membeli. Penyusutan ini disebut dilusi.

Kalau kamuAkibatnya
Menebus (membeli sesuai hakmu)Porsi kepemilikan terjaga; kamu menyetor uang tambahan
Menjual hakmu (bila bisa diperdagangkan)Porsi turun, tetapi kamu menerima uang kompensasi
Diam sajaPorsi terdilusi dan kamu tidak menerima kompensasi apa pun
\[ \text{Harga teoretis} = \frac{(\text{lembar lama} \times \text{harga lama}) + (\text{lembar baru} \times \text{harga pelaksanaan})}{\text{lembar lama} + \text{lembar baru}} \]

jumlahkan nilai semua saham lama dan uang yang disetor untuk saham baru, lalu bagi dengan jumlah lembar setelahnya. Contoh rasio 3:1 (tiap 3 saham lama berhak 1 saham baru), harga lama Rp800, harga pelaksanaan Rp400: (3 × 800 + 400) ÷ 4 = Rp700.

Ada pemberitahuan HMETD dari sekuritas. Ah, ribet. Abaikan saja, toh lembar sahamku tidak berkurang.

Lembarnya memang tetap, Pak. Tapi harganya turun ke harga teoretis. Kalau diam, Bapak rugi tanpa ganti apa pun.

HAH?

Jadi aku harus menebus atau menjual haknya?

Pilih salah satu. Yang terburuk adalah tidak memutuskan apa-apa.

  1. Awal. Bu Hesti punya 50 lot (5.000 lembar) di harga Rp2.000. Nilainya Rp10.000.000.

  2. Dividen Rp60 per lembar. Harga teoretis turun ke Rp1.940. Nilai saham 5.000 × 1.940 = Rp9.700.000, ditambah uang dividen Rp300.000. Total tetap Rp10.000.000. Hanya bentuknya yang berubah.

  3. Pemecahan 1:4. 5.000 lembar menjadi 20.000 lembar. Harga Rp1.940 menjadi Rp485. Nilai tetap Rp9.700.000. Jumlah lot naik dari 50 menjadi 200.

  4. Saham bonus 1:5 (1 saham bonus untuk tiap 5 saham). 20.000 lembar menjadi 24.000 lembar. Harga teoretis 20.000 × 485 ÷ 24.000 = Rp404,17. Nilai tetap Rp9.700.000.

  5. HMETD 2:1, harga pelaksanaan Rp300. Haknya 24.000 ÷ 2 = 12.000 saham baru. Harga teoretis: (9.700.000 + 12.000 × 300) ÷ 36.000 = Rp369,44.

  6. Kalau menebus: ia menyetor Rp3.600.000. Kekayaannya Rp13.300.000, sama dengan Rp9.700.000 + Rp3.600.000. Tidak untung, tidak rugi, porsi terjaga.

  7. Kalau diam: 24.000 × 369,44 = Rp8.866.667. Ia rugi Rp833.333 (−8,59%) hanya karena tidak memutuskan.

  8. Kalau menjual hak: nilai teoretis satu hak 404,17 − 369,44 = Rp34,72 per saham lama. Untuk 24.000 saham: Rp833.333. Persis menutup kerugian dilusi.

Rumus umum HMETD dan nilai hak

Untuk rasio \(m : 1\) (tiap \(m\) saham lama berhak membeli 1 saham baru) dengan harga lama \(P\) dan harga pelaksanaan \(X\):

\[ P_{\text{teoretis}} = \frac{m \times P + X}{m + 1} \qquad \text{Nilai hak per saham lama} = P - P_{\text{teoretis}} \]

Untuk Bu Hesti: \(m = 2\), \(P = 404{,}17\), \(X = 300\), sehingga \(P_{\text{teoretis}} = (2 \times 404{,}17 + 300)/3 \approx 369{,}44\) dan nilai hak \(\approx 34{,}72\) per saham lama. Pemegang yang diam kehilangan persis sebesar nilai hak itu dikali jumlah saham lamanya. Rumus ini juga menjelaskan kenapa makin murah harga pelaksanaan dibanding harga pasar, makin besar kerugian bila diam.

Dividen, pemecahan saham, dan saham bonus tidak mengubah kekayaanmu, hanya bentuknya. HMETD juga netral, asalkan kamu bertindak: menebus atau menjual hak. Kerugian datang dari kepasifan. Jangan pernah mengabaikan pemberitahuan HMETD.

Indeks: alat, bukan tujuan

Indeks saham adalah sekumpulan saham yang dipilih menurut kriteria tertentu, lalu dihitung sebagai satu angka. Indeks punya tiga kegunaan: sebagai tolok ukur untuk membandingkan kinerja, sebagai penyaring awal (indeks berkriteria likuiditas menyaring saham yang terlalu sepi), dan sebagai dasar produk seperti reksa dana indeks.

Salah pahamYang benar
"Masuk indeks berarti saham bagus"Kriteria indeks umumnya soal ukuran dan likuiditas, bukan kualitas usaha atau kewajaran harga
"Indeks mewakili ekonomi"Indeks mewakili perusahaan yang tercatat di bursa, yang bisa sangat berbeda dari struktur ekonomi
"Indeks naik berarti aku untung"Indeks adalah rata-rata tertimbang; portofoliomu bisa bergerak sangat berbeda

Di banyak pasar, termasuk Indonesia, indeks utama bisa sangat terpusat pada sedikit emiten dan sektor. Membeli produk berbasis indeks tidak otomatis berarti tersebar. Periksa isinya, jangan menebak dari namanya.

Memiliki bisnis vs memperdagangkan kode

Dua orang bisa membeli saham yang sama di hari yang sama, tetapi melakukan dua hal yang sama sekali berbeda.

Memiliki bisnis

Pertanyaan: berapa nilai bisnis ini?
Jangka: tahunan.
Sumber untung: laba dan pertumbuhannya.
Yang dipelajari: laporan keuangan, industri, manajemen.
Biaya transaksi: kecil, karena jarang bertransaksi.

VS

Memperdagangkan kode

Pertanyaan: ke mana harga bergerak?
Jangka: hari sampai bulan.
Sumber untung: perubahan penilaian pasar.
Yang dipelajari: struktur pasar, perilaku harga.
Biaya transaksi: besar, karena sering bertransaksi.

Keduanya sah. Invesmentpedia mengajarkan keduanya di jalur terpisah mulai Level 2: Jalur Investor dan Jalur Trader. Yang tidak sah adalah mencampurnya tanpa sadar. Misalnya membeli karena alasan bisnis, lalu menjual karena harga turun seminggu. Atau membeli untuk jangka pendek, lalu menahannya tiga tahun karena rugi dan menyebutnya "investasi jangka panjang".

Sebelum membeli, tuliskan peran apa yang sedang kamu mainkan (pemilik bisnis atau pedagang) dan apa yang akan membuatmu keluar. Menulis sebelum bertindak mencegahmu berganti alasan di tengah jalan.

Ukuran posisi: pagar pengaman pemula

Sebelum belajar menganalisis saham di Level 2, kamu butuh pagar pengaman berupa angka. Tiga batas ini sengaja dibuat hati-hati.

BatasAturan Level 1Tujuannya
Per sahamMaksimum 5% dari nilai portofolio investasiMembatasi kerusakan dari satu kesalahan
Semua saham individualMaksimum 30% dari nilai portofolio investasiSisanya di produk terkelola atau pendapatan tetap
Terhadap likuiditasMaksimum 1% dari nilai transaksi harian rata-rata 20 hariAgar posisimu bisa dijual tanpa menekan harga

Kenapa 5%? Kalau satu saham kehilangan seluruh nilainya, portofoliomu turun 5%. Sakit, tetapi bisa dipulihkan dengan kenaikan 5,3%. Kalau bobotnya 40%, kehilangan total butuh kenaikan 67% untuk pulih, dan kemungkinan besar merusak seluruh rencana keuanganmu.

\[ \text{Kenaikan untuk pulih} = \frac{1}{1 - \text{penurunan portofolio}} - 1 \]

kalau portofolio turun 20%, sisa 80%. Untuk kembali ke 100%, butuh 1 ÷ 0,80 − 1 = 25%, bukan 20%. Makin dalam jatuhnya, makin berat naiknya.

  1. Portofolio Mas Galih Rp400.000.000. Ia menimbang posisi 5% (Rp20 juta), 20% (Rp80 juta), atau 45% (Rp180 juta).

  2. Skenario A, saham naik 120%: portofolio naik +6,0%, +24,0%, atau +54,0%.

  3. Skenario B, saham turun 85%: portofolio turun −4,25%, −17,0%, atau −38,25%. Untuk pulih butuh naik +4,44%, +20,48%, atau +61,94%.

  4. Nilai harapan. Andaikan peluang A 30% dan B 70% (asumsi, bukan ramalan): 0,30 × 120% + 0,70 × (−85%) = −23,5%. Negatif di ketiga ukuran posisi.

  5. Pelajaran. Ukuran posisi tidak mengubah kualitas keputusan. Ia hanya mengubah seberapa cepat kesalahan menghancurkanmu. Di 5%, Mas Galih bisa salah dua puluh kali dan tetap bertahan untuk belajar. Di 45%, satu kesalahan butuh kenaikan 61,94% untuk pulih.

Pemula dan ahli tidak dibedakan oleh hebatnya ide, tetapi oleh ukuran taruhannya atas ide yang belum teruji. Pegang batas 5% per saham, 30% untuk semua saham individual, dan 1% dari nilai transaksi harian.

Mitos atau fakta?

Ketuk setiap kartu untuk membaliknya.

"Beli menjelang ex-date, dapat dividen gratis."

Harga turun kira-kira sebesar dividen pada ex-date. Setelah pajak dan biaya, strategi ini umumnya rugi.

"Pemecahan saham bikin sahamku makin bernilai."

Lembar bertambah, harga per lembar turun sebanding. Nilai dan porsi kepemilikanmu tetap.

"Kalau tidak ikut HMETD, ya sudah, tidak ada efeknya."

Harga turun ke harga teoretis dan porsimu terdilusi tanpa kompensasi. Tebus atau jual hakmu.

"Kalau rugi, aku tidak bayar pajak saat menjual."

PPh final dihitung dari nilai bruto penjualan, dibayar walaupun rugi.

"Saham yang masuk indeks pasti saham bagus."

Kriteria indeks umumnya ukuran dan likuiditas, bukan kualitas usaha atau kewajaran harga.

Cek pemahamanmu

Latihan singkat ini tidak dinilai. Kuis resmi modul ada di bagian akhir halaman.

1. Saham seharga Rp1.500. Berapa uang minimal untuk membeli 1 lot (di luar biaya)?

  1. Rp1.500
  2. Rp15.000
  3. Rp150.000
  4. Rp1.500.000

1 lot = 100 lembar. 100 × Rp1.500 = Rp150.000.

2. Kamu punya 2.000 lembar di harga Rp3.000. Terjadi saham bonus 1:4 (1 bonus tiap 4 saham). Berapa harga teoretisnya?

  1. Rp3.000, harga tidak berubah
  2. Rp2.400
  3. Rp750
  4. Rp2.250

Lembar menjadi 2.500. Nilai tetap Rp6.000.000. Harga = 6.000.000 ÷ 2.500 = Rp2.400.

3. Pada ex-date dividen Rp50 per lembar, harga saham Rp1.000. Secara teori, apa yang terjadi?

  1. Harga naik ke Rp1.050
  2. Harga tetap, kamu untung Rp50 per lembar
  3. Harga turun ke Rp500
  4. Harga turun ke sekitar Rp950; kekayaanmu tetap

Dividen berpindah dari perusahaan ke kantongmu. Harga turun sebesar dividen; total kekayaan (sebelum pajak) tetap.

4. Portofolio Rp100 juta. Satu saham berbobot 10% turun 50%. Portofoliomu turun berapa?

  1. 5%
  2. 50%
  3. 10%
  4. 60%

10% × 50% = 5% (Rp5 juta). Untuk pulih butuh 1 ÷ 0,95 − 1 ≈ 5,3%.

5. Apa beda paling mendasar memiliki bisnis dan memperdagangkan kode?

  1. Yang satu memakai aplikasi, yang lain tidak
  2. Memiliki bisnis selalu lebih untung
  3. Pertanyaan utamanya: nilai bisnis vs arah harga
  4. Memperdagangkan kode tidak kena biaya

Pemilik bisnis bertanya berapa nilai usahanya; pedagang bertanya ke mana harga bergerak. Keduanya sah, asal tidak dicampur tanpa sadar.

Ringkasan dan kamus mini

1. Saham = sepotong bisnis. Pemegang saham adalah pemilik residual.
2. Untung = dividen + pertumbuhan laba + perubahan penilaian. Jangka pendek didominasi sentimen.
3. 1 lot = 100 lembar; penyelesaian T+2; cek papan pencatatan; cek kepemilikan di KSEI tiap tiga bulan.
4. Pajak penjualan dibayar walau rugi. Hitung harga impas.
5. Dividen, pemecahan, dan saham bonus tidak mengubah kekayaan. HMETD merugikan bila kamu diam.
6. Indeks adalah alat; masuk indeks bukan berarti bagus.
7. Tulis peranmu: pemilik bisnis atau pedagang.
8. Batas Level 1: 5% per saham, 30% semua saham individual, 1% nilai transaksi harian.

Saham
Bukti kepemilikan sebagian atas perusahaan.
Emiten
Perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa.
Pemilik residual
Pihak yang menerima sisa setelah semua pihak lain dibayar.
Lot
Satuan perdagangan: 100 lembar.
Fraksi harga
Langkah perubahan harga terkecil yang diperbolehkan.
T+2
Penyelesaian transaksi dua hari bursa setelah transaksi.
Auto rejection
Batas naik-turun harga harian.
RDN
Rekening Dana Nasabah atas namamu di bank.
Ex-date
Tanggal saham diperdagangkan tanpa hak dividen.
Pemecahan saham
Satu lembar dipecah jadi beberapa; nilai tetap.
Saham bonus
Saham tambahan tanpa membayar; nilai total tetap.
HMETD
Hak membeli saham baru lebih dulu, biasanya di bawah harga pasar.
Dilusi
Menyusutnya porsi kepemilikan atau nilai per lembar karena saham baru.
Ukuran posisi
Seberapa besar bagian portofolio di satu saham.

Materi ini untuk pendidikan, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham apa pun. Tarif biaya dan pajak adalah ilustrasi; periksa ketentuan yang berlaku. Hasil investasi tidak dijamin.

Selesai membaca? Mantap!

Uji pemahamanmu dengan kuis modul (4 soal). Skor terbaiknya dihitung 20% dari nilai akhir jenjang. Ingin rincian, rumus lengkap, dan latihan tambahan? Buka naskah lengkap modul ini.