Level 1 · Investor Mandiri · Modul 3
Meminjami Negara lewat SBN Ritel
Kamu bisa meminjamkan uang kepada negara mulai sekitar Rp1 juta, lalu menerima kupon setiap bulan. Kedengarannya sempurna. Tapi ada empat jenis yang sifatnya berbeda, ada pajak yang memotong kupon, dan ada penipu yang menyamar sebagai "agen jatah khusus". Yuk, kenali semuanya.
Ibu Raka ingin meminjami negara
Setelah modul ini, kamu bisa
- membedakan empat jenis SBN ritel (ORI, SBR, SR, ST) dari sifat kupon dan bisa-tidaknya dijual;
- menjelaskan beda obligasi negara dan sukuk negara dari strukturnya, bukan sekadar namanya;
- menghitung kupon bersih setelah pajak dan imbal hasil riil, termasuk kupon yang mengambang;
- tahu cara membeli yang aman dan mengenali tanda penipuan;
- memilih seri yang cocok dengan tujuan dan waktu kebutuhan, termasuk berani bilang "bukan untuk tujuan ini".
Kak, Ibu mau beli SBN ritel. Tapi ada yang chat: "jatah ORI kupon lebih tinggi, transfer ke rekening saya saja."
Jatahnya terbatas lho! Harga khusus, cuma lewat Om. Kirim juga kode OTP-nya biar cepat.
Stop! Pembayaran SBN tidak pernah ke rekening pribadi. Selalu ke kas negara lewat kode billing.
Untung belum ditransfer!
AWAS!Yuk kita pelajari dulu: jenisnya apa saja, cara hitung untungnya, dan cara beli yang benar.
Di modul sebelumnya kamu belajar bahwa obligasi adalah pinjaman yang bisa dijual. Sekarang kita bahas versi yang paling mudah dijangkau orang biasa di Indonesia: SBN ritel. Artinya surat berharga yang diterbitkan pemerintah khusus untuk investor perorangan seperti ibumu, atau kamu kelak.
Kenapa SBN ritel banyak dilirik?
SBN ritel menggabungkan beberapa ciri yang jarang ada bersamaan pada satu instrumen untuk orang biasa.
| Ciri | Penjelasan sederhana |
|---|---|
| Penerbit | Pemerintah Republik Indonesia. Risiko gagal bayar dalam rupiah sangat rendah. |
| Modal minimum | Sangat terjangkau, umumnya mulai Rp1 juta. |
| Imbal hasil | Umumnya di atas bunga deposito bank untuk jangka waktu yang sebanding. |
| Pajak | Tarif pajak final atas kupon lebih rendah daripada tarif atas bunga deposito. |
| Arus kas | Kupon dibayar setiap bulan. Cocok untuk kebutuhan rutin. |
| Cara beli | Daring, lewat mitra distribusi resmi. |
Karena ciri-ciri di atas, SBN ritel sering disebut "investasi tanpa risiko". Itu keliru. SBN ritel hampir bebas risiko gagal bayar, tetapi tetap punya risiko lain:
- Risiko suku bunga untuk seri yang bisa dijual: harganya turun bila suku bunga naik.
- Risiko inflasi: setelah kenaikan harga barang, untung riilnya bisa mendekati nol.
- Risiko likuiditas: seri tertentu tidak bisa dijual sama sekali sebelum jatuh tempo.
- Risiko reinvestasi: pada seri berkupon mengambang, kupon bisa turun (sampai batas tertentu).
SBN ritel menarik karena penerbitnya negara, modalnya kecil, pajaknya lebih ringan, dan kuponnya bulanan. Tapi "hampir pasti dibayar" tidak sama dengan "tanpa risiko". Risiko suku bunga, inflasi, likuiditas, dan reinvestasi tetap ada.
Empat saudara: ORI, SBR, SR, ST
SBN ritel punya empat jenis. Cara termudah mengingatnya adalah dengan dua pertanyaan. Pertama, konvensional atau syariah? Kedua, kuponnya tetap atau mengambang?
| ORI | SBR | SR | ST | |
|---|---|---|---|---|
| Nama | Obligasi Negara Ritel | Savings Bond Ritel | Sukuk Ritel | Sukuk Tabungan |
| Prinsip | Konvensional | Konvensional | Syariah | Syariah |
| Kupon | Tetap | Mengambang, ada batas bawah | Tetap | Mengambang, ada batas bawah |
| Bisa dijual di pasar sekunder? | Ya | Tidak | Ya | Tidak |
| Cara cair lebih awal | Dijual di pasar | Pencairan awal terbatas | Dijual di pasar | Pencairan awal terbatas |
| Harga naik-turun? | Ya | Tidak | Ya | Tidak |
| Tenor umum | 3 tahun (ada yang lebih panjang) | 2 tahun | 3 tahun (ada yang lebih panjang) | 2 tahun (ada yang lebih panjang) |
Kamu mungkin pernah dengar kode seperti FR, VR, PBS, atau SPN. Itu juga surat berharga negara, tetapi bukan seri ritel. Yang khusus untuk investor perorangan adalah empat saudara tadi: ORI, SBR, SR, dan ST.
Satu pertanyaan penentu
Sebelum memilih, tanyakan pada dirimu: "Apakah aku mungkin butuh uang ini sebelum jatuh tempo?"
| Jawabanmu | Artinya |
|---|---|
| Tidak, pasti kupegang sampai jatuh tempo | Keempatnya bisa. Pilih tetap atau mengambang sesuai pandanganmu soal suku bunga. |
| Mungkin perlu dicairkan | ORI/SR bisa dijual, tetapi harganya bisa di bawah nominal. SBR/ST punya pencairan awal terbatas di nilai nominal. |
| Pasti butuh bisa diambil kapan saja | Bukan SBN ritel. Pakai instrumen pasar uang. |
ORI dan SR: kupon tetap, bisa dijual, harganya bisa naik-turun. SBR dan ST: kupon mengambang berbatas bawah, tidak bisa dijual, nilainya tidak naik-turun. Untuk tujuan dengan tanggal pasti, seri yang tidak bisa dijual justru sering lebih cocok.
Kupon tetap vs kupon mengambang
Kupon tetap (ORI dan SR) dikunci sejak awal sampai jatuh tempo. Ini menguntungkan bila suku bunga turun setelah kamu membeli, karena kamu tetap menikmati kupon lama yang lebih tinggi. Tapi merugikan bila suku bunga naik. Kamu terkunci di tingkat lama, dan kalau dijual, harganya turun.
Kupon mengambang dengan batas bawah (SBR dan ST) disesuaikan berkala mengikuti suku bunga acuan ditambah selisih tetap. Tetapi kupon itu tidak pernah turun di bawah kupon pertamanya. Kupon pertama itu disebut batas bawah.
- \(\max(a, b)\)
- pilih yang lebih besar di antara dua angka
- Acuan
- suku bunga acuan pada saat penyesuaian
- Selisih
- tambahan tetap yang ditentukan sejak penerbitan
- Batas bawah
- kupon minimum, biasanya sama dengan kupon pertama
jumlahkan acuan dan selisih, lalu bandingkan dengan batas bawah. Ambil yang lebih besar. Acuan 5,50% + selisih 1,30% = 6,80%, lebih besar dari batas bawah 6,40%, jadi kupon 6,80%. Kalau acuan turun ke 4,20%, hasilnya 5,50%, di bawah batas, jadi kupon tetap 6,40%.
Pak Bima membeli SBR Rp100.000.000. Kupon awal 6,15% (sekaligus batas bawah). Rumusnya acuan + 1,40%, minimal 6,15%. Acuan saat terbit 4,75%. Kupon disesuaikan tiap 3 bulan. Tenor 2 tahun. Pajak final (ilustrasi) 10%.
Kupon bersih per 3 bulan = Rp100 juta × kupon ÷ 4 × 90%. Pada kupon 6,15%: Rp100.000.000 × 6,15% ÷ 4 × 0,9 = Rp1.383.750.
Skenario A: acuan naik bertahap 4,75% → 5,25% → 5,75% → 6,25%, lalu bertahan. Kuponnya ikut naik: 6,15% → 6,65% → 7,15% → 7,65%. Total kupon bersih 2 tahun Rp13.095.000, rata-rata 6,55% per tahun.
Skenario B: acuan turun bertahap ke 3,25%. Acuan + 1,40% selalu di bawah 6,15%, jadi kupon tertahan di 6,15%. Total kupon bersih Rp11.070.000, rata-rata 5,54% per tahun. Hasil yang sama juga didapat bila acuan diam di 4,75%.
Bandingkan dengan kupon tetap 6,15%. Hasilnya selalu Rp11.070.000 di semua skenario. Sama dengan skenario turun dan diam, tetapi kehilangan Rp2.025.000 di skenario naik.
Kalau kupon awalnya sebanding, kupon mengambang berbatas bawah tidak pernah lebih buruk daripada kupon tetap, dilihat dari sisi kupon. Ini tidak gratis. Gantinya, tenornya lebih pendek dan tidak ada peluang untung dari kenaikan harga saat suku bunga turun tajam.
Rincian hitungan dan risiko harga ORI/SR
Skenario A per triwulan: kupon 6,15%, 6,65%, 7,15%, lalu 7,65% selama lima triwulan. Kupon bersihnya Rp1.383.750 + Rp1.496.250 + Rp1.608.750 + 5 × Rp1.721.250 = Rp13.095.000. Dibagi 2 tahun dan dibagi Rp100 juta: \(13.095.000 / 2 / 100.000.000 \approx 6{,}55\%\) per tahun. Skenario B: \(8 \times 1.383.750 = 11.070.000\), atau \(5{,}54\%\) per tahun.
Seri kupon tetap yang dijual sebelum jatuh tempo tunduk pada rumus durasi dari modul sebelumnya, \(\Delta P \approx -D_{\text{mod}} \times \Delta y\). Contoh: ORI berdurasi 2,7 tahun, imbal hasil pasar naik 1,5 poin, maka harganya turun sekitar \(2{,}7 \times 1{,}5 = 4{,}05\%\). SBR/ST tidak punya harga pasar, jadi rumus ini tidak berlaku untuknya.
Jadi pilih yang mana?
| Menurutmu, suku bunga akan… | Pilihan yang lebih cocok |
|---|---|
| Turun | Kupon tetap: mengunci tingkat tinggi, plus peluang harga naik |
| Naik | Kupon mengambang: kupon ikut naik, tanpa rugi harga |
| Tidak tahu | Kupon mengambang berbatas bawah, atau bagi dua ke keduanya |
Jawaban jujur bagi hampir semua orang adalah "tidak tahu". Menebak arah suku bunga itu sulit, bahkan bagi para ahli. Membagi uang ke kedua jenis bukan tanda ragu-ragu. Itu keputusan cerdas: kamu bersiap untuk beberapa kemungkinan, bukan bertaruh pada satu tebakan.
Sukuk: beda struktur, bukan sekadar label
Sukuk negara, atau SBSN, bukan obligasi yang ditempeli label syariah. Hubungan hukumnya berbeda.
Obligasi konvensional
Hubungannya utang-piutang. Kamu meminjamkan uang, negara membayar bunga atas pinjaman itu. Tidak ada aset tertentu yang mendasarinya.
Sukuk negara
Hubungannya kepemilikan atau penyewaan atas aset. Ada aset dasar, misalnya Barang Milik Negara atau proyek. Kamu menerima imbalan dari akad, umumnya akad ijarah (sewa).
| Obligasi konvensional | Sukuk negara | |
|---|---|---|
| Dasar imbal hasil | Bunga atas pinjaman | Imbalan atas penyewaan aset (akad ijarah) |
| Aset dasar | Tidak ada | Ada: Barang Milik Negara atau proyek |
| Penggunaan dana | Umum | Umumnya terkait pembiayaan proyek tertentu |
| Kepatuhan syariah | — | Perlu opini kesesuaian syariah dari otoritas fatwa |
Kalau kamu tidak mempertimbangkan aspek syariah, beda ekonominya kecil. Imbal hasil ORI dan SR yang ditawarkan di waktu berdekatan umumnya sebanding. Kamu bisa memilih berdasarkan tenor, jenis kupon, dan waktu penawaran. Kalau kamu mempertimbangkan aspek syariah, beda strukturnya penting dan menjadi dasar pilihan.
Sukuk dan obligasi berbeda di struktur hukumnya: sukuk berbasis akad atas aset dan memberi imbalan, obligasi berbasis utang dan memberi bunga. Tidak ada yang otomatis "lebih baik". Itu soal struktur dan pilihan pribadi. Penilaian kesesuaian syariah adalah wewenang otoritas fatwa.
Pajak dan kupon bersih
Kupon SBN dikenai pajak penghasilan final bagi orang pribadi dalam negeri. Tarifnya lebih rendah daripada pajak final atas bunga deposito. Ada tiga hal yang perlu kamu pahami:
- Pajaknya dipotong otomatis. Kupon yang masuk ke rekeningmu sudah bersih.
- Final berarti selesai, tidak digabung dengan penghasilan lain. Tetapi tetap wajib dilaporkan di SPT Tahunan sebagai penghasilan yang sudah kena pajak final.
- Untung dari menjual di pasar sekunder juga kena pajak, dengan aturan yang berbeda dari kupon. Periksa ketentuannya.
Di modul ini, pajak kupon SBN dicontohkan 10% dan pajak bunga deposito 20%. Ini angka ilustrasi untuk belajar. Tarif ditetapkan peraturan dan bisa berubah. Selalu cek tarif yang berlaku di Direktorat Jenderal Pajak dan di memorandum informasi seri yang mau kamu beli.
Hitung sampai imbal hasil riil
Kebiasaan investor yang baik: jangan berhenti di angka kupon. Hitung terus sampai imbal hasil riil bersih, yaitu untung setelah pajak dan setelah inflasi. Rumusnya sudah kamu kenal:
tambahkan 1 ke imbal hasil bersih dan ke inflasi, bagi keduanya, lalu kurangi 1. Kupon bersih 5,76% dan inflasi 3,20%: 1,0576 ÷ 1,0320 − 1 = 2,48%.
Bu Melati membeli ORI Rp150.000.000. Kupon 6,40% per tahun dibayar bulanan. Tenor 3 tahun. Pajak final (ilustrasi) 10%. Inflasi diandaikan 3,20%.
Kupon kotor per bulan. Rp150.000.000 × 6,40% = Rp9.600.000 setahun. Dibagi 12 = Rp800.000.
Kupon bersih per bulan. Pajak Rp800.000 × 10% = Rp80.000. Yang masuk ke rekening Rp720.000.
Selama 3 tahun. Setahun Rp8.640.000. Tiga tahun (36 bulan) Rp25.920.000. Ditambah pokok Rp150.000.000, total yang diterima Rp175.920.000.
Imbal hasil bersih. Rp8.640.000 ÷ Rp150.000.000 = 5,76%. Imbal hasil riil: 1,0576 ÷ 1,0320 − 1 = 2,48% per tahun.
Tafsir. Yang diiklankan 6,40%. Yang benar-benar menambah daya beli 2,48%, kurang dari 40% angka iklannya. Ini bukan berarti ORI jelek. Untung riil 2,48% dengan risiko gagal bayar sangat rendah itu wajar. Yang penting adalah kebiasaan menghitung sampai angka riil.
Pajak bisa membalik peringkat
Bandingkan dengan deposito berbunga sama, 6,40%, tetapi pajak final 20%. Bunga bersihnya 6,40% × 80% = 5,12%. Riilnya 1,0512 ÷ 1,0320 − 1 = 1,86%. Selisihnya dengan ORI 0,62 poin per tahun, murni dari beda tarif pajak. Keunggulan ini pasti, tanpa tambahan risiko.
Bahkan bunga kotor yang lebih tinggi bisa kalah setelah pajak. Itu sebabnya perbandingan instrumen selalu dilakukan setelah pajak.
Selalu bandingkan instrumen setelah pajak, lalu setelah inflasi. Struktur pajak adalah salah satu dari sedikit hal yang bisa kamu kendalikan. Selisih tarif beberapa poin persen bisa membalik mana yang lebih menguntungkan.
Cara membeli yang benar dan aman
Membeli SBN ritel itu mudah, tetapi harus lewat jalur resmi. Ada tiga tahap.
Tahap 1: Persiapan (cukup sekali)
- Pilih mitra distribusi resmi. Daftarnya diterbitkan Kementerian Keuangan (Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko) untuk setiap seri.
- Buka rekening di mitra distribusi itu.
- Dapatkan SID (Single Investor Identification) dari KSEI. Ini nomor identitas tunggalmu sebagai investor.
- Siapkan rekening dana dan rekening surat berharga.
Tahap 2: Memesan (setiap seri)
- Baca memorandum informasi seri itu: tenor, kupon, tanggal penting, dan ketentuannya.
- Pesan selama masa penawaran.
- Kamu akan menerima kode pembayaran (billing) yang masa berlakunya terbatas.
- Bayar lewat kanal resmi. Kamu akan menerima NTPN (Nomor Transaksi Penerimaan Negara) sebagai bukti uangmu masuk ke kas negara.
- Terima konfirmasi kepemilikan setelah tanggal penyelesaian transaksi (setelmen).
Tahap 3: Periksa sendiri (wajib)
Cek kepemilikanmu langsung lewat fasilitas resmi KSEI, jangan hanya lewat aplikasi mitra distribusi. Memeriksa dari sumber yang berbeda adalah kebiasaan keamanan yang penting.
| Tanda bahaya | Kenapa berbahaya |
|---|---|
| Diminta transfer ke rekening pribadi | Pembayaran SBN selalu ke kas negara lewat kode billing, tidak pernah ke rekening perorangan. |
| Ditawari "harga khusus" atau "jatah terbatas" oleh perorangan | Pemesanan dilakukan sendiri lewat mitra distribusi resmi. |
| Diminta akses akun atau kode OTP | Tidak ada pihak mana pun yang perlu kode itu. |
| Mitra distribusinya tidak ada di daftar resmi seri itu | Daftar mitra berbeda-beda tiap seri. Cek setiap kali. |
Beli hanya lewat mitra distribusi resmi yang ada di daftar seri itu. Bayar hanya dengan kode billing ke kas negara dan simpan NTPN-nya. Lalu periksa sendiri kepemilikanmu di KSEI. Tawaran "jatah khusus" lewat rekening pribadi: tolak dan laporkan.
Pencairan awal bukan dana darurat
SBR dan ST tidak bisa dijual. Sebagai gantinya ada fasilitas pencairan awal (early redemption). Syaratnya umumnya:
- Baru bisa diajukan setelah masa kepemilikan minimum.
- Hanya sebagian dari jumlah yang kamu punya, tidak seluruhnya.
- Hanya pada periode pengajuan tertentu.
- Ada jumlah kepemilikan minimum agar boleh mengajukan.
- Dicairkan pada nilai nominal, jadi tanpa risiko harga.
Ketentuannya bisa berbeda antarseri. Selalu baca memorandum informasi seri yang bersangkutan, jangan mengandalkan pengalaman seri sebelumnya.
Dana daruratku Rp100 juta kutaruh di SBR saja. Kuponnya lebih tinggi, toh bisa dicairkan awal.
Pencairan awal ada masa tunggu, jendela waktu, dan batas jumlah, Pak. Kalau darurat datang besok?
Wah, berarti aku harus menunggu periode pengajuan berikutnya?
Betul. Dana darurat harus cair dalam hitungan hari. Taruh di pasar uang atau deposito.
Contoh: satu orang, tiga tujuan
Bu Ratih punya Rp400.000.000 untuk tiga tujuan. Lihat bagaimana tiap tujuan dicocokkan dengan instrumennya.
| Tujuan | Jumlah | Kapan dibutuhkan | Pilihan |
|---|---|---|---|
| Dana darurat tahap dua | Rp100.000.000 | Sewaktu-waktu | Bukan SBN ritel. Reksa dana pasar uang atau deposito bertingkat. |
| Biaya pernikahan anak | Rp150.000.000 | Pasti, 3 tahun lagi | Seri tenor 3 tahun, dipegang sampai jatuh tempo. Dibagi dua: Rp75 juta kupon tetap, Rp75 juta kupon mengambang. |
| Penghasilan tambahan orang tua | Rp150.000.000 | Terus-menerus | Seri apa pun dengan kupon bulanan. |
Dana darurat ditolak dari SBN ritel. Pencairan awal punya masa tunggu, jendela pengajuan, dan batas jumlah. Dana darurat harus cair dalam hitungan hari.
Biaya pernikahan. Karena dipegang sampai jatuh tempo, risiko harga tidak relevan. Yang penting, jatuh temponya sebelum tanggal kebutuhan. Karena Bu Ratih tidak tahu arah suku bunga, ia membaginya ke kupon tetap dan mengambang.
Penghasilan orang tua. Ini kegunaan yang paling pas untuk SBN ritel. Dengan kupon bersih 5,76%: Rp150.000.000 × 5,76% ÷ 12 = Rp720.000 per bulan.
Pelajarannya. Berani berkata "instrumen ini bagus, tetapi tidak untuk tujuan itu" adalah tanda investor yang matang. Waktu kebutuhan menentukan instrumen.
Pencairan awal SBR/ST punya masa tunggu, jendela waktu, dan batas jumlah. Karena itu ia bukan pengganti dana darurat. SBN ritel paling cocok untuk tujuan bertanggal pasti dan untuk penghasilan bulanan yang rutin.
Untuk tujuan sangat panjang, misalnya pensiun 25 tahun lagi, menaruh semua uang di SBN ritel karena "aman" juga kurang tepat. Setelah pajak dan inflasi, untung riilnya tipis. Dalam jangka sangat panjang, tujuan seperti itu biasanya butuh pertumbuhan dari aset lain juga.
Mitos atau fakta?
Ketuk setiap kartu untuk membaliknya.
"SBN ritel itu investasi tanpa risiko."
Hampir bebas risiko gagal bayar, tetapi tetap ada risiko suku bunga (ORI/SR), inflasi, likuiditas, dan reinvestasi.
"SBR dan ST lebih jelek karena tidak bisa dijual."
Justru karena tidak bisa dijual, nilainya tidak naik-turun. Cocok untuk tujuan bertanggal pasti.
"Sukuk cuma obligasi biasa yang diberi label syariah."
Strukturnya berbeda: sukuk berbasis akad atas aset dasar dan memberi imbalan, bukan bunga utang.
"Kupon 6,4% pasti sama dengan deposito 6,4%."
Setelah pajak berbeda. Dengan tarif ilustrasi 10% vs 20%, bersihnya 5,76% vs 5,12%.
"Ada agen yang bisa memberi jatah ORI berkupon lebih tinggi."
Itu tanda penipuan. Kupon sama untuk semua pembeli seri itu, dan pembayaran selalu ke kas negara lewat kode billing.
Cek pemahamanmu
Latihan singkat ini tidak dinilai. Kuis resmi modul ada di bagian akhir halaman.
1. Nominal Rp80 juta, kupon 6,25% per tahun, pajak final 10%. Berapa kupon bersih per bulan?
- Rp416.667
- Rp333.333
- Rp375.000
- Rp450.000
Rp80.000.000 × 6,25% = Rp5.000.000 setahun. Dikali 90% = Rp4.500.000. Dibagi 12 = Rp375.000.
2. Acuan 5,50%, selisih 1,30%, batas bawah 6,40%. Berapa kupon yang berlaku?
- 6,80%
- 6,40%
- 5,50%
- 7,70%
Acuan + selisih = 6,80%. Lebih besar dari batas bawah, jadi kupon 6,80%.
3. Kamu butuh uang yang pasti bisa diambil kapan saja. Pilihan yang tepat?
- SBR, karena ada pencairan awal
- ORI, karena bisa dijual di pasar sekunder
- ST, karena kuponnya tidak bisa turun
- Bukan SBN ritel, melainkan instrumen pasar uang
Pencairan awal ada jendela waktu dan batas jumlah. ORI bisa dijual, tetapi harganya bisa di bawah nominal. Kebutuhan likuid penuh cocok dengan instrumen pasar uang.
4. Seseorang meminta kamu mentransfer uang ke rekening pribadinya untuk "jatah ORI". Langkahmu?
- Transfer, asal ia menunjukkan KTP
- Tolak dan laporkan; pesan sendiri lewat mitra distribusi resmi
- Transfer separuhnya dulu untuk mengetes
- Minta ia mengirim kode billing ke rekeningnya sendiri
Pembayaran SBN tidak pernah ke rekening perorangan. Pesan sendiri lewat mitra resmi dan bayar dengan kode billing.
5. Kupon 5,95%, pajak final 10%, inflasi 3,4%. Kira-kira berapa imbal hasil riil bersihnya?
- 2,55%
- 5,36%
- 1,89%
- −0,40%
Bersih 5,95% × 90% = 5,355%. Riil: 1,05355 ÷ 1,034 − 1 = 1,89%.
Ringkasan dan kamus mini
1. SBN ritel: penerbit negara, modal kecil, pajak lebih ringan, kupon bulanan. Tetap ada risiko selain gagal bayar.
2. ORI dan SR: kupon tetap, bisa dijual. SBR dan ST: kupon mengambang berbatas bawah, tidak bisa dijual.
3. Kupon mengambang = max(acuan + selisih, batas bawah).
4. Sukuk berbasis akad atas aset; obligasi berbasis utang.
5. Bandingkan setelah pajak, lalu setelah inflasi.
6. Beli lewat mitra resmi, bayar dengan kode billing, cek di KSEI.
7. Pencairan awal bukan dana darurat.
- SBN ritel
- Surat berharga negara khusus investor perorangan.
- ORI
- Obligasi Negara Ritel: kupon tetap, bisa diperdagangkan.
- SBR
- Savings Bond Ritel: kupon mengambang berbatas bawah, tidak bisa diperdagangkan.
- SR
- Sukuk Ritel: imbalan tetap, bisa diperdagangkan.
- ST
- Sukuk Tabungan: imbalan mengambang berbatas bawah, tidak bisa diperdagangkan.
- Batas bawah (floor)
- Kupon minimum yang dijamin pada seri mengambang.
- Suku bunga acuan
- Suku bunga patokan untuk menyesuaikan kupon mengambang.
- Akad ijarah
- Akad sewa yang umum menjadi dasar imbalan sukuk negara.
- Pajak final
- Pajak yang dipotong langsung dan dianggap lunas, tetap dilaporkan di SPT.
- Mitra distribusi
- Pihak resmi yang ditunjuk Kementerian Keuangan untuk menjual seri tertentu.
- SID
- Nomor identitas tunggal investor dari KSEI.
- Kode billing dan NTPN
- Kode pembayaran ke kas negara dan bukti penerimaannya.
- Pencairan awal
- Fasilitas mencairkan sebagian SBR/ST sebelum jatuh tempo, dengan syarat.
Materi ini untuk pendidikan, bukan rekomendasi membeli atau menjual produk apa pun. Tarif pajak dan angka-angka adalah ilustrasi; periksa ketentuan resmi yang berlaku. Hasil investasi tidak dijamin.
Selesai membaca? Mantap!
Uji pemahamanmu dengan kuis modul (4 soal). Skor terbaiknya dihitung 20% dari nilai akhir jenjang. Ingin rincian, rumus lengkap, dan latihan tambahan? Buka naskah lengkap modul ini.