Level 1 · Investor Mandiri · Modul 2
Meminjamkan Uang, Dibayar Bunga
Obligasi sering disebut "investasi aman". Tapi kenapa obligasi negara bisa turun belasan persen dalam setahun? Kenapa "kupon 9%" bisa berarti untung cuma 7%? Di modul ini kamu belajar membaca surat utang seperti investor sungguhan, bukan seperti pembaca brosur.
Tawaran "kupon 9%"
Setelah modul ini, kamu bisa
- menjelaskan cara kerja surat utang: pokok, kupon, jatuh tempo;
- membedakan tiga angka: tingkat kupon, imbal hasil berjalan, dan YTM;
- menjelaskan kenapa suku bunga naik membuat harga obligasi turun, dan menghitungnya dengan durasi;
- menyebut lima risiko instrumen pendapatan tetap dan menilai apakah selisih imbal hasil sepadan dengan risikonya;
- menyusun tangga jatuh tempo dan memilih instrumen sesuai kapan uangnya dibutuhkan.
Raka, ajak ayahmu! Obligasi kupon 9%, lebih tinggi dari deposito. Pasti cuan!
Kak Dina, 9% itu lumayan banget kan? Deposito saja cuma sekitar 5%.
Pertanyaan pertamamu harusnya: berapa harganya?
Kalau dibeli 106,5% dari nilainya, untung sebenarnya cuma sekitar 7%. Bukan 9%.
Lho, kok bisa beda dua persen?!
EH?!Ayo kita bongkar. Obligasi itu sebenarnya cuma pinjaman yang bisa dijual-belikan.
Di modul sebelumnya kamu sudah mengenal peta aset. Sekarang kita masuk ke kelompok yang paling sering dibilang "aman": instrumen utang. Kata "aman" itu ternyata punya banyak syarat. Mari kita pelajari syaratnya satu per satu.
Obligasi: pinjaman yang bisa dijual
Seluruh modul ini berdiri di atas satu gagasan: instrumen pendapatan tetap adalah pinjaman yang bisa diperjualbelikan.
Saat kamu membeli obligasi, kamu sebenarnya meminjamkan uang kepada penerbitnya. Penerbit bisa pemerintah atau perusahaan. Sebagai gantinya, penerbit berjanji membayar tiga hal:
- Kupon: bunga yang dibayar berkala, misalnya setiap tahun.
- Pokok: uang pinjamannya dikembalikan utuh, senilai nilai nominal (disebut juga par).
- Jatuh tempo: tanggal pokok itu dibayar kembali.
Inilah bedanya dengan deposito. Deposito tidak dijual ke orang lain, jadi nilainya tidak naik-turun. Obligasi bisa dijual sebelum jatuh tempo, dan harganya berubah setiap hari. Dari satu perbedaan itu lahir semua kerumitan, dan juga semua peluang, di modul ini.
Tangga instrumen: dari yang paling sederhana
Instrumen utang dibagi dua kelompok besar. Pasar uang berisi instrumen berjangka di bawah 1 tahun. Pendapatan tetap berisi instrumen berjangka di atas 1 tahun, seperti obligasi. Reksa dana menjadi "kendaraan" yang mengelola keduanya.
| Instrumen | Jangka waktu | Dikelola/diterbitkan | Ciri utama |
|---|---|---|---|
| Tabungan | — | Bank | Bisa diambil kapan saja; imbal hasil paling rendah |
| Deposito berjangka | 1–24 bulan | Bank | Bunga tetap; kena penalti bila dicairkan lebih awal; dijamin LPS dengan syarat |
| Reksa dana pasar uang | Isinya < 1 tahun | Manajer investasi | Cair dalam 1–2 hari kerja; nilai relatif stabil; tidak dijamin LPS |
| SBN ritel | 2–6 tahun | Pemerintah RI | Risiko gagal bayar sangat rendah; dibahas penuh di modul berikutnya |
| Obligasi korporasi | 3–10 tahun | Perusahaan | Imbal hasil lebih tinggi; ada risiko perusahaan gagal bayar |
| Reksa dana pendapatan tetap | — | Manajer investasi | Kumpulan obligasi yang dikelola; nilainya naik-turun |
Simpanan di bank peserta dijamin LPS (Lembaga Penjamin Simpanan). Tapi ada dua syarat. Pertama, hanya sampai batas nilai tertentu per nasabah per bank. Kedua, bunganya tidak boleh melebihi tingkat bunga penjaminan yang ditetapkan LPS.
Kalau sebuah bank menawarimu bunga jauh di atas tingkat itu, seluruh simpananmu keluar dari penjaminan. Bukan cuma kelebihan bunganya. Bunga tinggi yang menggoda itu justru menghapus perlindungan yang membuatmu memilih deposito. Selalu cek batas dan tingkat terbaru di laman resmi LPS.
Obligasi adalah pinjaman yang bisa dijual. Kamu dapat kupon berkala dan pokok saat jatuh tempo. Karena bisa dijual sebelum jatuh tempo, harganya naik-turun. Itu yang membedakannya dari deposito.
Kupon bukan imbal hasil
Ini salah paham paling umum soal obligasi. Ada tiga angka berbeda yang sering dicampur aduk. Kalau kamu bisa membedakannya, kamu sudah selangkah di depan kebanyakan orang.
Angka 1: tingkat kupon
Kupon dihitung dari nilai nominal, bukan dari harga yang kamu bayar. Angka ini tertulis di obligasi dan tidak berubah.
obligasi bernilai nominal Rp100 juta dengan kupon 9% membayar Rp100 juta × 9% = Rp9 juta per tahun. Berapa pun harga belimu, kuponnya tetap Rp9 juta.
Angka 2: imbal hasil berjalan
Obligasi jarang dibeli tepat di nilai nominalnya. Harganya ditulis dalam persen dari nominal, misalnya "harga 106,5%". Maka kita perlu angka kedua: kupon dibandingkan dengan harga yang benar-benar kamu bayar. Namanya imbal hasil berjalan (current yield).
bagi kupon setahun dengan uang yang kamu keluarkan untuk membeli. Rp9 juta ÷ Rp106,5 juta = 8,45%. Hati-hati: kalau dibagi dengan nilai nominal, kamu hanya mendapat tingkat kupon lagi.
Angka 3: YTM, imbal hasil yang sebenarnya
Imbal hasil berjalan masih melupakan satu hal. Saat jatuh tempo, penerbit hanya mengembalikan nilai nominal, bukan harga belimu. Kalau kamu membeli Rp106,5 juta, yang kembali hanya Rp100 juta. Ada "rugi pokok" Rp6,5 juta yang menggerogoti kupon.
Angka yang menghitung semuanya disebut YTM (yield to maturity), atau imbal hasil hingga jatuh tempo. YTM adalah imbal hasil per tahun yang benar-benar kamu dapat bila obligasinya kamu pegang sampai jatuh tempo. Ia mencakup semua kupon dan selisih harga beli dengan nilai nominal.
Tiga keadaan harga
| Harga pasar | Disebut | Urutan tiga angka |
|---|---|---|
| Tepat 100% nominal | Par | Kupon = imbal hasil berjalan = YTM |
| Di atas 100% | Premium | Kupon > imbal hasil berjalan > YTM |
| Di bawah 100% | Diskon | Kupon < imbal hasil berjalan < YTM |
Cara mengingatnya mudah. Beli mahal (premium), untung sebenarnya lebih kecil dari kupon. Beli murah (diskon), untung sebenarnya lebih besar dari kupon, karena kamu juga dapat "bonus" selisih harga saat pokok dikembalikan.
Datanya. Nilai nominal Rp100.000.000. Kupon 9% per tahun, dibayar setahun sekali. Sisa waktu 4 tahun. Harga pasar 106,5% dari nominal.
Kupon tahunan. Rp100.000.000 × 9% = Rp9.000.000.
Harga yang dibayar. Rp100.000.000 × 106,5% = Rp106.500.000.
Imbal hasil berjalan. Rp9.000.000 ÷ Rp106.500.000 = 8,45%.
YTM. Cari tingkat imbal hasil yang membuat semua uang yang akan diterima, bila "dihitung ke hari ini", sama dengan Rp106,5 juta. Dengan kalkulator keuangan hasilnya 7,08% per tahun.
Cek arus kasnya. Keluar Rp106,5 juta. Masuk Rp9 juta di tahun 1, 2, dan 3, lalu Rp109 juta di tahun 4. Total diterima Rp136 juta, untung bersih Rp29,5 juta dalam 4 tahun.
Kesimpulan. Dipasarkan sebagai "kupon 9%", untung sebenarnya 7,08%. Hampir dua poin persen lebih rendah. Membedakan 9,00% / 8,45% / 7,08% adalah keterampilan inti modul ini.
Perhatikan: makin tinggi tebakan YTM, makin rendah harga yang cocok. Itu bocoran untuk bab berikutnya.
Kalau ada yang menawarkan "obligasi kupon 9%", jangan langsung terpikat. Tanyakan dulu: "Berapa harganya, dan berapa YTM-nya?" Kupon dihitung dari nilai nominal. Untung sebenarnya bergantung pada harga yang kamu bayar.
Rumus YTM secara lengkap
YTM adalah tingkat diskonto \(y\) yang membuat nilai kini semua arus kas sama dengan harga pasar:
dengan \(P\) = harga, \(C\) = kupon per periode, \(M\) = nilai nominal, \(y\) = YTM per periode, \(n\) = jumlah periode. Tidak ada rumus langsung untuk \(y\), jadi dicari dengan coba-coba (persis seperti kalkulator di atas) atau dengan fungsi YIELD/RATE di spreadsheet. Untuk contoh tadi: \(106{,}5 = \sum_{t=1}^{4} 9/(1+y)^t + 100/(1+y)^4\) terpenuhi pada \(y \approx 7{,}08\%\).
YTM juga mengandaikan setiap kupon yang diterima ditanam ulang pada tingkat yang sama. Kalau bunga pasar turun, kupon itu hanya bisa ditanam ulang pada tingkat lebih rendah. Inilah risiko reinvestasi yang dibahas di bab risiko.
Jungkat-jungkit: bunga naik, harga turun
Inilah aturan terpenting di dunia obligasi: saat suku bunga pasar naik, harga obligasi yang sudah beredar turun. Saat suku bunga turun, harganya naik. Hubungannya terbalik, seperti jungkat-jungkit.
Logikanya sederhana. Kamu memegang obligasi berkupon 6%. Lalu pemerintah menerbitkan obligasi baru berkupon 8%. Siapa yang mau membeli obligasimu di harga penuh, kalau di sebelahnya ada yang memberi 8%? Tidak ada. Agar laku, harga obligasimu harus turun sampai untung pembelinya setara 8%.
Kalimat terakhir analogi itu penting. Dengan kupon 6% dan bunga pasar naik ke 8%, obligasi bersisa 3 tahun turun ke sekitar 94,85% dari nominal. Obligasi bersisa 10 tahun jatuh lebih dalam, ke sekitar 86,58%. Kenapa? Karena pemegang obligasi 10 tahun "terjebak" dengan kupon rendah jauh lebih lama.
Durasi: seberapa keras jungkat-jungkitnya
Investor punya satu angka untuk mengukur kepekaan harga obligasi terhadap suku bunga. Namanya durasi termodifikasi, sering disingkat durasi. Satuannya tahun, tetapi artinya bukan sisa waktu. Durasi 5 berarti: bila imbal hasil naik 1 poin persen, harga turun sekitar 5%.
- \(\Delta P\)
- perubahan harga, dalam persen (Δ dibaca "delta", artinya perubahan)
- \(D_{\text{mod}}\)
- durasi termodifikasi, dalam tahun
- \(\Delta y\)
- perubahan imbal hasil pasar, dalam poin persen
kalikan durasi dengan perubahan imbal hasil, lalu balik tandanya. Durasi 4 dan imbal hasil naik 1,5 poin: −4 × 1,5 = turun sekitar 6%. Tanda minus mengingatkan bahwa arahnya terbalik.
| Durasi | Imbal hasil naik 1 poin | Imbal hasil naik 2 poin |
|---|---|---|
| 1 tahun | −1,0% | −2,0% |
| 3 tahun | −3,0% | −6,0% |
| 5 tahun | −5,0% | −10,0% |
| 8 tahun | −8,0% | −16,0% |
| 15 tahun | −15,0% | −30,0% |
Obligasi negara bertenor 15 tahun bisa kehilangan sekitar 30% nilainya dalam setahun bila suku bunga naik 2 poin. Itu sebanding dengan jatuhnya pasar saham. Padahal produk seperti itu sering dijual sebagai "aman".
Aku beli obligasi negara 15 tahun, Rp200 juta. Katanya aman. Kok setahun kemudian nilainya tinggal Rp166 juta?!
GLEK!Negara tidak gagal bayar, Pak. Yang naik itu suku bunga. Durasi obligasi Bapak panjang, jadi harganya jatuh dalam.
Jadi aku harus jual sekarang sebelum makin turun?
Kalau Bapak tidak butuh uangnya, pegang sampai jatuh tempo. Pokoknya kembali penuh.
Ibu Sinta dan Pak Yudha sama-sama membeli obligasi negara Rp200.000.000 di harga nominal, dengan imbal hasil awal 6,8%. Ibu Sinta memilih tenor 3 tahun (durasi 2,7). Pak Yudha memilih tenor 15 tahun (durasi 9,6).
Setahun kemudian, imbal hasil pasar naik 1,75 poin persen.
Perubahan harga. Ibu Sinta: −2,7 × 1,75 = −4,73%, nilainya menjadi Rp190.550.000. Pak Yudha: −9,6 × 1,75 = −16,80%, nilainya menjadi Rp166.400.000.
Tambahkan kupon. Keduanya menerima kupon 6,8% × Rp200 juta = Rp13.600.000.
Hasil total tahun itu. Ibu Sinta: (−9.450.000 + 13.600.000) ÷ 200.000.000 = +2,08%. Pak Yudha: (−33.600.000 + 13.600.000) ÷ 200.000.000 = −10,00%.
Pelajaran. Hasil total = kupon + perubahan harga. Pada durasi panjang, penurunan harga bisa jauh melebihi kupon. "Aman dari gagal bayar" tidak sama dengan "aman dari kerugian".
Kerugian harga obligasi baru menjadi nyata kalau kamu terpaksa menjual sebelum jatuh tempo. Kalau dipegang sampai jatuh tempo, pokok kembali penuh. Karena itu aturan kerjanya: cocokkan durasi dengan kapan uangnya dibutuhkan. Butuh uangnya 3 tahun lagi? Jangan pegang instrumen berdurasi 10 tahun, semenarik apa pun kuponnya. Di sinilah dana darurat ikut berperan: ia mencegahmu terpaksa menjual di saat yang salah.
Lima risiko yang mengintai
"Pendapatan tetap" terdengar tenang. Padahal ada lima risiko yang perlu kamu kenali. Satu instrumen bisa rendah di satu risiko, tetapi tinggi di risiko lain.
| Risiko | Apa yang terjadi | Cara mengelola |
|---|---|---|
| Gagal bayar (kredit) | Penerbit tidak membayar kupon atau pokok | Pilih penerbit berkualitas; sebar ke beberapa penerbit; baca peringkat sebagai titik awal |
| Suku bunga | Harga turun saat bunga naik | Cocokkan durasi dengan kapan uang dibutuhkan; pakai tangga jatuh tempo |
| Inflasi | Kupon yang tetap kehilangan daya beli | Lihat imbal hasil riil (setelah inflasi), bukan nominal |
| Likuiditas | Sulit dijual tanpa memberi potongan harga | Cek ramai-tidaknya pasar jual-belinya sebelum membeli |
| Reinvestasi | Kupon yang diterima harus ditanam ulang, mungkin pada bunga yang lebih rendah | Sadari bahwa YTM mengandaikan kupon ditanam ulang pada tingkat yang sama |
Peringkat kredit: pendapat, bukan jaminan
Banyak obligasi diberi peringkat kredit oleh lembaga pemeringkat. Peringkat berguna, tetapi ada tiga hal yang perlu kamu pahami:
- Peringkat bisa diturunkan, dan sering baru turun setelah masalahnya sudah terlihat di harga.
- Penerbit membayar lembaga pemeringkat untuk dinilai. Ada konflik kepentingan yang perlu disadari.
- Peringkat mengukur kemungkinan gagal bayar, bukan kewajaran harga. Obligasi berperingkat tinggi tetap bisa jadi investasi buruk bila dibeli terlalu mahal.
Obligasi negara hampir bebas risiko gagal bayar dalam rupiah. Tetapi itu hanya satu dari lima risiko. Risiko suku bunga, inflasi, dan likuiditas tetap ada. Jadi kalimat "obligasi negara bebas risiko" perlu dikoreksi menjadi "hampir bebas risiko gagal bayar".
Selisih imbal hasil: bonus atau ongkos risiko?
Obligasi korporasi biasanya memberi imbal hasil lebih tinggi daripada obligasi negara bertenor sama. Kelebihan itu disebut selisih imbal hasil (credit spread).
kurangi imbal hasil obligasi perusahaan dengan imbal hasil obligasi negara yang jangka waktunya sama. Korporasi 9,4% dan negara 6,9% berarti selisihnya 2,5 poin persen.
Selisih ini bukan bonus. Ia adalah bayaran karena kamu menanggung risiko tambahan: perusahaan bisa gagal bayar, dan obligasinya lebih sulit dijual. Pertanyaan yang benar bukan "berapa lebihnya?", melainkan "apakah lebihnya cukup untuk menutup risikonya?"
Cara menilainya: bandingkan selisih dengan perkiraan kerugian akibat gagal bayar. Perkiraan kerugian itu adalah peluang gagal bayar dikali besar kerugian bila benar-benar gagal. Besar kerugian = 100% dikurangi tingkat pemulihan, yaitu bagian uang yang masih bisa diselamatkan.
kurangi selisih imbal hasil dengan "kerugian rata-rata" akibat gagal bayar. Kalau hasilnya positif, kamu dibayar lebih dari risikonya. Kalau negatif, kamu dibayar kurang.
Sebuah obligasi korporasi memberi selisih 0,8 poin di atas obligasi negara.
Peluang gagal bayar per tahun 1,5%. Tingkat pemulihan 40%, jadi kerugian bila gagal 60%.
Perkiraan kerugian: 1,5% × 60% = 0,9 poin.
Kompensasi bersih: 0,8 − 0,9 = −0,1 poin. Kamu dibayar lebih sedikit daripada risiko yang kamu tanggung.
Mungkin obligasi ini tidak pernah gagal bayar. Tetapi keputusan yang baik dinilai dari rata-rata semua kemungkinan, bukan dari satu hasil yang kebetulan baik.
Imbal hasil lebih tinggi selalu datang bersama risiko lebih tinggi. Selisih imbal hasil adalah ongkos risiko, bukan hadiah. Hitung dulu apakah ongkos itu cukup.
Tangga jatuh tempo dan memilih sesuai waktu
Daripada menaruh semua uang di satu jangka waktu, kamu bisa membaginya ke beberapa jatuh tempo berurutan. Strategi ini disebut tangga jatuh tempo (laddering).
| Anak tangga | Nominal | Jatuh tempo |
|---|---|---|
| 1 | Rp50.000.000 | 1 tahun |
| 2 | Rp50.000.000 | 2 tahun |
| 3 | Rp50.000.000 | 3 tahun |
| 4 | Rp50.000.000 | 4 tahun |
| 5 | Rp50.000.000 | 5 tahun |
Contohnya, Rp250 juta dibagi menjadi lima anak tangga masing-masing Rp50 juta. Setiap tahun satu anak tangga jatuh tempo. Uangnya ditanam ulang ke tenor 5 tahun, menjadi anak tangga paling atas. Setelah lima tahun, semua isinya bertenor 5 tahun, dengan satu yang jatuh tempo setiap tahun.
Empat manfaat tangga:
- Arus kas teratur. Selalu ada dana yang cair setiap tahun.
- Tidak bertaruh pada satu hari. Kamu tidak mengunci semua uang pada tingkat bunga satu hari tertentu.
- Durasi rata-rata lebih pendek. Tangga 1–5 tahun punya rata-rata sekitar 3 tahun, bukan 5. Hitungnya (1 + 2 + 3 + 4 + 5) ÷ 5 = 3.
- Menyesuaikan diri dengan suku bunga. Kalau bunga naik, anak tangga yang cair ditanam ulang pada tingkat yang lebih tinggi. Kalau bunga turun, sebagian besar uangmu masih terkunci di tingkat lama. Kamu tidak perlu menebak arah suku bunga.
Kapan tangga tidak cocok? Saat seluruh uang dibutuhkan pada satu tanggal, misalnya uang muka rumah 4 tahun lagi. Untuk tujuan seperti itu, pakai pencocokan jatuh tempo: pilih instrumen yang jatuh tempo tepat sebelum tanggal kebutuhan.
Contoh besar: dana sekolah 3 tahun lagi
Pak Ardi punya Rp300.000.000 yang akan dipakai tepat 3 tahun lagi untuk biaya masuk sekolah anaknya. Inflasi diandaikan 3,2% per tahun. Ia punya tiga pilihan.
| A: Deposito | B: RD pendapatan tetap | C: Obligasi korporasi 8 tahun | |
|---|---|---|---|
| Imbal hasil | 5,50% | 7,20% (perkiraan) | 8,60% (YTM) |
| Pajak | 20% final | Di dalam reksa dana | 10% final atas kupon |
| Biaya per tahun | 0% | 1,10% | 0% |
| Risiko gagal bayar | Sangat rendah (dalam batas LPS) | Rendah–sedang | Sedang |
| Risiko suku bunga | Nihil bila dipegang | Sedang (durasi ±3,5) | Tinggi (durasi ±6,2) |
| Cocok dengan waktunya? | Cocok | Harus dijual di tahun ke-3 | Tidak cocok: dijual 5 tahun sebelum jatuh tempo |
Ingat rumusnya. Imbal hasil riil = (1 + imbal hasil bersih) ÷ (1 + inflasi) − 1. Riil artinya sudah memperhitungkan kenaikan harga barang.
Opsi A. Setelah pajak: 5,50% × (1 − 20%) = 4,40%. Riil: 1,0440 ÷ 1,0320 − 1 = 1,16%.
Opsi B. Setelah biaya: 7,20% − 1,10% = 6,10%. Riil: 1,0610 ÷ 1,0320 − 1 = 2,81%.
Opsi C. Setelah pajak: 8,60% × (1 − 10%) = 7,74%. Riil: 1,0774 ÷ 1,0320 − 1 = 4,40%.
Uji badai. Andaikan suku bunga naik 2 poin di tahun ketiga. Opsi A: harga tidak berubah. Opsi B: −3,5 × 2 = −7,0%. Opsi C: −6,2 × 2 = −12,4%, tepat saat uangnya dibutuhkan.
Kesimpulan. Opsi C punya imbal hasil riil tertinggi, tetapi pilihan yang salah. Tanggal masuk sekolah tidak bisa ditunda. Yang tepat adalah Opsi A, atau Opsi B bila Pak Ardi siap menerima naik-turun sedang demi tambahan 1,65 poin imbal hasil riil.
Waktu kebutuhan menentukan instrumen, bukan imbal hasil. Saring dulu instrumen yang jatuh temponya cocok. Baru setelah itu bandingkan imbal hasilnya. Untuk kebutuhan yang tersebar, pakai tangga. Untuk kebutuhan di satu tanggal, pakai pencocokan jatuh tempo.
Dana darurat sebaiknya tidak disimpan di reksa dana pendapatan tetap berdurasi beberapa tahun. Nilainya bisa turun saat suku bunga naik, padahal keadaan darurat datang tanpa permisi. Dana darurat butuh nilai yang pasti dan bisa diambil segera: tabungan, deposito, atau reksa dana pasar uang.
Mitos atau fakta?
Ketuk setiap kartu untuk membaliknya.
"Obligasi kupon 9% pasti memberi untung 9% per tahun."
Tergantung harganya. Dibeli di 106,5%, untung sebenarnya (YTM) hanya 7,08%.
"Obligasi negara bebas risiko, cocok untuk semua tujuan."
Hampir bebas risiko gagal bayar, tetapi tetap kena risiko suku bunga, inflasi, dan likuiditas. Tenor 15 tahun bisa turun belasan persen dalam setahun.
"Deposito berbunga tinggi tetap dijamin LPS."
Bila bunganya melebihi tingkat penjaminan LPS, seluruh simpanan itu keluar dari penjaminan.
"Selisih imbal hasil obligasi korporasi itu bonus gratis."
Itu ongkos risiko gagal bayar dan sulit dijual. Bisa saja kompensasinya negatif.
"Peringkat AAA berarti pasti aman dan pasti layak dibeli."
Peringkat adalah pendapat, bisa turun, dan tidak menilai kewajaran harga.
Cek pemahamanmu
Latihan singkat ini tidak dinilai. Kuis resmi modul ada di bagian akhir halaman.
1. Obligasi bernominal Rp50 juta dengan kupon 8% dibeli di harga 95%. Berapa imbal hasil berjalannya?
- 8,00%, sama dengan kuponnya
- Sekitar 8,42%
- Sekitar 7,60%
- Sekitar 13,00%
Kupon tahunan Rp4 juta. Harga beli Rp47,5 juta. Rp4 juta ÷ Rp47,5 juta = 8,42%. Dibeli diskon, jadi imbal hasil berjalan di atas kupon.
2. Obligasi dibeli di harga premium (di atas 100%). Urutan yang benar adalah…
- YTM > imbal hasil berjalan > kupon
- Ketiganya sama
- Imbal hasil berjalan > kupon > YTM
- Kupon > imbal hasil berjalan > YTM
Beli mahal berarti ada selisih harga yang tidak kembali saat jatuh tempo. Jadi kupon > imbal hasil berjalan > YTM.
3. Durasi termodifikasi obligasimu 4,5. Imbal hasil pasar naik 2 poin. Perkiraan perubahan harganya?
- Turun sekitar 9%
- Naik sekitar 9%
- Turun sekitar 2%
- Turun sekitar 4,5%
−4,5 × 2 = −9,0%. Imbal hasil naik, harga turun.
4. Rini butuh uang tepat 2 tahun lagi untuk kuliah. Pilihan mana yang paling sesuai?
- Obligasi 15 tahun karena kuponnya paling tinggi
- Reksa dana pendapatan tetap berdurasi 7 tahun
- Instrumen yang jatuh tempo tepat sebelum 2 tahun
- Obligasi korporasi dengan selisih imbal hasil terbesar
Kebutuhan di satu tanggal cocok dengan pencocokan jatuh tempo. Durasi panjang berisiko memaksa Rini menjual saat harga turun.
5. Selisih imbal hasil 2,5 poin. Peluang gagal bayar 2,2% per tahun, pemulihan 35%. Kompensasi bersihnya kira-kira…
- +2,50 poin
- +1,07 poin
- −0,10 poin
- +0,30 poin
Kerugian bila gagal 65%. Perkiraan kerugian 2,2% × 65% = 1,43 poin. Kompensasi bersih 2,50 − 1,43 = +1,07 poin.
Ringkasan dan kamus mini
1. Obligasi = pinjaman yang bisa dijual. Ada pokok, kupon, dan jatuh tempo.
2. Bedakan tingkat kupon (÷ nominal), imbal hasil berjalan (÷ harga beli), dan YTM (untung sebenarnya).
3. Suku bunga naik, harga obligasi turun. Besarnya ≈ −durasi × perubahan imbal hasil.
4. Lima risiko: gagal bayar, suku bunga, inflasi, likuiditas, reinvestasi.
5. Selisih imbal hasil adalah ongkos risiko. Kurangi dengan perkiraan kerugian gagal bayar.
6. Waktu kebutuhan menentukan instrumen. Pakai tangga atau pencocokan jatuh tempo.
- Obligasi
- Surat utang yang bisa diperjualbelikan.
- Nilai nominal (par)
- Nilai yang dikembalikan saat jatuh tempo.
- Kupon
- Bunga berkala, dihitung dari nilai nominal.
- Jatuh tempo
- Tanggal pokok dibayar kembali.
- Imbal hasil berjalan
- Kupon tahunan dibagi harga beli.
- YTM
- Imbal hasil sebenarnya bila dipegang sampai jatuh tempo.
- Premium / diskon
- Harga di atas / di bawah nilai nominal.
- Durasi termodifikasi
- Perkiraan % perubahan harga bila imbal hasil berubah 1 poin.
- Poin persen
- Selisih langsung dua persentase, misalnya dari 6% ke 7%.
- Selisih imbal hasil
- Kelebihan imbal hasil korporasi di atas obligasi negara bertenor sama.
- Peringkat kredit
- Pendapat lembaga pemeringkat tentang kemampuan bayar penerbit.
- Tangga jatuh tempo
- Membagi dana ke beberapa jatuh tempo berurutan.
- LPS
- Lembaga Penjamin Simpanan; menjamin simpanan bank dengan batas nilai dan batas bunga.
Materi ini untuk pendidikan, bukan rekomendasi membeli atau menjual produk apa pun. Angka-angka adalah contoh hitungan; hasil investasi tidak dijamin.
Selesai membaca? Mantap!
Uji pemahamanmu dengan kuis modul (4 soal). Skor terbaiknya dihitung 20% dari nilai akhir jenjang. Ingin rincian, rumus lengkap, dan latihan tambahan? Buka naskah lengkap modul ini.