Invesmentpedia Enigma Institute
L1.10 · Strategi Akumulasi: Lump Sum, DCA, dan Variannya
TINGKAT

Level 1 · Investor Mandiri · Modul 10

Sekaligus atau Dicicil? Strategi Akumulasi

Kamu pasti pernah dengar "DCA", menabung investasi sedikit-sedikit tiap bulan. Tapi tahukah kamu, istilah itu dipakai untuk dua hal yang sangat berbeda? Di modul ini kamu belajar kapan uang sebaiknya ditaruh sekaligus, kapan dicicil, dan kapan "beli lagi saat turun" justru jebakan.

⏱ ±45 menit baca📅 8 butir aturan🎮 5 simulasi
Sekaligus Dicicil Rp120 jt hari ini Rp10 jt × 12 bulan Yang penting: jadwalnya ditulis dulu, lalu dijalankan

Dua hal yang sama-sama disebut "DCA"

Setelah modul ini, kamu bisa

  • membedakan menyetor penghasilan rutin dari memecah dana yang sudah ada;
  • menjelaskan kenapa penempatan sekaligus rata-rata unggul, dan kenapa itu belum tentu pilihan terbaik untukmu;
  • menghitung hasil tiga cara menempatkan dana dan harga rata-rata perolehan;
  • menyusun aturan akumulasi tertulis yang jalan tanpa harus diputuskan ulang tiap bulan;
  • membedakan akumulasi terencana dari "beli lagi biar rata-rata turun" yang sebenarnya menutupi kerugian.

Aku baru terima pesangon Rp300 juta. Masukkan semua sekarang, atau dicicil?

Jangan sekarang! Tunggu pasar turun dulu, baru hajar semuanya. Om sudah tahu polanya.

Tidak ada yang tahu kapan pasar turun, Om. Pertanyaannya bukan "kapan", tapi "cara mana yang membuat Bapak tetap bertahan di rencana".

Kalau aku sih tiap bulan nyisihkan uang saku. Itu DCA juga, kan, Kak?

Itu hal yang berbeda, Raka. Mari kita pisahkan dulu.

Istilah DCA (dollar cost averaging) dipakai untuk dua hal yang sangat berbeda. Karena keduanya dicampur, perdebatan "DCA atau sekaligus" tidak pernah selesai.

Hal pertama: menyetor penghasilan rutin

Raka mendapat uang saku tiap bulan dan menyisihkan sebagian. Orang dewasa melakukannya dengan gaji.

Ini bukan strategi. Ini memang satu-satunya cara, karena uangnya datang bertahap. Kamu tidak bisa menyetor uang yang belum kamu terima. Yang penting di sini adalah otomatisasi: setoran berjalan sendiri tanpa harus diputuskan ulang.

VS

Hal kedua: memecah dana yang sudah ada

Pak Reza sudah memegang Rp300 juta hari ini. Ia bisa menaruhnya sekaligus, atau Rp25 juta per bulan selama 12 bulan.

Ini baru strategi, karena ada pilihan nyata, dan akibat tiap pilihan bisa dihitung.

Menyetor penghasilan rutin bukan strategi, tetapi akibat dari uang yang datang bertahap. Kuncinya otomatisasi. Perdebatan "sekaligus atau dipecah" hanya bermakna untuk dana yang sudah tersedia.

Kenapa sekaligus rata-rata unggul?

Logikanya tidak butuh ramalan pasar. Cukup tiga langkah.

  1. Aset berisiko seperti saham punya imbal hasil harapan yang positif. Itulah alasan orang mau memegangnya.
  2. Uang yang belum ditempatkan tidak ikut mendapat hasil itu. Ia "parkir" di tempat yang hasilnya rendah.
  3. Jadi kalau penempatan dipecah, sebagian uangmu absen dari aset yang hasilnya lebih tinggi selama masa pemecahan.

Karena itu, rata-rata, penempatan sekaligus menang. Ini hitungan biasa, bukan ramalan. Kerugian karena uang menunggu ini disebut biaya absen.

Tetapi "rata-rata" bukan "selalu"

Sekaligus menang di sebagian besar kemungkinan, dan kalah di sebagian. Saat kalah, kalahnya bisa besar. Menaruh semua uang tepat sebelum pasar anjlok bisa membuat orang panik, menjual di harga terendah, lalu berhenti berinvestasi selamanya.

Ingat: keunggulan rata-rata dihitung dari banyak kemungkinan masa depan. Kamu hanya menjalani satu. Kalau penurunan tajam membuatmu meninggalkan rencana, hasilmu bukan "rata-rata", melainkan kerugian yang dikunci.

Bukan "mana yang menghasilkan lebih banyak rata-rata?" Jawabannya sudah diketahui: sekaligus. Pertanyaan yang benar: "Berapa banyak hasil harapan yang rela kutukar dengan peluang lebih kecil untuk meninggalkan rencanaku?"

Menukar sedikit hasil demi ketenangan itu sah, bukan tanda lemah. Rencana terbaik di atas kertas yang tidak sanggup kamu pegang lebih buruk daripada rencana nomor dua yang sanggup kamu pegang.

KeadaanmuPilihan yang lebih cocok
Sudah pernah melewati penurunan besar tanpa menjualSekaligus
Belum pernah mengalami penurunan besarDipecah, sebagai latihan
Dana dari peristiwa sekali seumur hidup (warisan, pesangon, jual aset)Dipecah, karena salah langkah terasa sangat berat
Dana kecil dibanding total kekayaanSekaligus
Dana besar dibanding total kekayaanDipecah
Jangka waktu sangat panjang (lebih dari 20 tahun)Sekaligus, biaya absen lebih mahal
Tidak bisa memutuskanDipecah dalam 6–12 bulan, lalu berhenti memperdebatkannya
  1. Asal dananya: pesangon Rp300 juta, peristiwa sekali seumur hidup. Tabel menunjuk dipecah.

  2. Pengalaman: Pak Reza belum pernah melewati penurunan besar tanpa panik. Tabel kembali menunjuk dipecah.

  3. Besar dana: pesangon ini sebagian besar kekayaannya. Lagi-lagi dipecah.

  4. Keputusan tertulis: "Rp25 juta setiap tanggal 5, selama 12 bulan, sesuai alokasi sasaran. Jadwal tidak dihentikan karena harga naik atau turun." Setelah ditulis, Pak Reza berhenti memperdebatkannya. Ia sadar menukar sedikit hasil harapan dengan peluang lebih besar untuk tetap bertahan.

Rata-rata, sekaligus unggul karena uang yang menunggu absen dari imbal hasil harapan. Tetapi pilihan terbaik untukmu adalah cara yang membuatmu masih di dalam rencana dua tahun lagi. Apa pun pilihannya, tulis jadwalnya dulu dan jalankan tanpa diputuskan ulang.

Uji di tiga jalur harga

Bu Ayu punya Rp120.000.000. Ia membandingkan menaruh semuanya sekaligus dengan memecahnya Rp10.000.000 per bulan selama 12 bulan. Harga awal satu unit Rp1.000. Uang yang menunggu dianggap tidak menghasilkan apa-apa.

Jalur hargaHarga akhirNilai akhir sekaligusNilai akhir dipecahSelisih dipecah
A. Naik terus 1,5% per bulanRp1.177,95Rp141.353.872Rp130.412.114−Rp10.941.758
B. Turun 3% per bulan selama 5 bulan, lalu naik 3,5% per bulanRp1.055,60Rp126.672.405Rp133.941.539+Rp7.269.134
C. Turun terus 2% per bulanRp800,73Rp96.087.762Rp107.641.638+Rp11.553.876

Tiga pelajaran dari tabel ini:

  1. Dipecah menang di dua dari tiga jalur ini. Tetapi jalur-jalur ini dipilih untuk belajar. Dalam sejarah pasar yang cenderung naik, jalur seperti A lebih sering terjadi daripada B dan C.
  2. Di jalur C, dipecah tetap rugi. Ruginya hanya lebih kecil. Memecah bukan pelindung dari kerugian. Ia hanya mengurangi ketergantungan pada satu titik masuk.
  3. Yang tidak tampak di tabel adalah perasaan. Di jalur B, investor sekaligus melihat portofolionya turun sekitar 14,1% di titik terendah tanpa sisa uang. Investor yang memecah masih memegang separuh dananya, dan justru sedang membeli di harga murah. Itu jauh lebih mudah dijalani.

Memecah penempatan tidak menghapus kerugian di pasar yang turun terus. Yang dikurangi adalah risiko waktu (salah masuk di satu titik) dan risiko perilaku (panik lalu menyerah). Di pasar yang naik terus, memecah kalah karena biaya absen.

Kenapa harga rata-ratamu bisa lebih murah?

Saat kamu menyetor nominal tetap, kamu otomatis membeli lebih banyak unit saat harga murah dan lebih sedikit saat harga mahal. Hasilnya, harga rata-rata perolehanmu cenderung lebih rendah daripada rata-rata harga biasa.

Bulan 1Bulan 2Bulan 3Bulan 4 hargaunit hargaunit hargaunit hargaunit 1.0005.000 8006.250 1.2504.000 50010.000 Setoran tetap Rp5 juta: harga turun separuh → unit berlipat dua
Batang merah adalah harga, batang hijau adalah unit yang didapat dengan Rp5 juta. Keduanya selalu bergerak berlawanan.
  1. Harga per unit selama enam bulan: Rp1.000, Rp800, Rp1.250, Rp500, Rp1.000, Rp1.250.

  2. Unit yang dibeli: 5.000 + 6.250 + 4.000 + 10.000 + 5.000 + 4.000 = 34.250 unit.

  3. Rata-rata harga biasa: (1.000 + 800 + 1.250 + 500 + 1.000 + 1.250) ÷ 6 = Rp966,67.

  4. Harga rata-rata perolehan Pak Iwan: total uang ÷ total unit = Rp30.000.000 ÷ 34.250 = Rp875,91.

  5. Selisihnya Rp90,76 per unit, sekitar 9,4% lebih murah. Ini bukan keberuntungan. Ini sifat matematika dari setoran nominal tetap.

Harga rata-rata perolehan pada setoran tetap disebut rata-rata harmonik. Rata-rata harmonik selalu lebih kecil atau sama dengan rata-rata biasa.

\[ \bar{P}_{\text{perolehan}} = \frac{n}{\dfrac{1}{P_1} + \dfrac{1}{P_2} + \dots + \dfrac{1}{P_n}} \]
\(n\)
banyaknya setoran (dengan nominal sama)
\(P_t\)
harga per unit pada setoran ke-\(t\)

Dalam bahasa sehari-hari: harga rata-rata perolehan sama dengan total uang dibagi total unit. Contoh: Rp6 juta per bulan pada harga Rp1.200, Rp1.500, Rp1.000 memberi 5.000 + 4.000 + 6.000 = 15.000 unit. Rp18 juta ÷ 15.000 = Rp1.200, lebih murah dari rata-rata biasa Rp1.233,33.

Perhatikan batasnya. Keunggulan ini hanya muncul kalau harga naik-turun. Kalau harga naik mulus, tidak ada harga murah untuk diborong. Setiap pembelian justru lebih mahal dari sebelumnya, dan biaya absen menjadi lebih dominan (seperti jalur A).

Misalkan kamu menyetor Rp6 juta tiga bulan berturut-turut pada harga Rp1.000, Rp750, dan Rp500. Unitmu 6.000 + 8.000 + 12.000 = 26.000. Harga rata-rata perolehanmu turun ke sekitar Rp692. Kedengarannya bagus. Tetapi kalau harga sekarang Rp450, nilai posisimu 26.000 × Rp450 = Rp11,7 juta dari Rp18 juta yang kamu setor. Rugi 35%. Harga rata-rata yang turun tidak menghapus kerugian di pasar yang terus turun.

Pada setoran nominal tetap, harga rata-rata perolehan adalah rata-rata harmonik: total uang ÷ total unit, selalu ≤ rata-rata harga biasa. Ini bonus kecil, bukan alasan utama memecah penempatan. Alasan utamanya mengurangi risiko waktu dan risiko perilaku.

Metode ketiga: rata-rata nilai (value averaging)

Pada DCA, yang dibuat tetap adalah setorannya. Pada rata-rata nilai (value averaging), yang dibuat tetap adalah nilai portofolio sasaran yang naik tiap periode, misalnya naik Rp5 juta setiap bulan. Kalau portofolio di bawah sasaran, kamu menyetor lebih banyak. Kalau di atas sasaran, kamu menyetor lebih sedikit, bahkan menjual kelebihannya.

Kelebihannya: membeli lebih agresif saat murah. Kekurangannya menentukan. (1) Besar setoran tidak bisa diduga; saat pasar anjlok, kamu mungkin diminta menyetor uang yang tidak kamu punya. (2) Ia menuntut disiplin paling tinggi justru saat berita paling buruk. (3) Ia bisa menuntut penjualan saat naik, yang memicu biaya dan pajak. Untuk Level 1, setoran otomatis yang benar-benar berjalan lebih baik daripada metode canggih yang berhenti di bulan keenam.

"Beli lagi saat turun": akumulasi atau menutupi rugi?

Ini bagian yang paling menentukan perilakumu. Menambah pembelian saat harga turun bisa berupa dua hal yang sangat berbeda.

Kakakku beli satu saham Rp30 juta. Turun 28%. Katanya mau tambah biar harga rata-ratanya turun.

Kan bagus? Beli murah, kayak DCA.

Pasar tidak tahu harga belimu. Yang terjadi sebenarnya: taruhannya makin besar pada pendapat yang sedang dibantah pasar.

Waduh, jadi makin dalam lubangnya.

GLEK!
Akumulasi terencanaMenutupi kerugian (rasionalisasi)
Kapan diputuskanSebelum membeli, tertulisSetelah rugi
DasarnyaJadwal dan alokasi sasaranHarga sekarang lebih rendah dari harga beli
InstrumennyaAset yang tersebar sesuai rencanaSering satu aset yang sedang rugi
BatasAda, tertulisTidak ada
Kalau pendapatnya salahAda syarat berhentiTerus menambah sampai uang habis

Rasionalisasi artinya mencari alasan yang terdengar masuk akal untuk keputusan yang sebenarnya didorong perasaan, misalnya tidak mau mengakui rugi. Perasaan ini erat dengan bias biaya hangus: tidak rela uang yang sudah keluar terasa sia-sia.

Soal "average down"

Menambah pembelian untuk menurunkan harga rata-rata (average down) memang menurunkan angka harga rata-ratamu. Tetapi itu bukan tujuan yang bermakna. Harga rata-rata perolehanmu adalah catatan masa lalumu. Pasar tidak mengetahuinya, dan angka itu tidak mengubah masa depan aset. Yang benar-benar berubah hanyalah besarnya taruhanmu, justru saat keyakinanmu seharusnya diperiksa ulang.

  1. Posisi satu saham Rp30 juta turun 28% → tinggal Rp21,6 juta. Ia menambah Rp20 juta "supaya rata-rata turun". Posisi menjadi Rp41,6 juta.

  2. Saham turun lagi 35% → Rp27,04 juta. Ia menambah Rp25 juta lagi. Posisi menjadi Rp52,04 juta.

  3. Saham turun lagi 40% → Rp31,22 juta.

  4. Hasil akhir: total uang yang ditaruh Rp75 juta, nilainya tinggal Rp31,22 juta. Rugi Rp43,78 juta (−58,4%). Dari portofolio Rp200 juta, posisinya membengkak dari 15% (Rp30 juta) menjadi 37,5% (Rp75 juta) dari modal awal, tepat saat bukti yang melawan pendapatnya makin menumpuk.

Bandingkan dengan Investor A. Sebelum membeli, ia sudah menulis: "Sasaran reksa dana indeks saham 35% dari portofolio. Setoran Rp6 juta per bulan, otomatis tiap tanggal 3. Kalau bobotnya turun di bawah 30% karena harga turun, seimbangkan kembali ke 35% saat tinjauan tiga bulanan." Ketika reksa dananya turun 28%, bobotnya jatuh ke 27,9%. Pada tinjauan berikutnya ia menambah sampai bobotnya kembali 35%, tidak lebih. Besar tambahannya dihitung dari aturan, bukan dari perasaan.

Keduanya sama-sama "membeli saat turun". Yang membedakan bukan tindakannya, tetapi kapan keputusannya dibuat dan apakah ada batasnya.

Di titik mana Investor B seharusnya berhenti? Di penambahan pertama. Tambahan Rp20 juta itu tidak berasal dari jadwal tertulis, tidak punya batas, dan dipicu oleh harga yang lebih rendah dari harga belinya. Sejak saat itu, besar taruhannya ditentukan oleh besar kerugiannya. Itu tanda paling jelas dari rasionalisasi.

"Tapi aku yakin dengan analisisku" juga bukan alasan sah. Keyakinan justru cenderung naik setelah rugi, karena kita butuh merasa benar. Ukuran posisi harus dibatasi aturan yang tidak bergantung pada keyakinan.

1. Apakah tambahan ini sudah dijadwalkan sebelum harga turun?
2. Apakah aku akan membeli sebanyak ini seandainya aku belum punya posisi sama sekali?
3. Adakah batas tertulis berapa banyak lagi yang boleh ditambah, dan syarat apa yang menghentikannya?
Kalau satu saja jawabannya "tidak", kamu sedang menutupi rugi, bukan mengakumulasi.

"Average down" tidak menurunkan risiko. Ia membesarkan taruhan pada pendapat yang sedang dibantah pasar. Harga rata-rata perolehanmu tidak diketahui pasar dan tidak memengaruhi prospek aset.

Aturan akumulasi tertulis

Inilah hasil praktis modul ini: delapan butir yang ditulis, ditandatangani, lalu dijalankan.

  1. Nominal setoran rutin dan tanggalnya.
  2. Mekanisme otomatis yang menjalankannya (misalnya debit otomatis).
  3. Alokasi sasaran per kelas aset (dirinci di modul berikutnya).
  4. Aturan untuk dana sekaligus: kalau menerima dana besar, dipecah berapa lama, dengan jadwal tetap.
  5. Larangan menghentikan jadwal karena harga naik atau turun.
  6. Batas penambahan per aset dan per kelas aset.
  7. Syarat berhenti menambah: kejadian apa yang mengakhiri akumulasi pada suatu aset.
  8. Kapan aturan boleh ditinjau: tanggal tetap, bukan saat pasar bergejolak.

Butir 5 dan 7 paling sering dilanggar. Karena itu keduanya butuh mekanisme penegak yang nyata, bukan sekadar niat. Contohnya debit otomatis yang tidak perlu kamu setujui setiap bulan, atau teman yang kamu minta menagih alasan tertulis sebelum kamu mengubah jadwal.

Contoh aturan akumulasi Raka

1. Setor Rp200.000 setiap tanggal 1, sehari setelah uang saku masuk.
2. Debit otomatis dari rekening tabungan ke reksa dana.
3. Sasaran: 60% reksa dana pasar uang, 40% reksa dana indeks saham.
4. Kalau dapat uang besar (misalnya hadiah lomba), dipecah 6 bulan dengan jadwal tetap.
5. Jadwal tidak dihentikan karena harga naik atau turun.
6. Tidak ada satu aset tunggal yang melebihi batas yang ditetapkan di rencana.
7. Berhenti menambah pada suatu aset kalau alasan awal membelinya tidak berlaku lagi.
8. Aturan ditinjau setiap Januari dan Juli, bukan saat pasar ramai.

Angka dan porsi di atas hanya contoh cara menulis aturan, bukan anjuran alokasi.

Kenapa jadwal tidak boleh dihentikan karena harga? Begitu kamu berhenti karena "harganya sudah naik" atau "tunggu turun dulu", keputusanmu bergantung pada tebakan arah pasar. Itu persis yang ingin dihindari dengan memecah penempatan. Jadwal hanya boleh berubah kalau alasan dasarmu berubah, bukan kalau harganya bergerak.

Menyeimbangkan kembali ke sasaran

Kalau satu kelas aset turun, bobotnya di portofolio ikut turun. Aturan tertulis bisa memintamu menambah sampai bobotnya kembali ke sasaran. Cara cepat menghitungnya (dengan total portofolio dihitung sebelum setoran):

\[ \text{Setoran ke kelas aset} = (\text{bobot sasaran} \times \text{total portofolio}) - \text{nilai kelas aset sekarang} \]

Dalam bahasa sehari-hari: hitung berapa seharusnya nilai kelas aset itu, lalu kurangi dengan nilainya sekarang. Contoh: sasaran 40% dari portofolio Rp228 juta = Rp91,2 juta. Nilai sekarang Rp78 juta (bobot 34,21%). Kekurangannya Rp13,2 juta.

Tulis delapan butir aturan akumulasi. Yang terpenting: jangan hentikan jadwal karena harga, dan tetapkan batas serta syarat berhenti sebelum kamu membutuhkannya.

Mitos atau fakta?

Ketuk setiap kartu untuk membaliknya.

"Selalu DCA, jangan pernah sekaligus."

Rata-rata, sekaligus justru unggul karena biaya absen. Pilihannya bergantung pada besar dana, jangka waktu, dan ketahananmu menghadapi penurunan.

"DCA melindungiku dari rugi."

Di pasar yang turun terus, DCA tetap rugi, hanya lebih kecil. Yang dikurangi adalah risiko salah waktu masuk.

"Average down itu menurunkan risiko."

Ia membesarkan posisi pada pendapat yang sedang dibantah pasar. Investor B rugi 58,4% dari Rp75 juta.

"Harga sudah naik, jadwal cicilan kutunda dulu."

Menunda karena harga mengubah strategimu menjadi menebak arah pasar. Jadwal hanya berubah kalau alasan dasarnya berubah.

"Alasan utama DCA adalah harga rata-rata yang lebih murah."

Itu bonus kecil yang hanya muncul saat harga naik-turun. Alasan utamanya mengurangi risiko waktu dan risiko perilaku.

Cek pemahamanmu

Latihan singkat ini tidak dinilai. Kuis resmi modul ada di bagian akhir halaman.

1. Raka menyisihkan Rp200 ribu uang saku setiap bulan untuk reksa dana. Ini termasuk…

  1. Strategi memecah dana sekaligus
  2. Menyetor penghasilan rutin, yang kuncinya otomatisasi
  3. Value averaging
  4. Average down

Uang saku datang bertahap, jadi menyetornya tiap bulan bukan pilihan strategi. Yang penting adalah membuatnya otomatis.

2. Setoran Rp3 juta per bulan pada harga Rp1.000, Rp1.500, dan Rp600. Berapa harga rata-rata perolehannya?

  1. Rp1.033,33
  2. Rp1.000,00
  3. Rp600,00
  4. Rp900,00

Unit: 3.000 + 2.000 + 5.000 = 10.000. Rp9 juta ÷ 10.000 = Rp900. Rata-rata biasa Rp1.033,33 lebih tinggi.

3. Kapan memecah penempatan paling jelas kalah dibanding sekaligus?

  1. Saat harga naik mulus tanpa naik-turun
  2. Saat harga turun terus
  3. Saat harga turun dulu lalu pulih
  4. Memecah tidak pernah kalah

Saat harga naik terus, uang yang menunggu absen dari kenaikan (biaya absen), dan tidak ada harga murah yang bisa diborong.

4. Mana penambahan posisi yang termasuk akumulasi terencana?

  1. Menambah dua kali lipat karena harga "sudah diskon" 30%
  2. Menambah karena grup obrolan ramai bilang "serok bawah"
  3. Menambah sesuai jadwal tertulis, sampai bobot sasaran, dengan syarat berhenti tercatat
  4. Menambah agar harga rata-rata perolehan cepat turun

Akumulasi terencana diputuskan sebelum harga bergerak, punya batas, dan punya syarat berhenti.

5. Posisi Rp20 juta turun 50%, lalu ditambah Rp10 juta, lalu turun lagi 50%. Berapa nilainya sekarang?

  1. Rp15 juta
  2. Rp10 juta
  3. Rp5 juta
  4. Rp20 juta

20 × 0,5 = 10. Ditambah 10 → 20. Turun 50% → Rp10 juta, dari Rp30 juta yang ditaruh. Rugi 66,7%.

Ringkasan dan kamus mini

Dua "DCA": setor penghasilan rutin (bukan strategi, otomatiskan) dan pecah dana yang sudah ada (strategi).
Sekaligus: rata-rata unggul karena biaya absen, tetapi "rata-rata" bukan "selalu".
Dipecah: tidak menghapus rugi; mengurangi risiko waktu dan risiko perilaku.
Rata-rata harmonik: setoran tetap → harga perolehan ≤ rata-rata harga biasa. Bonus kecil.
Beli saat turun: akumulasi kalau terjadwal, terbatas, dan punya syarat berhenti; selain itu rasionalisasi.
Aturan tertulis: delapan butir, terutama larangan menghentikan jadwal dan syarat berhenti.

DCA
Menempatkan nominal tetap pada interval tetap.
Penempatan sekaligus (lump sum)
Menaruh seluruh dana pada satu waktu sesuai alokasi sasaran.
Biaya absen
Hasil yang hilang karena uang menunggu di luar pasar.
Imbal hasil harapan
Hasil rata-rata yang diperkirakan dalam jangka panjang, bukan jaminan.
Risiko waktu
Risiko menaruh dana tepat sebelum harga turun tajam.
Rata-rata harmonik
Harga rata-rata perolehan pada setoran tetap: total uang ÷ total unit.
Value averaging
Menetapkan nilai portofolio sasaran yang naik tetap; setoran menyesuaikan.
Average down
Menambah posisi yang rugi untuk menurunkan harga rata-rata.
Rasionalisasi
Alasan masuk akal untuk keputusan yang didorong perasaan.
Bias biaya hangus
Enggan berhenti karena tidak rela uang lama terasa sia-sia.
Bobot sasaran
Porsi yang direncanakan untuk tiap kelas aset di portofolio.

Materi ini untuk pendidikan, bukan rekomendasi membeli atau menjual produk apa pun. Jalur harga dalam contoh adalah ilustrasi; hasil investasi tidak dijamin.

Selesai membaca? Mantap!

Uji pemahamanmu dengan kuis modul (4 soal). Skor terbaiknya dihitung 20% dari nilai akhir jenjang. Ingin rincian, rumus lengkap, dan latihan tambahan? Buka naskah lengkap modul ini.