Level 3 · Pengelola Portofolio & Sistem · Modul 3
Menjaga Portofolio Tetap Hidup
Tidak ada orang yang menyerah karena "simpangan baku tahunan 16%". Orang menyerah karena saldonya tinggal separuh dan hatinya tidak kuat lagi. Di modul ini kamu belajar mengukur hal yang benar-benar membuat rencana gagal: drawdown. Lalu kamu mengenal VaR, Expected Shortfall, uji tekanan, dan pagar tertulis yang menjaga portofolio tetap berjalan.
Saat angka di layar membuat panik
Setelah modul ini, kamu bisa
- menjelaskan kenapa drawdown, bukan volatilitas, adalah risiko yang membuat investor gagal, dan menghitung kenaikan serta waktu untuk pulih;
- memperkirakan seberapa dalam drawdown yang harus disiapkan, dan kenapa ia membesar seiring panjangnya cakrawala;
- menghitung VaR dengan tiga metode, memahami batasnya, dan menghitung Expected Shortfall;
- memakai uji Kupiec dan memahami kenapa model risiko butuh bertahun-tahun data untuk divalidasi;
- merancang uji tekanan yang menyerang asumsi, menilai penargetan volatilitas dengan jujur, dan menulis Kebijakan Risiko.
Raka! Portofolioku turun 30% dari puncaknya! Jual semua sebelum habis!
PANIK!Di laporan, volatilitasnya "cuma" 16% per tahun. Kenapa rasanya separah ini bagi Pak Reza?
Karena orang tidak merasakan volatilitas, Raka. Yang dirasakan adalah jarak dari puncak ke titik sekarang. Itu namanya drawdown.
Dan itu yang membuat orang menyerah di harga terendah?
Tepat. Tugasmu: ukur seberapa dalam jatuhnya bisa terjadi, sebelum terjadi. Lalu pasang pagarnya.
Ajari aku alat ukurnya, Kak.
Dua modul sebelumnya membangun portofolio. Modul ini menjaganya tetap hidup. Kuncinya adalah satu pergeseran cara pandang: risiko yang dirasakan investor bukan naik-turun harian, melainkan kejatuhan dalam dari titik tertinggi.
Drawdown: risiko yang benar-benar terasa
Drawdown adalah seberapa jauh nilai portofolio berada di bawah puncak tertinggi sebelumnya. Kalau portofolio pernah Rp200 juta lalu sekarang Rp150 juta, drawdown-nya 25%. Drawdown terdalam sepanjang periode disebut drawdown maksimum.
bagi nilai sekarang dengan nilai tertinggi yang pernah dicapai, lalu kurangkan dari 1. Contoh: 1 − 150 ÷ 200 = 0,25, jadi drawdown 25%.
Volatilitas memang ukuran yang nyaman: mudah dihitung dan masuk ke semua rumus. Tetapi ia bukan hal yang membuat investor gagal. Ada tiga alasan.
- Pemulihan tidak simetris. Turun 50% butuh naik 100% untuk kembali. Volatilitas menganggap naik dan turun sama saja, padahal matematika kekayaan tidak.
- Drawdown adalah tempat keputusan buruk dibuat. Tidak ada yang menjual seluruh portofolionya karena simpangan bakunya tinggi. Orang menjual ketika angka di layar sudah turun jauh dan rasa sakitnya melebihi keyakinannya. Risiko terbesar sebuah rencana adalah pemiliknya berhenti menjalankannya.
- Drawdown menentukan apakah kamu masih ada untuk memanen hasil jangka panjang. Bertahan harus didahulukan sebelum bertumbuh.
- \(DD\)
- besar drawdown dalam desimal (50% = 0,50)
- \(r\)
- pertumbuhan per tahun setelah titik terendah
- \(\ln\)
- logaritma natural, tombol "ln" di kalkulator HP
setelah turun 50%, uangmu tinggal setengah. Untuk kembali, setengah itu harus jadi dua kali lipat: naik 1 ÷ 0,50 − 1 = 100%. Kalau tumbuh 8% per tahun, waktunya ln 2 ÷ ln 1,08 = 0,6931 ÷ 0,07696 = 9,01 tahun.
| Drawdown | Kenaikan untuk pulih | Tahun pulih (8%/tahun) |
|---|---|---|
| 10% | 11,11% | 1,37 |
| 20% | 25,00% | 2,90 |
| 30% | 42,86% | 4,63 |
| 40% | 66,67% | 6,64 |
| 50% | 100,00% | 9,01 |
| 60% | 150,00% | 11,91 |
| 80% | 400,00% | 20,91 |
Perhatikan lonjakannya. Dari drawdown 40% ke 80%, kejatuhannya dua kali lipat. Tetapi kenaikan yang dibutuhkan melonjak dari 66,67% ke 400%, enam kali lipat. Kerusakan drawdown tumbuh jauh lebih cepat daripada drawdown itu sendiri.
Drawdown adalah risiko yang dirasakan dan yang membuat orang berhenti. Turun 50% butuh naik 100%; turun 80% butuh naik 400%. Karena itu, menghindari kejatuhan besar lebih penting daripada mengejar kenaikan besar.
Seberapa dalam jatuhnya harus disiapkan?
Pertanyaan ini seharusnya dijawab sebelum berinvestasi, dan hampir tidak pernah dijawab. Naskah modul menjawabnya dengan simulasi 20.000 jalur kemungkinan, imbal hasil rata-rata 8% per tahun.
| Volatilitas σ | 5 tahun | 10 tahun | 20 tahun | 20 tahun (1 dari 20 terburuk) |
|---|---|---|---|---|
| 8% | 9,4% | 11,6% | 13,9% | 21,6% |
| 12% | 16,7% | 21,0% | 25,6% | 39,6% |
| 16% | 24,0% | 30,6% | 37,2% | 56,7% |
| 20% | 31,2% | 39,5% | 48,1% | 70,8% |
Angka di kolom 5, 10, dan 20 tahun adalah rata-rata drawdown maksimum. Kolom terakhir adalah persentil 95: hanya satu dari dua puluh jalur yang lebih buruk.
Tiga bacaan yang mengubah perencanaan
Pertama, drawdown membesar seiring cakrawala. Portofolio dengan volatilitas 16% diperkirakan mengalami drawdown maksimum 24,0% dalam lima tahun, tetapi 37,2% dalam dua puluh tahun. Makin lama berinvestasi, makin besar kejatuhan terburuk yang sempat kamu alami di tengah jalan.
Ini sering bertabrakan dengan nasihat "jangka panjang mengurangi risiko". Yang lebih tepat: cakrawala panjang mengurangi risiko hasil akhir yang buruk, tetapi menambah kepastian bahwa kamu akan melewati drawdown besar.
Kedua, jangan merencanakan dengan rata-rata. Untuk σ = 16% selama 20 tahun, rata-ratanya 37,2%, tetapi satu dari dua puluh jalur melampaui 56,7%. Rencana yang benar memakai persentil 95.
Ketiga, portofolio konservatif pun bisa jatuh. Pada σ = 8%, yang sebagian besar obligasi, drawdown 20 tahun masih 13,9%, dan satu dari dua puluh kali melampaui 21,6%. Tidak ada portofolio berisiko yang bebas drawdown.
Portofolio Pak Reza Rp5 miliar, volatilitas 16%, cakrawala 20 tahun. Drawdown persentil 95 = 56,7%.
Nilai di titik terburuk: Rp5 miliar × (1 − 0,567) = Rp2.165.000.000. Kerugiannya Rp2.835.000.000.
Kenaikan untuk pulih: 1 ÷ 0,433 − 1 = 130,95%.
Waktu pulih pada 8% per tahun: ln 2,3095 ÷ ln 1,08 = 0,8370 ÷ 0,07696 = 10,87 tahun.
Pertanyaan tertulis: "Portofolio saya bisa bernilai Rp2,165 miliar di titik terburuk, dan pulihnya bisa hampir 11 tahun. Apakah saya tetap menjalankan rencana ini?" Kalau jawabannya tidak, volatilitas 16% terlalu tinggi baginya. Lebih baik diketahui sekarang daripada di tahun kedelapan.
Jawaban jujur atas pertanyaan di atas yang menentukan alokasi, bukan sebaliknya. Rencanakan dengan skenario satu dari dua puluh, bukan rata-rata, dan ingat bahwa drawdown terburuk membesar seiring cakrawala.
Value at Risk: ambang, bukan dasar jurang
Value at Risk (VaR) adalah ukuran risiko yang paling sering dilaporkan. VaR 99% harian sebesar Rp140 juta artinya: pada 99% hari, kerugian tidak melebihi Rp140 juta. Pada 1% hari sisanya, sekitar 2 sampai 3 hari per tahun, kerugiannya melampaui angka itu.
Tiga metode, tiga jawaban
| Metode | Caranya | Asumsi utama |
|---|---|---|
| Parametrik | Rumus dari rata-rata dan simpangan baku | Hasil berdistribusi normal (kurva lonceng) |
| Historis | Urutkan data masa lalu, ambil 1% terburuk | Masa lalu mewakili masa depan |
| Monte Carlo | Simulasi ribuan skenario acak | Distribusi yang dipilih benar |
- \(\mu\)
- rata-rata imbal hasil harian
- \(\sigma\)
- simpangan baku harian
- \(z_{0{,}01}\)
- batas 1% terbawah kurva normal, yaitu 2,3263 simpangan baku di bawah rata-rata
ambil rata-rata harian, kurangi 2,3263 kali simpangan bakunya, lalu balik tandanya supaya kerugian ditulis positif. Contoh: rata-rata 0,0931%, simpangan baku 1,1765%: −(0,0931% − 2,3263 × 1,1765%) = 2,6438%. Pada portofolio Rp5 miliar, itu sekitar Rp132,2 juta.
Pada data yang sama (500 hari, portofolio Rp5 miliar), ketiga metode memberi angka berbeda:
| Metode | VaR 99% harian | Dalam rupiah |
|---|---|---|
| Parametrik (normal) | 2,6438% | Rp132.189.463 |
| Historis | 2,7965% | Rp139.822.662 |
| Monte Carlo (ekor gemuk, distribusi t) | 2,9646% | Rp148.227.835 |
Yang tertinggi 1,12 kali yang terendah, selisih sekitar Rp16 juta untuk portofolio dan data yang sama. Karena itu, setiap laporan VaR wajib menyebut metode, jangka waktu, dan tingkat keyakinannya. VaR tanpa tiga keterangan itu adalah angka tanpa makna.
Tiga batas VaR
1. VaR tidak bilang seberapa buruk bila ambangnya jebol. Pada data yang sama, hari terburuk yang benar-benar terjadi adalah rugi 6,1060% atau Rp305,3 juta. Itu 2,18 kali VaR historis.
2. VaR tidak subaditif. Dalam kasus tertentu, VaR gabungan dua portofolio bisa lebih besar daripada jumlah VaR masing-masing. Seolah-olah diversifikasi malah menambah risiko. Ini bertentangan dengan logika dasar, sehingga VaR bukan ukuran risiko yang "koheren".
3. VaR bisa direkayasa. Strategi yang hampir selalu untung sedikit tetapi sesekali rugi sangat besar akan tampak punya VaR rendah. Risikonya disembunyikan di luar ambang. Kalau sebuah strategi punya VaR sangat rendah tetapi hasilnya menggiurkan, curigai: risikonya mungkin dipindahkan ke tempat yang tidak diukur VaR.
VaR adalah ambang, bukan kerugian maksimum. Ia tidak menjelaskan apa yang terjadi di balik ambang. Selalu sebutkan metodenya, karena metode yang berbeda memberi angka yang berbeda.
Expected Shortfall: seberapa buruk di hari yang buruk?
Expected Shortfall (ES) menjawab pertanyaan yang sebenarnya ingin diketahui pengelola: "kalau hari buruk itu datang, rata-rata seberapa parah?"
kumpulkan semua hari yang kerugiannya melewati VaR, lalu rata-ratakan. Dari 500 hari, 1% terburuk adalah 5 hari. Rata-rata kerugian lima hari itu adalah ES historisnya: 4,1129% atau sekitar Rp205,6 juta.
Dua bacaan penting
Pertama, ES historis 1,47 kali VaR (4,1129 ÷ 2,7965). Saat hari buruk datang, kerugian rata-ratanya hampir satu setengah kali ambang yang dilaporkan.
Kedua, model normal meremehkan ekornya. Kalau datanya dianggap normal, rasio ES terhadap VaR hanya 1,15. Data sungguhan menunjukkan 1,47. Model normal tidak cuma meremehkan ambangnya. Ia juga meremehkan seberapa jauh ekor memanjang melewati ambang. Inilah yang disebut ekor gemuk.
VaR
"Kerugian jarang melebihi angka ini." Mudah dipahami semua pihak. Tetapi tidak subaditif, bisa direkayasa, dan diam tentang isi ekor.
Expected Shortfall
"Kalau melebihi, rata-ratanya segini." Subaditif (ukuran yang koheren), tidak mudah direkayasa karena memindahkan risiko ke ekor justru menaikkan ES, dan menjawab pertanyaan pengelola.
Contoh laporan risiko yang jujur
"VaR 99% harian (historis, 500 hari): Rp139.822.662. Expected Shortfall 99%: Rp205.643.489. Kerugian harian terburuk dalam data: Rp305.300.290. Model belum tervalidasi (data 500 hari, kurang dari 1.000)." Empat angka, bukan satu. Setiap angka menjawab pertanyaan yang berbeda.
Laporkan keduanya. VaR berguna sebagai bahasa bersama. Tetapi ES yang seharusnya dipakai untuk menentukan batas dalam kebijakan, karena ia melihat ke dalam ekor.
Menguji model risiko: kenapa satu tahun tidak cukup
Model VaR 99% adalah janji yang bisa diuji: "ambang ini akan dilewati sekitar 1% hari". Setiap hari yang kerugiannya melewati VaR disebut pelanggaran. Dalam 250 hari bursa (sekitar setahun), harapannya 2,5 pelanggaran.
Uji Kupiec memeriksa apakah jumlah pelanggaran masih masuk akal untuk model yang benar. Hasilnya berupa angka LR. Kalau LR di atas 3,841, model ditolak.
Model risiko Om sudah TERUJI! Setahun cuma lima kali jebol dari 250 hari. Lolos uji!
Lima dari 250 itu 2%, dua kali lipat janji model. Ujinya memang tidak menolak. Tapi tidak menolak itu bukan berarti terbukti benar.
Jadi dengan data setahun, model bagus dan model jelek bisa sama-sama lolos?
Betul. Butuh sekitar empat tahun data supaya ujinya mulai bertaji.
WADUH!| Pelanggaran dalam 250 hari | Tingkat | LR | Kesimpulan |
|---|---|---|---|
| 0 | 0,00% | 5,025 | Ditolak |
| 1 | 0,40% | 1,176 | Tidak ditolak |
| 2 | 0,80% | 0,108 | Tidak ditolak |
| 3 | 1,20% | 0,095 | Tidak ditolak |
| 5 | 2,00% | 1,957 | Tidak ditolak |
| 7 | 2,80% | 5,497 | Ditolak |
| 9 | 3,60% | 10,229 | Ditolak |
Dengan 250 hari, jumlah pelanggaran 1 sampai 6 semuanya lolos. Itu setara tingkat pelanggaran sebenarnya di mana saja antara 0,4% dan 2,4%. Rentangnya enam kali lipat. Artinya, dengan data setahun penuh, kamu tidak bisa membedakan model yang benar (1%) dari model yang meleset lebih dari dua kali lipat (2,4%). Ujinya tidak punya daya.
Dengan 1.000 hari (sekitar empat tahun), rentang yang lolos menyempit menjadi 5 sampai 16 pelanggaran, atau 0,5% sampai 1,6%. Lebih baik, tetapi masih lebar, dan butuh empat tahun.
Coba: 250 hari dengan 5 pelanggaran (2%) lolos. Lalu ubah ke 1.000 hari dengan 20 pelanggaran (juga 2%). Kini ditolak. Data lebih panjang membuat uji lebih tajam.
"Tidak ditolak" tidak sama dengan "tervalidasi". Model risiko tidak bisa dibuktikan dengan cepat. Karena itu, jangan bergantung pada satu model risiko saja: pakai VaR dan ES dengan metode tertulis, batas drawdown yang tidak bergantung model apa pun, uji tekanan, dan laporkan status validasi dengan jujur.
Rumus statistik Kupiec
Dengan \(N\) pengamatan, \(x\) pelanggaran, tingkat janji \(p\) (0,01), dan tingkat teramati \(\hat{\pi} = x/N\):
\(LR\) mengikuti distribusi \(\chi^2\) dengan 1 derajat bebas; nilai kritis 5% = 3,841. Contoh: \(N = 250\), \(x = 5\) memberi \(LR = 1{,}957\), \(p = 0{,}1619\), sehingga tidak ditolak.
Uji tekanan: serang asumsinya, bukan cuma harganya
VaR dan ES mengukur risiko di dalam dunia yang diasumsikan modelnya. Uji tekanan bertanya: apa yang terjadi kalau asumsinya sendiri yang runtuh?
Kesalahan paling umum adalah hanya menggerakkan harga: "bagaimana kalau saham turun 30%?" Pertanyaan itu terlalu mudah, karena semua asumsi lain dibiarkan normal. Padahal krisis menggerakkan banyak hal bersamaan.
| Asumsi yang diserang | Contoh skenario |
|---|---|
| Korelasi stabil | Semua korelasi melonjak ke 0,90 |
| Likuiditas tersedia | Selisih harga beli-jual melebar 5 kali; hanya 20% posisi bisa dijual dalam sehari |
| Volatilitas normal | Volatilitas semua aset berlipat dua dan bertahan 6 bulan |
| Pendanaan tersedia | Fasilitas pinjaman dicabut; tagihan jaminan harus dibayar tunai |
| Arus kas masuk berlanjut | Setoran berhenti; penarikan naik dua kali lipat |
| Model benar | Tebakan imbal hasil meleset 5 pp untuk semua aset |
Portofolio lima aset dari modul sebelumnya, volatilitas normal 9,85%.
Korelasi krisis saja (semua jadi 0,90): volatilitas naik ke 13,44%. Volatilitas ganda saja: 9,85% × 2 = 19,70%.
Keduanya bersamaan, yang justru khas saat krisis: 2 × 13,44% = 26,88%.
Kerugian 2σ (dua kali volatilitas) dalam rupiah: normal Rp985 juta; korelasi krisis Rp1.344 juta; volatilitas ganda Rp1.970 juta; gabungan Rp2.688 juta.
Gabungan bukan jumlah. Tambahan kerugian dari korelasi saja Rp359 juta, dari volatilitas saja Rp985 juta. Jumlahnya Rp1.344 juta. Tetapi gabungannya menambah Rp1.703 juta, 26,7% lebih besar, karena keduanya saling mengalikan.
Lapisan likuiditas. Kalau selisih harga beli-jual melebar dari 10 bps ke 50 bps, biaya keluar paksa seluruh portofolio = Rp5 miliar × 0,50% = Rp25 juta. Kecil dibanding kerugian pasar, tetapi ia datang tepat saat kamu paling tidak mampu menanggungnya. Pada aset yang kurang likuid, pelebarannya jauh lebih besar.
Uji tekanan terbalik
Bentuk paling berguna adalah membalik pertanyaannya: "keadaan seperti apa yang membuat portofolio ini rugi 40%? Seberapa masuk akal keadaan itu?" Untuk portofolio tadi, rugi 40% = 2σ berarti σ = 20%. Volatilitas 20% tercapai bila korelasi naik ke 0,90 dan volatilitas aset naik sekitar 49%. Tidak satu pun dari keduanya luar biasa. Keduanya terjadi bersamaan di hampir setiap periode tekanan pasar.
Kerugian besar tidak butuh bencana. Ia cukup butuh beberapa hal biasa yang terjadi bersamaan. Karena itu skenario gabungan dan uji tekanan terbalik wajib ada.
Mengendalikan risiko: anggaran dan penargetan volatilitas
Anggaran risiko
Di modul sebelumnya kamu belajar bahwa risiko bisa dibagi persis ke sumber-sumbernya. Anggaran risiko memakai pembagian itu sebagai alat kendali:
- Tetapkan anggaran risiko total (volatilitas sasaran, atau ES maksimum).
- Bagi anggaran itu ke kelas aset atau strategi.
- Turunkan bobot uang dari pembagian risiko, bukan sebaliknya.
- Pantau sumbangan risiko nyata, bukan bobot uang.
- Bertindak saat sumbangan risiko menyimpang dari anggaran, walau bobot uangnya tidak berubah.
Butir 5 yang membedakannya dari penyeimbangan ulang biasa. Bobot uang bisa tetap di sasaran, sementara sumbangan risiko bergeser jauh karena volatilitas satu kelas aset melonjak.
Penargetan volatilitas
Penargetan volatilitas menyetel besar posisi agar naik-turunnya mendekati sasaran. Saat pasar bergejolak, posisi dikecilkan. Saat tenang, posisi dibesarkan. Ini berguna karena volatilitas cenderung berkelompok: hari bergejolak biasanya diikuti hari bergejolak.
bagi volatilitas sasaran dengan volatilitas yang sedang terjadi. Sasaran 10%, volatilitas sekarang 16%: eksposur 10 ÷ 16 = 0,625 kali. Artinya hanya sekitar 62,5% dana ditaruh di aset berisiko.
Hasil simulasi naskah (20 tahun, 800 jalur, volatilitas berkelompok, biaya 2 bps per unit perubahan eksposur):
| Kebijakan | CAGR | Volatilitas | Sharpe | DD rata-rata | DD persentil 95 |
|---|---|---|---|---|---|
| Tanpa penargetan | 7,430% | 13,31% | 0,1825 | 32,0% | 52,1% |
| Sasaran 10% | 6,799% | 10,89% | 0,1652 | 25,0% | 38,4% |
| Sasaran 16% | 10,219% | 16,92% | 0,3084 | 36,6% | 54,3% |
Sasaran 10% adalah pengendali drawdown yang efektif. Drawdown persentil 95 turun dari 52,1% ke 38,4%, membaik 13,7 pp. Pada portofolio Rp5 miliar, titik terburuknya naik dari Rp2,395 miliar ke Rp3,08 miliar. Waktu pulih pada 8% per tahun turun dari 9,56 ke 6,30 tahun.
Tetapi Sharpe-nya tidak membaik. Justru turun sedikit, dari 0,1825 ke 0,1652. CAGR turun 0,631 pp per tahun. Penargetan volatilitas membeli kendali drawdown dengan imbal hasil, bukan menciptakan imbal hasil. Polanya sama dengan penyeimbangan ulang: alat disiplin, bukan mesin uang.
Jadi keputusannya bukan "mana yang lebih untung", tetapi apakah pemilik portofolio akan bertahan melewati drawdown 52,1%. Kalau tidak akan bertahan, 0,631 pp per tahun adalah harga yang sangat murah. Kalau akan bertahan, itu biaya yang sia-sia. Ini pertukaran, bukan perbaikan.
Sasaran 16% memberi Sharpe jauh lebih tinggi (0,3084). Itu bukan bukti nilai. Drawdown-nya malah tidak membaik (36,6% vs 32,0%). Kenaikan Sharpe datang dari membesarkan posisi saat tenang, yaitu ungkitan, dan dari cara simulasi itu dibangun. Apakah hal serupa berlaku di pasar nyata adalah pertanyaan yang buktinya beragam. Sharpe yang naik karena ungkitan bukan bukti proses yang lebih baik.
Uji ketahanan. Naskah modul menjalankan ulang simulasi dengan rancangan berbeda (data harian, parameter lain, benih acak lain). Angkanya berubah, tetapi ketiga kesimpulannya tetap sama: sasaran 10% memperbaiki drawdown (persentil 95 turun 19,6 pp), sasaran 10% menurunkan Sharpe, dan sasaran 16% menaikkan Sharpe tanpa memperbaiki drawdown. Kesimpulan yang bertahan di dua rancangan berbeda lebih layak dipercaya.
Pakai penargetan volatilitas bila tujuanmu membatasi drawdown, dengan sasaran di bawah volatilitas alami portofolio. Jangan memakainya dengan harapan menaikkan Sharpe.
Kebijakan Risiko: pagar yang ditulis saat tenang
Semua hitungan di atas sia-sia kalau pemilik portofolio membatalkannya di hari ke-40 sebuah drawdown. Karena itu, angka-angka tadi dikunci dalam Kebijakan Risiko yang ditulis ketika pasar tenang.
| Bagian | Isi pokoknya |
|---|---|
| 1. Batas yang ditetapkan lebih dahulu | Drawdown yang diperkirakan dan persentil 95 (sebagai perkiraan); drawdown peringatan (tinjau, jangan menambah risiko); drawdown tindakan (turunkan eksposur sekian persen, tertulis); drawdown maksimum mutlak (hentikan, tinjau seluruh mandat); ES 99% bulanan maksimum; batas sumbangan risiko satu kelas aset; batas satu penerbit. |
| 2. Pengukuran | Metode, jangka waktu, dan tingkat keyakinan VaR; ES selalu dilaporkan; jadwal uji Kupiec; status validasi (tervalidasi bila data minimal 1.000 hari). |
| 3. Uji tekanan | Minimal enam skenario yang menyerang asumsi, minimal satu skenario gabungan, satu uji tekanan terbalik, hasil didokumentasikan. |
| 4. Pengendalian | Penargetan volatilitas ya/tidak dan sasarannya; anggaran risiko per kelas aset; ungkitan diizinkan atau tidak; cadangan likuiditas yang tidak boleh dijual saat tertekan. |
| 5. Aturan perilaku | Tidak mengubah alokasi strategis selama drawdown; tindakan dijalankan menurut aturan, bukan perasaan; tinjauan terjadwal, bukan dipicu harga; bila ingin melanggar, tunggu 72 jam dan tulis alasannya dulu. |
Pak, di Kebijakan Risiko yang Bapak tanda tangani, drawdown 30% adalah ambang peringatan: kita tinjau, tapi tidak menjual panik.
Tapi saya ingin jual sekarang!
Boleh, Pak, sesuai butir 5.4: tunggu 72 jam dan tuliskan alasannya. Kita bicara lagi Kamis.
Setelah ditulis, alasan saya cuma "takut". Tujuan pensiun saya tidak berubah. Kita lanjutkan rencananya.
Nilai Kebijakan Risiko terletak pada satu hal: ia ditulis saat kamu tenang, untuk dipatuhi saat kamu tidak tenang. Batas drawdown yang ditetapkan lebih dahulu tidak bergantung pada model apa pun, sehingga tetap berlaku walau model risikonya belum tervalidasi.
Mitos atau fakta?
Ketuk setiap kartu untuk membaliknya.
"VaR 99% Rp100 juta berarti kerugianku paling banyak Rp100 juta."
VaR adalah ambang, bukan batas. Dalam contoh modul, hari terburuk 2,18 kali VaR historis.
"Makin lama berinvestasi, makin kecil kejatuhan terburuk yang kualami."
Drawdown maksimum justru membesar seiring cakrawala. Pada σ 16%: 24,0% dalam 5 tahun, 37,2% dalam 20 tahun.
"Model VaR yang lolos uji setahun berarti sudah terbukti benar."
Dengan 250 hari, model dengan tingkat pelanggaran 0,4% sampai 2,4% sama-sama lolos. Tidak ditolak bukan berarti tervalidasi.
"Uji tekanan cukup dengan skenario 'pasar turun 30%'."
Skenario yang baik menyerang asumsi: korelasi, likuiditas, pendanaan. Gabungan dua tekanan bisa 26,7% lebih buruk daripada jumlah keduanya.
"Penargetan volatilitas menaikkan Sharpe."
Sasaran 10% menurunkan Sharpe sedikit. Yang dibelinya adalah drawdown persentil 95 yang 13,7 pp lebih kecil.
Cek pemahamanmu
Latihan singkat ini tidak dinilai. Kuis resmi modul ada di bagian akhir halaman.
1. Portofolio turun 20% dari puncaknya. Berapa kenaikan yang dibutuhkan untuk kembali ke puncak?
- 20%
- 22%
- 25%
- 40%
1 ÷ (1 − 0,20) − 1 = 1 ÷ 0,80 − 1 = 25%.
2. Untuk merencanakan drawdown yang harus disiapkan, angka mana yang sebaiknya dipakai?
- Persentil 95 (satu dari dua puluh terburuk)
- Rata-rata drawdown maksimum
- Volatilitas tahunan
- Drawdown tahun lalu
Rata-rata bisa jauh terlampaui. Perencanaan yang benar memakai persentil 95.
3. Apa kelebihan utama Expected Shortfall dibanding VaR?
- Selalu lebih kecil sehingga laporan tampak lebih aman
- Tidak butuh data historis sama sekali
- Dihitung dari hari-hari biasa ketika VaR tidak dilampaui
- Merata-ratakan kerugian di balik ambang dan bersifat subaditif
ES melihat isi ekor, tidak mudah direkayasa, dan subaditif sehingga koheren.
4. Model VaR 99% mencatat 4 pelanggaran dalam 250 hari dan tidak ditolak uji Kupiec. Kesimpulan yang tepat?
- Model terbukti benar dan boleh dipakai sendirian
- Model belum terbukti salah, tetapi data setahun terlalu sedikit untuk memvalidasinya
- Model salah karena pelanggarannya bukan tepat 2,5
- Model hanya benar kalau pelanggarannya nol
Pada 250 hari, 1 sampai 6 pelanggaran sama-sama lolos. Tidak ditolak bukan tervalidasi.
5. Sasaran volatilitas 10% menurunkan drawdown persentil 95, tetapi CAGR dan Sharpe sedikit turun. Bagaimana memutuskannya?
- Selalu tolak, karena Sharpe turun
- Selalu terima, karena drawdown lebih kecil
- Bergantung pada apakah pemiliknya sanggup bertahan melewati drawdown besar tanpa penargetan
- Naikkan sasarannya ke 16% agar Sharpe ikut naik
Ini pertukaran. Bila pemilik tidak akan bertahan melewati drawdown 52,1%, biaya 0,631 pp per tahun sangat murah.
Ringkasan dan kamus mini
Drawdown: risiko yang membuat orang berhenti; turun DD butuh naik 1 ÷ (1 − DD) − 1.
Perkiraan: drawdown terburuk membesar seiring cakrawala; rencanakan dengan persentil 95.
VaR: ambang, bukan batas; tiga metode memberi tiga angka; selalu sebut metodenya.
ES: rata-rata kerugian di balik VaR; subaditif; dipakai untuk batas kebijakan.
Kupiec: setahun data tidak cukup; "tidak ditolak" bukan "tervalidasi".
Uji tekanan: serang asumsi; skenario gabungan lebih buruk daripada jumlahnya.
Penargetan volatilitas: alat pengendali drawdown, bukan penaik Sharpe.
Kebijakan Risiko: ditulis saat tenang, dipatuhi saat tidak tenang.
- Drawdown
- Penurunan dari puncak tertinggi sebelumnya.
- Drawdown maksimum
- Drawdown terdalam dalam suatu periode.
- Lama pemulihan
- Waktu dari titik terendah kembali ke puncak sebelumnya.
- Persentil 95
- Nilai yang hanya dilampaui 1 dari 20 kejadian terburuk.
- VaR (Value at Risk)
- Kerugian yang hanya dilampaui dengan peluang kecil tertentu.
- Expected Shortfall
- Rata-rata kerugian ketika VaR dilampaui.
- Subaditif
- Risiko gabungan tidak lebih besar daripada jumlah risiko bagiannya.
- Ekor gemuk
- Kejadian ekstrem lebih sering daripada perkiraan kurva normal.
- Pelanggaran VaR
- Hari ketika kerugian nyata melewati VaR.
- Uji Kupiec
- Uji apakah jumlah pelanggaran cocok dengan janji model; nilai kritis 3,841.
- Uji tekanan terbalik
- Mencari keadaan yang menyebabkan kerugian tertentu.
- Anggaran risiko
- Membagi batas risiko total ke kelas aset dan memantau sumbangan risikonya.
- Penargetan volatilitas
- Menyetel eksposur = volatilitas sasaran ÷ volatilitas saat ini.
- Kebijakan Risiko
- Dokumen batas, pengukuran, uji tekanan, kendali, dan aturan perilaku.
Materi ini untuk pendidikan, bukan rekomendasi membeli atau menjual produk apa pun. Angka-angka adalah contoh hitungan dan hasil simulasi; hasil investasi tidak dijamin.
Selesai membaca? Mantap!
Uji pemahamanmu dengan kuis modul (4 soal). Skor terbaiknya dihitung 20% dari nilai akhir jenjang. Ingin rincian, rumus lengkap, dan latihan tambahan? Buka naskah lengkap modul ini.