Level 2 · Analis · Jalur Investor · Modul 5
Membedah Tokenomics Aset Digital
"Kapitalisasinya masih kecil!" "Staking-nya 14% setahun!" Kalimat promosi aset digital terdengar meyakinkan. Di modul ini kamu memakai disiplin analis yang sama seperti saat membedah perusahaan, lalu menerapkannya pada token: berapa pasokan yang akan membanjir, siapa yang menerima pendapatannya, dan dari mana "imbal hasil" itu berasal. Kamu juga belajar kalimat paling jujur seorang analis: "aset ini tidak bisa dianalisis".
Disiplin yang sama, objek yang berbeda
Setelah modul ini, kamu bisa
- membedakan kapitalisasi pasar dan valuasi terdilusi penuh (FDV), serta menghitung dampak jadwal pembukaan token;
- menelusuri pendapatan protokol dan memeriksa apakah nilainya benar-benar mengalir ke pemegang token;
- menguraikan imbal hasil penguncian menjadi bagian riil dan bagian dilusi;
- menguji keandalan metrik rantai dengan tiga pertanyaan;
- menyatakan dengan jujur aset mana yang tidak bisa dianalisis secara fundamental.
Raka, Token A kapitalisasinya cuma US$432 juta. Masih kecil, ruang naiknya luas! Kunci juga, dapat 14% setahun!
Kak, aku sudah bisa bedah laporan keuangan dan valuasi. Token ini bisa kubedah juga, kan?
Bisa, dengan disiplin yang sama. Pertama: berapa token yang beredar, dan berapa yang masih terkunci?
Beredar 180 juta… maksimumnya 1.000 juta?! Jadi yang beredar baru 18%?
WADUH!Dan ingat: kemampuan menganalisis tidak melonggarkan batas porsimu. Aturan Level 1 tetap berlaku.
Empat modul sebelumnya membangun satu rangkaian pertanyaan untuk perusahaan: apa yang dihasilkannya, berapa harganya dibanding hasil itu, berapa nilainya dari arus kas masa depan, dan kenapa labanya tidak terkikis pesaing. Modul ini menerapkan rangkaian yang sama pada aset digital, dengan dua perbedaan penting.
| Perbedaan | Akibatnya |
|---|---|
| Pasokan token bisa berubah menurut aturan protokol | Analisis pasokan sama pentingnya dengan analisis pendapatan |
| Protokol yang menghasilkan pendapatan belum tentu membaginya ke pemegang token | Aliran nilainya harus ditelusuri secara terang |
Perbedaan kedua tidak ada padanannya di saham. Pemegang saham punya hak atas sisa laba perusahaan. Pemegang token belum tentu punya hak apa pun atas pendapatan protokol. Semuanya bergantung pada rancangan yang tertulis di kode dan dokumentasinya.
Batas ukuran posisi dari Level 1 tetap berlaku penuh di Level 2: aset digital maksimal 5% portofolio, dan maksimal 3% per aset. Bisa menganalisis tidak berarti boleh menaruh lebih banyak. Peninjauan batas baru dilakukan di Level 3, setelah manajemen risiko portofolio dikuasai.
Pakai disiplin analis yang sama, tetapi tambahkan dua pemeriksaan khusus: analisis pasokan dan penelusuran aliran nilai. Dan batas porsi tidak ikut longgar karena kamu sudah belajar analisis.
Analisis pasokan: bagian yang paling sering dilewati
Saham perusahaan jumlahnya relatif tetap. Token bisa berbeda: jumlahnya bisa bertambah sesuai jadwal. Karena itu ada tiga angka pasokan yang harus dibedakan.
| Ukuran | Artinya | Dipakai untuk |
|---|---|---|
| Pasokan beredar | Token yang sudah bisa diperdagangkan | Menghitung kapitalisasi pasar |
| Pasokan total | Sudah dibuat, termasuk yang masih terkunci | — |
| Pasokan maksimum | Batas atas menurut aturan protokol, bila ada | Menghitung valuasi terdilusi penuh |
- FDV
- valuasi terdilusi penuh (fully diluted valuation): nilai seandainya semua token sudah beredar
kapitalisasi pasar hanya menghitung token yang beredar hari ini. FDV menghitung semua token yang suatu hari akan beredar. Token A: US$2,40 × 180 juta = US$432 juta. Tetapi FDV-nya US$2,40 × 1.000 juta = US$2.400 juta.
Analogi di saham, walau tidak sempurna: bayangkan menilai perusahaan hanya dari saham yang diperdagangkan hari ini, padahal empat kali lipat jumlah saham akan diterbitkan dalam dua tahun kepada orang dalam, dengan harga jauh lebih murah. Itulah jebakan paling umum di kelas aset ini.
berapa kali lipat pasokan yang akan ada dibanding yang beredar sekarang. Token A: 1.000 ÷ 180 = 5,56 kali. Kalau rasionya 4 kali, harga harus turun 75% supaya kapitalisasi tetap sama setelah semua token beredar.
| Rasio dilusi | Tafsirnya |
|---|---|
| Mendekati 1 | Sebagian besar pasokan sudah beredar |
| 2–3 kali | Dilusi berarti akan datang |
| Di atas 4 kali | Sebagian besar nilai belum beredar. Periksa jadwal pembukaannya |
Kenapa token sebanyak itu masih terkunci? Biasanya karena dialokasikan untuk tim pendiri, investor awal, perbendaharaan protokol, dan hadiah jaringan, lalu dilepas bertahap. Itu wajar. Yang tidak wajar adalah menilai token seolah-olah token terkunci itu tidak pernah ada.
Jadwal pembukaan: kapan banjirnya datang
Jadwal pembukaan (unlock schedule) menentukan kapan dilusi terjadi. Kumpulkan empat hal: berapa token dibuka tiap periode, siapa penerimanya (tim, investor awal, perbendaharaan, hadiah jaringan), berapa harga perolehan mereka, dan sampai kapan pembukaan berlangsung. Kalau penerima membeli jauh di bawah harga pasar, dorongan untuk menjual tinggi.
Token A membuka 60 juta token per triwulan selama 8 triwulan ke depan.
Setelah 8 triwulan, pasokan beredar menjadi 180 + 8 × 60 = 660 juta.
Supaya kapitalisasi pasar tetap US$432 juta, harganya harus 432 juta ÷ 660 juta = US$0,655. Itu turun 72,7%, hanya untuk menjaga kapitalisasi tidak berubah.
Sebaliknya, supaya harga tetap US$2,40, kapitalisasi harus naik menjadi 660 juta × 2,40 = US$1.584 juta, atau 3,67 kali kapitalisasi sekarang.
Jadi pertanyaan yang benar bukan "kapitalisasinya masih kecil", melainkan: "permintaan harus tumbuh 3,67 kali dalam dua tahun hanya untuk menyerap pasokan baru. Masuk akal?"
Uji daya serap pasar
seberapa besar banjir token dibanding kemampuan pasar menampungnya. Token A: 60 juta token × US$2,40 = US$144 juta per triwulan. Transaksi harian rata-rata US$6 juta, jadi sekitar US$540 juta per 90 hari. Tekanan = 144 ÷ 540 = 26,7%.
Porsi beredar dan jadwal pembukaan wajib muncul di bagian RISIKO, bukan hanya di bagian tokenomics. Kesalahan ini lazim dan tidak perlu niat buruk: datanya disajikan jujur di satu bagian, tetapi akibatnya tidak dibawa ke bagian tempat pembaca mencari risiko.
Hitung tiga hal dari tabel pasokan: porsi beredar, rasio dilusi, dan penurunan harga yang dibutuhkan agar kapitalisasi tetap. Lalu lihat jadwal pembukaan dan tekanannya terhadap volume perdagangan. Di kelas aset ini, analisis pasokan sering lebih menentukan daripada analisis permintaan.
Contoh dari tabel pasokan lain
Pasokan beredar 1,10 miliar dari maksimum 5,0 miliar. Porsi beredar = 1,10 ÷ 5,0 = 22,0%. Rasio dilusi = 5,0 ÷ 1,10 = 4,545 kali. Penurunan harga agar kapitalisasi terdilusi penuh sama dengan kapitalisasi hari ini = 1 − 0,22 = 78,0%.
| Porsi sisa (3,9 miliar) yang terbuka | Tambahan token | Kenaikan pasokan beredar |
|---|---|---|
| 20% dalam 1 tahun | +0,78 miliar | +70,9% |
| 45% dalam 2 tahun | +1,75 miliar | +159,5% |
Pendapatan protokol: siapa yang menerimanya?
Banyak protokol memungut biaya dari penggunanya, mirip jalan tol memungut tarif. Tetapi ada dua pertanyaan yang harus dipisahkan.
Pertanyaan 1
Apakah protokol menghasilkan pendapatan? Jawabannya dicari di data biaya jaringan atau protokol.
Pertanyaan 2
Apakah pemegang token menerimanya? Jawabannya dicari di rancangan akrual nilai. Pertanyaan inilah yang menentukan, dan paling sering tidak ditanyakan.
| Mekanisme | Cara kerjanya | Padanan di saham |
|---|---|---|
| Pembakaran (burn) | Sebagian biaya dipakai membeli lalu memusnahkan token | Pembelian kembali saham |
| Bagi hasil | Sebagian biaya dibagikan ke pemegang yang mengunci token | Dividen |
| Hak tata kelola saja | Token hanya memberi hak suara | Saham tanpa hak ekonomi |
| Utilitas | Token dibutuhkan untuk memakai jaringan | Tidak ada padanan langsung |
| Tidak ada | Pendapatan masuk ke pihak lain | — |
Baris ketiga dan kelima paling sering ditemukan dan paling sering disalahpahami. Protokol bisa meraup pendapatan besar, sementara pemegang tokennya tidak menerima apa pun.
Pertanyaan pemeriksa yang wajib
"Kalau protokol ini menghasilkan pendapatan besar selama sepuluh tahun, dan harga token tidak pernah naik, apakah aku menerima sesuatu?" Kalau jawabannya "tidak", nilai token sepenuhnya bergantung pada berapa yang orang lain mau bayar. Itu kategori aset yang tidak menghasilkan, seberhasil apa pun protokolnya.
padanan kasar PER: berapa kali lipat yang dibayar pasar untuk setiap US$1 nilai yang benar-benar sampai ke pemegang token setahun. Padanannya tidak sempurna, karena pendapatan protokol bisa sangat naik-turun mengikuti siklus, tidak ada standar akuntansi yang diaudit, dan pendapatannya bisa berasal dari aktivitas sementara.
Biaya yang dibayar pengguna US$48 juta. 60% (US$28,8 juta) ke penyedia layanan atau validator. 15% (US$7,2 juta) ke perbendaharaan protokol. Hanya 25% (US$12 juta) mengalir ke pemegang token lewat pembakaran.
Kapitalisasi pasar US$360 juta. Dibanding total biaya: 360 ÷ 48 = 7,50 kali. Angka ini sering dikutip sebagai bukti "murah".
Dibanding nilai yang sampai ke pemegang: 360 ÷ 12 = 30,00 kali. Inilah angka yang relevan bagi pemegang token. Selisihnya 4 kali lipat, karena 75% biaya tidak sampai ke mereka.
Uji pemeriksa: apakah pemegang menerima sesuatu kalau harga tidak naik? Ya, lewat pembakaran: pasokan berkurang, porsi kepemilikan naik. Jadi Protokol B bisa dianalisis secara fundamental.
Laju pembakaran: 12 ÷ 360 = 3,33% pasokan per tahun. Tetapi kalau protokol yang sama menerbitkan token baru 6% per tahun sebagai hadiah jaringan, perubahan pasokan bersihnya +6,00% − 3,33% = +2,67% per tahun. Pasokan tetap bertambah.
Pisahkan "protokol menghasilkan pendapatan" dari "pemegang token menerimanya". Hitung rasio terhadap nilai yang benar-benar sampai ke pemegang. Dan hitung pasokan secara bersih: pembakaran dikurangi penerbitan baru. Menyebut token "deflasioner" hanya karena ada pembakaran adalah kesalahan yang sangat umum.
Imbal hasil penguncian: riil atau cuma dilusi?
Promosi yang lazim: "Kunci token ini dan dapatkan 14% per tahun." Mengunci token disebut penguncian (staking). Pertanyaan pertama seorang analis: dari mana 14% itu berasal?
| Sumber imbal hasil | Sifatnya |
|---|---|
| Penerbitan token baru | Bukan imbal hasil. Ini dilusi yang dibagikan |
| Bagi hasil dari biaya yang dibayar pengguna | Imbal hasil riil |
| Campuran keduanya | Harus diuraikan |
- imbal hasil nominal
- angka yang dipromosikan, misalnya 14%
- inflasi pasokan
- laju pertambahan jumlah token per tahun
rumus ini mengukur perubahan porsi kepemilikanmu terhadap seluruh token, karena itulah yang sebenarnya berubah. Pengurangan biasa (14% − 11%) hanya perkiraan kasar. Protokol C: 1,14 ÷ 1,11 − 1 = +2,70%.
Kalau mengunci: porsi kepemilikan berubah 1,14 ÷ 1,11 − 1 = +2,70% per tahun.
Kalau tidak mengunci (hanya memegang): 1,00 ÷ 1,11 − 1 = −9,91% per tahun. Porsimu menyusut.
Selisih keduanya: 2,70% − (−9,91%) = 12,61 poin persen. Selisih ini nyata, tetapi sebagian besar adalah "menghindari pengenceran", bukan imbal hasil.
| Kalimat yang menyesatkan | Kalimat yang akurat |
|---|---|
| "Imbal hasil 14% per tahun" | "Porsi kepemilikan naik 2,70% per tahun bila mengunci" |
| "Lebih tinggi dari deposito" | "Ini bukan imbal hasil atas modal, melainkan pembagian token baru" |
| — | "Tidak mengunci berarti terdilusi 9,91% per tahun" |
Di kelas aset ini, angka imbal hasil yang dipromosikan hampir tidak pernah bisa dibandingkan langsung. Uraikan dulu menjadi bagian riil dan bagian dilusi, persis seperti imbal hasil nominal harus dikoreksi inflasi. Pada protokol berinflasi tinggi, mengunci token sering hanya cara menghindari dilusi.
Kenapa dibagi, bukan dikurangi?
Misalkan total pasokan 100 token dan kamu memegang 10 token, yaitu 10% dari semua token. Protokol menerbitkan 11 token baru dalam setahun, sehingga total menjadi 111 token. Kalau kamu mengunci dan mendapat 14%, tokenmu menjadi 11,4. Porsimu kini 11,4 ÷ 111 = 10,27%, naik 2,70% dari 10%. Kalau tidak mengunci, tokenmu tetap 10 dan porsimu 10 ÷ 111 = 9,01%, turun 9,91%. Perhitungan pembagian \( (1{,}14 \div 1{,}11) - 1 \) memberi tepat hasil ini. Pengurangan biasa (14% − 11% = 3%) hanya perkiraan kasar yang sedikit melebih-lebihkan.
Imbal hasil dua digit yang tampak jauh di atas instrumen biasa hampir selalu punya penjelasan yang tidak disebut di iklannya. Prinsip lamanya tetap berlaku: angka yang terlalu bagus tanpa mekanisme yang jelas patut dicurigai sampai terbukti sebaliknya.
Metrik rantai: terbuka belum tentu benar
Data di rantai (on-chain) terbuka untuk semua orang. Ini keunggulan nyata dibanding banyak pasar lain. Tetapi keterbukaan tidak sama dengan kebenaran.
| Metrik | Katanya mengukur | Bisa terdistorsi karena |
|---|---|---|
| Alamat aktif | Jumlah pengguna | Satu orang bisa punya ribuan alamat |
| Volume transaksi | Aktivitas ekonomi | Bisa dibesarkan dengan jual-beli berulang antar-alamat sendiri |
| Nilai terkunci | Kepercayaan dan adopsi | Bisa terhitung ganda antarprotokol; bisa ditarik seketika |
| Jumlah transaksi | Penggunaan | Transaksi bernilai sangat kecil bisa mendominasi |
| Jumlah pemegang | Basis pemilik | Sebarannya lebih penting daripada jumlahnya |
| Uji | Pertanyaannya |
|---|---|
| 1. Biaya memalsukan | Seberapa mahal bagi seseorang untuk membesarkan angka ini? |
| 2. Konsistensi | Apakah metrik ini sejalan dengan metrik lain yang lebih sulit dipalsukan? |
| 3. Kegigihan | Apakah angkanya bertahan ketika insentif (hadiah, kampanye) dihentikan? |
Uji ketiga sering paling membongkar. Aktivitas yang muncul selama program hadiah lalu menghilang setelahnya bukan adopsi. Itu respons terhadap subsidi. Metrik yang relatif sulit dipalsukan adalah biaya yang benar-benar dibayar pengguna, karena memalsukannya berarti membayar biaya sungguhan.
Siapa yang memegang, siapa yang mengatur
| Yang diperiksa | Kenapa penting |
|---|---|
| Porsi milik tim dan investor awal | Potensi tekanan jual; apakah kepentingannya searah dengan pemegang lain |
| Porsi perbendaharaan protokol | Bisa dikeluarkan menurut keputusan tata kelola |
| Konsentrasi alamat terbesar | Beberapa alamat bisa menggerakkan harga |
| Ambang tata kelola | Bisakah sekelompok kecil mengubah aturan? |
Ini mirip memeriksa pihak berelasi di laporan keuangan: siapa yang bisa mengubah aturan yang menjadi dasar tesismu, dan apa kepentingan mereka? Risiko khususnya: aturan protokol bisa diubah lewat pemungutan suara. Tesis yang bersandar pada mekanisme akrual nilai tertentu bisa dibatalkan oleh voting. Risiko ini tidak punya padanan langsung di instrumen konvensional.
Uji setiap metrik rantai dengan tiga pertanyaan: biaya memalsukan, konsistensi, kegigihan. Lalu periksa siapa yang memegang dan siapa yang bisa mengubah aturan.
Kalimat paling jujur: "aset ini tidak bisa dianalisis"
Ini bagian paling penting secara etis di modul ini. Sebagian besar aset digital tidak bisa dianalisis secara fundamental, karena tidak menghasilkan pendapatan, tidak punya mekanisme akrual nilai, dan nilainya sepenuhnya bergantung pada permintaan spekulatif.
Aku sudah riset tiga malam soal token ini. Karena sudah riset, porsinya kunaikkan jadi 30% portofolio.
Pak, tokennya menghasilkan pendapatan? Ada yang mengalir ke pemegang?
Eh… tidak ada, sih. Nilainya dari permintaan saja.
Berarti itu spekulasi, Pak. Sah, asal disadari. Tapi "sudah riset" tidak membuatnya boleh 30%. Batasnya tetap 3% per aset.
Kesimpulan analitis yang jujur untuk aset seperti itu
"Aset ini tidak bisa dinilai dengan metode fundamental. Harga berapa pun bisa dibenarkan atau dibantah sama mudahnya. Keputusan memilikinya adalah keputusan spekulatif, dan ukuran posisinya harus diperlakukan demikian."
Ini bukan penilaian moral. Spekulasi yang disadari sebagai spekulasi dan diberi porsi yang sesuai adalah keputusan yang sah. Yang tidak sah adalah membungkus spekulasi dengan bahasa analitis, sehingga terasa seperti investasi berbasis riset, lalu memakai alasan "sudah riset" untuk menaruh porsi lebih besar.
| Kalau… | Maka… |
|---|---|
| Sumber nilai bisa diuraikan dan aliran nilainya ke pemegang jelas | Boleh menyusun tesis fundamental |
| Sumber nilai tidak bisa diuraikan | Wajib ditulis sebagai spekulatif dalam tesis, dengan ukuran posisi yang mengikutinya |
Pasokan. Berapa porsi yang sudah beredar? Berapa rasio dilusinya? Kapan dan kepada siapa token terkunci dibuka?
Pendapatan. Apakah protokol menghasilkan biaya yang dibayar pengguna sungguhan, bukan sekadar volume?
Aliran nilai. Kalau harga tidak pernah naik, apakah aku menerima sesuatu? Lewat pembakaran, bagi hasil, atau tidak sama sekali?
Imbal hasil. Dari mana angka penguncian berasal? Berapa riilnya setelah inflasi pasokan?
Kendali. Siapa yang memegang porsi besar, dan siapa yang bisa mengubah aturan lewat tata kelola? Kalau jawaban nomor 2 dan 3 kosong, tulis asetnya sebagai spekulatif, lalu sesuaikan porsinya.
Analis yang jujur berani berkata "aset ini tidak bisa dianalisis". Spekulasi boleh, asal disebut spekulasi dan porsinya kecil. Riset tidak pernah menjadi alasan untuk melonggarkan batas porsi.
Mitos atau fakta?
Ketuk setiap kartu untuk membaliknya.
"Kapitalisasi pasarnya masih kecil, jadi ruang naiknya besar."
Kalau pasokan beredar baru 18%, FDV-nya bisa 5,56 kali lipat. Permintaan harus tumbuh besar hanya untuk menyerap token baru.
"Protokolnya untung besar, jadi tokennya pasti bernilai."
Belum tentu. Kalau pendapatan tidak mengalir ke pemegang token, token itu tetap aset yang tidak menghasilkan.
"Ada pembakaran token, berarti deflasioner."
Hitung bersih. Pembakaran 3,33% dengan penerbitan 6% tetap menambah pasokan 2,67% per tahun.
"Staking 14% lebih menguntungkan daripada staking 5%."
Kalau 14% berasal dari penerbitan baru dengan inflasi pasokan 11%, riilnya 2,70%. Staking 5% dari biaya pengguna tanpa inflasi pasokan riilnya 5%.
"Data on-chain itu terbuka, jadi pasti jujur."
Alamat aktif dan volume murah untuk dipalsukan. Uji biaya memalsukan, konsistensi, dan kegigihannya.
Cek pemahamanmu
Latihan singkat ini tidak dinilai. Kuis resmi modul ada di bagian akhir halaman.
1. Harga token US$1,50, pasokan beredar 200 juta, pasokan maksimum 800 juta. FDV-nya…
- US$300 juta
- US$1.200 juta
- US$533 juta
- US$4 juta
FDV = harga × pasokan maksimum = 1,50 × 800 juta = US$1.200 juta. Kapitalisasi pasarnya hanya US$300 juta.
2. Dari soal 1, berapa persen harga harus turun agar kapitalisasi tetap sama setelah semua token beredar?
- 25%
- 4%
- 50%
- 75%
Porsi beredar 200 ÷ 800 = 25%. Harga harus turun 1 − 0,25 = 75%. Rasio dilusinya 4 kali.
3. Imbal hasil penguncian 10%, inflasi pasokan 10%. Apa yang terjadi pada porsi kepemilikanmu kalau mengunci?
- Tetap; imbal hasil riilnya nol
- Naik 10%
- Naik 20%
- Turun 10%
1,10 ÷ 1,10 − 1 = 0%. Mengunci hanya menjaga porsimu dari pengenceran.
4. Metrik rantai mana yang paling sulit dipalsukan?
- Jumlah alamat aktif
- Volume transaksi
- Biaya yang benar-benar dibayar pengguna
- Jumlah transaksi
Memalsukan biaya berarti membayar biaya sungguhan. Alamat dan volume bisa dibuat murah.
5. Sebuah token hanya memberi hak suara, tanpa bagian pendapatan apa pun. Sikap analis yang tepat…
- Menghitung PER dari total pendapatan protokol
- Menyatakan sumber nilainya tidak bisa diuraikan; perlakukan sebagai spekulasi dengan porsi kecil
- Menambah porsi karena sudah diriset
- Menyimpulkan token pasti tidak bernilai
Tanpa akrual nilai, tidak ada dasar fundamental. Itu bukan berarti pasti tak bernilai, tetapi keputusannya spekulatif dan porsinya harus mengikuti.
Ringkasan dan kamus mini
Pasokan: kapitalisasi = harga × beredar; FDV = harga × maksimum; rasio dilusi = maksimum ÷ beredar. Cek jadwal pembukaan dan tekanannya terhadap volume.
Akrual nilai: "menghasilkan" ≠ "pemegang menerima". Hitung rasio terhadap nilai yang sampai ke pemegang, dan pasokan secara bersih.
Penguncian: riil = (1 + nominal) ÷ (1 + inflasi pasokan) − 1.
Metrik rantai: uji biaya memalsukan, konsistensi, kegigihan.
Batas: berani bilang "tidak bisa dianalisis". Batas porsi Level 1 tetap: 5% portofolio, 3% per aset.
- Pasokan beredar
- Token yang sudah bisa diperdagangkan.
- Pasokan maksimum
- Batas atas jumlah token menurut aturan protokol.
- Kapitalisasi pasar
- Harga × pasokan beredar.
- FDV
- Valuasi terdilusi penuh: harga × pasokan maksimum.
- Rasio dilusi
- FDV ÷ kapitalisasi pasar = pasokan maksimum ÷ pasokan beredar.
- Jadwal pembukaan
- Jadwal kapan token terkunci mulai boleh diperdagangkan.
- Tekanan pembukaan
- Nilai token yang dibuka ÷ nilai transaksi pada periode yang sama.
- Akrual nilai
- Mekanisme yang membuat pendapatan protokol mengalir ke pemegang token.
- Pembakaran
- Memusnahkan token, sehingga pasokan berkurang.
- Penguncian (staking)
- Mengunci token di protokol untuk mendapat imbalan.
- Inflasi pasokan
- Laju pertambahan jumlah token per tahun.
- Imbal hasil riil
- Perubahan porsi kepemilikan setelah memperhitungkan inflasi pasokan.
- Metrik rantai
- Data aktivitas di blockchain, misalnya alamat aktif dan biaya.
Materi ini untuk pendidikan, bukan rekomendasi membeli, menjual, atau mengunci token apa pun. Token A, Protokol B, C, dan D adalah rekaan. Aset digital sangat berisiko dan hasilnya tidak dijamin.
Selesai membaca? Mantap!
Uji pemahamanmu dengan kuis modul (4 soal). Skor terbaiknya dihitung 20% dari nilai akhir jenjang. Ingin rincian, rumus lengkap, dan latihan tambahan? Buka naskah lengkap modul ini.