Level 2 · Analis · Modul 2
Ombak dari Seberang: Likuiditas Global dan Bank Sentral
Kenapa rupiah bisa melemah padahal tidak ada kejadian besar di Indonesia? Kenapa "bank sentral cetak uang" tidak otomatis membuat harga bakso meroket? Dan kenapa saham luar negeri yang turun bisa justru untung dalam rupiah? Di modul ini kamu belajar membaca ombak keuangan dunia yang sampai ke pantai kita.
Rupiah melemah, padahal di sini tenang-tenang saja
Setelah modul ini, kamu bisa
- menjelaskan cara kerja neraca bank sentral, pelonggaran kuantitatif (QE), dan pengetatan kuantitatif (QT);
- membedakan uang primer, uang beredar, dan kredit, serta kenapa ketiganya tidak selalu bergerak bersama;
- menjelaskan peran dolar sebagai mata uang cadangan dan dampaknya bagi negara berkembang;
- menghitung imbal hasil yang dilihat investor asing setelah kurs bergerak, dan titik impasnya;
- menjelaskan trilema kebijakan dan kenapa kurs rupiah mengambang;
- menilai kerentanan eksternal dengan angka, tanpa mengubahnya menjadi ramalan krisis.
Rupiah melemah lagi. Padahal di Indonesia nggak ada kejadian apa-apa. Aneh, kan?
Itu karena bank sentral luar negeri cetak uang triliunan! Inflasi pasti meledak. Pindahkan SEMUA tabunganmu ke emas!
"Cetak uang", "pasti", "semua". Tiga kata itu dalam satu kalimat bikin aku curiga.
Bagus, Sari. Uang bank sentral tidak langsung masuk dompet orang. Ada rantai panjang yang sering putus di tengah.
Hari ini kita telusuri ombaknya: dari bank sentral dunia, lewat dolar, sampai ke rupiah dan portofoliomu.
Jadi aku harus pantau berita luar negeri juga?
BYUR!Di modul sebelumnya, Raka belajar siklus ekonomi dan suku bunga di dalam negeri. Tetapi Indonesia bukan pulau yang terkunci. Pasar keuangan kita tersambung dengan dunia. Modul ini memperluas lensanya.
Kolam kecil di tepi laut besar
Indonesia adalah perekonomian terbuka. Barang, jasa, dan uang bebas keluar-masuk. Akibatnya ada satu kenyataan penting:
Banyak pergerakan besar di pasar keuangan Indonesia dipicu kejadian di luar Indonesia, bukan kondisi di dalam negeri. Ini bukan pesimisme. Ini akibat wajar dari ukuran pasar kita yang relatif kecil dibanding pasar dunia.
Ada tiga "pintu air" yang menghubungkan kita dengan laut keuangan dunia:
| Saluran | Cara kerjanya |
|---|---|
| Arus modal portofolio | Investor dunia memindahkan dana masuk atau keluar dari negara berkembang |
| Nilai tukar (kurs) | Harga yang menyeimbangkan arus masuk dan keluar itu |
| Biaya pendanaan | Suku bunga dunia memengaruhi biaya utang pemerintah dan perusahaan |
Kalau kamu hanya memantau data Indonesia, kamu akan berulang kali terkejut oleh gerakan yang sumbernya tidak kamu pantau.
Neraca bank sentral: dapur di balik layar
Bank sentral punya catatan harta dan kewajiban, sama seperti lembaga lain. Catatan ini disebut neraca. Di sisi kiri ada aset (yang dimiliki). Di sisi kanan ada liabilitas (kewajiban kepada pihak lain).
| Aset (yang dimiliki) | Liabilitas (kewajiban) |
|---|---|
| Surat berharga negara | Cadangan perbankan (saldo bank-bank di bank sentral) |
| Surat berharga lain | Uang kartal beredar (uang kertas dan logam) |
| Cadangan devisa | Simpanan pemerintah |
| Pinjaman ke perbankan | Modal |
QE: bank sentral memborong surat berharga
Pelonggaran kuantitatif (QE) terjadi ketika bank sentral membeli surat berharga dari pasar. Akibatnya bersifat mekanis:
- Aset bank sentral naik, karena surat berharganya bertambah.
- Liabilitasnya juga naik, karena bank sentral membayar dengan menambah cadangan perbankan.
- Surat berharga di pasar jadi lebih sedikit. Harganya naik, sehingga imbal hasilnya turun.
Pengetatan kuantitatif (QT) adalah kebalikannya. Bank sentral membiarkan surat berharganya jatuh tempo tanpa membeli pengganti, atau menjualnya. Cadangan perbankan berkurang, surat berharga di pasar bertambah, dan imbal hasil cenderung naik.
Salah paham
"QE mencetak uang yang langsung beredar di masyarakat."
"QE pasti menyebabkan inflasi."
Kenyataannya
QE menciptakan cadangan perbankan, bukan uang di dompet orang. Cadangan baru masuk ekonomi riil bila bank menyalurkan kredit.
Hubungannya tidak langsung. Pernah ada masa panjang QE besar dengan inflasi rendah.
Bagi analis, yang penting bukan besarnya neraca bank sentral, melainkan arah perubahannya dan kejutannya. Pasar sudah memperhitungkan rencana yang diumumkan. Yang menggerakkan harga adalah penyimpangan dari rencana itu.
Uang primer, uang beredar, kredit: rantai yang bisa putus
Tiga istilah ini sering dianggap sama. Padahal bedanya menjelaskan kenapa "cetak uang" tidak otomatis berarti harga-harga melonjak.
| Jenis | Isinya | Dikendalikan oleh |
|---|---|---|
| Uang primer (M0) | Uang kartal + cadangan perbankan | Bank sentral, langsung |
| Uang beredar sempit (M1) | Uang kartal + simpanan giro | Bank sentral, tidak langsung |
| Uang beredar luas (M2) | M1 + deposito dan tabungan | Sistem perbankan + permintaan kredit |
| Kredit | Pinjaman yang disalurkan ke ekonomi riil | Bank + kemauan peminjam |
Buku pelajaran sederhana bilang: uang primer dikalikan "pengganda" menjadi uang beredar. Kenyataannya, rantai ini bisa putus di dua titik.
Ketika rantainya putus, cadangan perbankan menumpuk tanpa menjadi kredit. Itulah sebabnya QE besar bisa terjadi tanpa inflasi tinggi. Yang sering naik justru harga aset, bukan harga barang sehari-hari.
Pantau pertumbuhan kredit, bukan hanya neraca bank sentral. Kredit adalah titik di mana kebijakan moneter benar-benar menyentuh ekonomi riil. Neraca bank sentral hanya mengukur "bahan bakunya". Kredit mengukur apakah rantainya tersambung.
Dolar, sang mata uang cadangan dunia
Dolar Amerika Serikat punya peran khusus. Ia disebut mata uang cadangan, karena:
- sebagian besar perdagangan komoditas dunia diberi harga dalam dolar;
- sebagian besar utang lintas negara diterbitkan dalam dolar;
- sebagian besar cadangan devisa bank sentral di dunia disimpan dalam dolar.
Dolar melemah
Beban utang dolar menurun. Modal cenderung masuk ke negara berkembang. Kondisi keuangan melonggar.
Dolar menguat
Beban utang dolar meningkat. Modal cenderung keluar. Kondisi keuangan mengetat.
Bagaimana mekanismenya? Bayangkan perusahaan Indonesia yang berutang dalam dolar tetapi pendapatannya rupiah. Saat dolar menguat, jumlah dolarnya tetap. Tetapi rupiah yang harus disiapkan untuk membayarnya membengkak, tanpa ada yang berubah pada usahanya.
Perusahaan punya utang US$10 juta. Kurs awal Rp15.000 per dolar. Dalam rupiah: 10 juta × 15.000 = Rp150 miliar.
Rupiah melemah, kurs menjadi Rp16.200 per dolar. Dalam rupiah: 10 juta × 16.200 = Rp162 miliar.
Utangnya membengkak Rp12 miliar (8%). Jumlah dolarnya tidak berubah sedikit pun. Bila ini terjadi serentak pada banyak perusahaan, ia menjadi tekanan bagi seluruh sistem.
Hubungan "dolar kuat, negara berkembang tertekan" adalah kecenderungan sejarah yang kuat, tetapi tidak mutlak. Ia bisa diredam oleh harga komoditas ekspor yang tinggi, neraca transaksi berjalan yang kuat, atau selisih suku bunga riil yang menarik. Jangan pernah memakai satu variabel sebagai penjelasan tunggal.
Sisi baiknya: aset luar negeri dalam rupiah
Kalau kamu memegang aset dalam dolar, pelemahan rupiah justru menolongmu. Hasil dalam rupiah adalah gabungan dua gerakan: gerakan asetnya dalam dolar, dan gerakan kurs dolar terhadap rupiah.
- \(r_{\text{dolar}}\)
- perubahan nilai aset dalam dolar
- \(\Delta_{\text{kurs}}\)
- perubahan harga dolar dalam rupiah (positif berarti rupiah melemah)
Dalam bahasa sehari-hari: kalikan dua gerakan, jangan dijumlahkan. Saham global turun 8% dalam dolar, sementara dolar naik 12% terhadap rupiah: 0,92 × 1,12 − 1 = +3,04%. Rugi di dolar, untung di rupiah.
Untuk investasi lintas mata uang, kalikan gerakan aset dan gerakan kurs, jangan dijumlahkan. Pelemahan rupiah bekerja sebagai penyangga bagi pemilik aset berdenominasi asing.
Kenapa bunga tinggi tidak selalu menarik modal
Investor asing tidak hanya melihat angka bunga. Mereka melihat selisih imbal hasil yang sudah disesuaikan risiko. Langkah pertamanya adalah membandingkan suku bunga riil, yaitu bunga setelah dikurangi inflasi.
- \(i\)
- imbal hasil atau suku bunga nominal
- \(\pi\)
- dibaca "pi": inflasi
Dalam bahasa sehari-hari: hitung bunga riil di sini, hitung bunga riil di sana, lalu kurangkan. SBN 6,90% dengan inflasi 3,10% memberi riil 3,80%. Obligasi negara acuan 4,20% dengan inflasi 2,40% memberi riil 1,80%. Selisih riilnya 2,00 poin persentase.
Selain selisih riil, ada dua faktor lain. Pertama, perkiraan arah kurs: imbal hasil tinggi tidak ada artinya bila mata uangnya diperkirakan melemah lebih besar. Kedua, premi risiko negara: persepsi risiko fiskal, politik, dan likuiditas pasar.
SBN 10 tahun memberi 6,90%. Obligasi negara acuan dalam dolar memberi 4,20%. Selisih nominalnya 2,70 pp. Tampak menarik.
Bagi investor asing, hasil dalam dolar = (1 + imbal hasil SBN) × (1 − pelemahan rupiah) − 1. Kalau rupiah melemah 3%: 1,069 × 0,97 − 1 = 3,69%. Lebih rendah dari 4,20%!
Titik impas: berapa pelemahan maksimum agar hasilnya tetap setara 4,20%? Selesaikan 1,069 × (1 − x) = 1,042. Hasilnya x = 1 − 1,042 ÷ 1,069 = 2,53%.
Tafsir: selisih 2,70 pp yang menggoda itu lenyap seluruhnya bila rupiah melemah lebih dari 2,53% setahun. Bagi investor asing, imbal hasil SBN dan pandangan kurs adalah satu paket.
Dari sini kamu bisa melihat kenapa kenaikan suku bunga tidak selalu menguatkan mata uang. Yang menentukan arus modal adalah selisih bunga riil dan persepsi risiko. Kenaikan bunga nominal yang disertai inflasi lebih tinggi tidak menambah bunga riil. Dan bila kenaikan itu dibaca pasar sebagai tanda tekanan, perkiraan pelemahan kurs bisa lebih besar daripada tambahan bunganya.
Ini juga menjelaskan kenapa arus modal bisa berbalik cepat. Pada selisih yang tipis, perubahan kecil pada perkiraan kurs sudah cukup membalik hitungan. Karena banyak investor menghitung dengan cara serupa, mereka keluar bersamaan.
Keunggulan diam-diam investor domestik. Kalau kebutuhanmu dalam rupiah, kamu menerima 6,90% dari SBN itu langsung dalam mata uang kebutuhanmu. Kamu tidak menanggung risiko kurs seperti investor asing. Kamu tidak perlu "mengalahkan" investor global di permainan yang sama, karena kamu bermain di kolom yang berbeda.
Rumus titik impas kurs
Misalkan \(y\) imbal hasil SBN, \(a\) imbal hasil alternatif dalam dolar, dan \(x\) pelemahan rupiah. Investor asing indiferen ketika \((1 + y)(1 - x) = 1 + a\), sehingga \(x^{*} = 1 - \dfrac{1 + a}{1 + y}\). Untuk \(y = 6{,}90\%\) dan \(a = 4{,}20\%\): \(x^{*} = 1 - 1{,}042/1{,}069 \approx 2{,}53\%\).
Contoh lain dalam naskah: SBN 6,8% dengan pelemahan rupiah 3% memberi \(1{,}068 \times 0{,}97 - 1 \approx 3{,}60\%\) dalam dolar, di bawah alternatif dolar 4,5%.
Trilema: pilih dua dari tiga
Ada satu aturan besar dalam ekonomi internasional yang disebut trilema kebijakan. Sebuah negara tidak bisa memiliki ketiga hal ini sekaligus:
- Kurs tetap
- Arus modal bebas
- Kebijakan moneter mandiri (bebas mengatur suku bunga sendiri)
| Pilihan dua hal | Yang dikorbankan | Bentuk kebijakannya |
|---|---|---|
| Kurs tetap + modal bebas | Kemandirian moneter | Suku bunga mengikuti negara acuan |
| Kurs tetap + moneter mandiri | Arus modal bebas | Pembatasan arus modal |
| Modal bebas + moneter mandiri | Kurs tetap | Kurs mengambang (posisi Indonesia) |
Apa artinya bagimu? Kurs rupiah akan naik-turun. Itu bukan tanda kebijakan gagal, melainkan akibat pilihan. Bank sentral boleh melakukan stabilisasi agar gejolaknya tidak berlebihan, tetapi tidak menetapkan kurs di angka tertentu. Stabilisasi itu memakai cadangan devisa. Karena itu cadangan devisa adalah indikator kerentanan yang penting.
Kurs mengambang adalah penyerap guncangan yang dipilih dengan sadar. Ia harga yang dibayar Indonesia untuk tetap bebas menarik modal dunia sekaligus bebas mengatur suku bunganya sendiri.
Dari ombak dunia ke portofoliomu
Berikut rantai lengkapnya. Kebijakan atau likuiditas dunia berubah. Selisih imbal hasil riil dan selera risiko ikut berubah. Arus modal ke Indonesia berubah. Lalu kurs, imbal hasil SBN, dan harga saham bergerak. Beban utang valas, biaya modal perusahaan, dan penilaian pasar ikut berubah. Bank sentral merespons. Akhirnya semuanya sampai ke portofoliomu.
Empat titik rawan yang wajib dipantau
| Titik | Indikator | Kenapa penting |
|---|---|---|
| Kepemilikan asing di SBN | Porsi dari total SBN beredar | Porsi tinggi, makin peka terhadap arus keluar |
| Cadangan devisa | Nilainya, dan cukup untuk berapa bulan impor | Kemampuan menyerap tekanan |
| Neraca transaksi berjalan | Surplus atau defisit, sebagai % PDB | Defisit besar berarti bergantung pada modal masuk |
| Utang luar negeri | Total dan porsi jangka pendek | Kebutuhan membayar atau memperpanjang utang dalam waktu dekat |
Tidak satu pun bermakna sendirian. Kerentanan tinggi terlihat bila keempatnya buruk bersamaan: kepemilikan asing tinggi, dan defisit besar, dan cadangan devisa menurun, dan utang jangka pendek besar.
Kondisi X: asing memegang 26% SBN, cadangan devisa cukup 5,1 bulan impor, defisit transaksi berjalan 2,8% PDB, utang jangka pendek 24% dari utang luar negeri. Kondisi Y: asing 12%, cadangan 8,4 bulan impor, surplus 0,4% PDB, utang jangka pendek 13%.
Anggap SBN beredar Rp6.000 triliun dan cadangan devisa Rp2.100 triliun. Kepemilikan asing X = 6.000 × 26% = Rp1.560 triliun. Y = 6.000 × 12% = Rp720 triliun.
Terjadi arus keluar 15% dari kepemilikan asing. X: 1.560 × 15% = Rp234 triliun. Y: 720 × 15% = Rp108 triliun.
Dibanding cadangan devisa: X = 234 ÷ 2.100 = 11,1%. Y = 108 ÷ 2.100 = 5,1%. Guncangan yang sama besar porsinya menekan X lebih dari dua kali lipat.
Boleh disimpulkan
"Kondisi X lebih rentan bila guncangan terjadi." "Dampak guncangan serupa akan lebih besar." "Perlu kewaspadaan dan uji tekanan lebih ketat."
Tidak boleh disimpulkan
"Krisis akan terjadi di Kondisi X." "Rupiah akan melemah sekian persen." "Jual semua aset rupiah."
Kerentanan bukan ramalan krisis. Ia menggambarkan kondisi yang memperbesar kerugian bila guncangan datang. Menjadikannya ramalan adalah salah paham paling berbahaya di topik ini. Kerentanan menuntut portofolio yang lebih tahan, bukan tebakan waktu.
Dasbor likuiditas global
| Kelompok | Indikator | Yang dibaca |
|---|---|---|
| Neraca bank sentral utama | Ukuran, arah perubahan, jadwal yang diumumkan | Arah dan kejutan terhadap jadwal |
| Suku bunga kebijakan global | Tingkat dan panduan ke depan | Arah dan kejutan |
| Dolar | Indeks dolar; kurs USD/IDR | Arah dan kecepatan |
| Imbal hasil acuan global | Obligasi negara maju tenor 2 dan 10 tahun | Biaya pendanaan dunia |
| Selera risiko | Selisih imbal hasil obligasi berisiko; indeks volatilitas | Risk-on atau risk-off |
| Komoditas | Harga komoditas ekspor utama Indonesia | Pendapatan dan neraca perdagangan |
| Domestik: kerentanan | Asing di SBN, cadangan devisa, transaksi berjalan, utang luar negeri jangka pendek | Empat titik rawan |
| Domestik: respons | Suku bunga acuan, imbal hasil SBN, pernyataan kebijakan | Cara otoritas merespons |
Aturan pengisian sama dengan dasbor L2.1: catat nilai, arah, tanggal, kejutan terhadap perkiraan, dan tafsirmu sendiri bertanggal. Data domestik dipantau bulanan; kurs, imbal hasil, dan dolar dipantau mingguan.
Ujian sesungguhnya: portofolio Pak Reza saat badai
Teori jadi nyata saat diuji di portofolio. Pak Reza, tetangga Raka, punya portofolio Rp800 juta: SBN 30% (durasi 5,8), saham domestik 40%, saham global tanpa lindung nilai 15%, emas 10%, kas rupiah 5%.
Raka! Ada guncangan dunia. Saham global anjlok 8%, saham kita jatuh 18%. Habis sudah tabunganku!
Tenang, Pak. Kita hitung dulu per bagian. Rupiahnya melemah 12%, kan? Itu menolong saham global dan emas Bapak.
Lho, totalnya cuma turun 7,42%? Kukira separuh hilang.
Itulah gunanya menyebar ke mata uang lain, Pak. Tapi jangan lupa, ada skenario di mana semuanya turun bersamaan.
Skenarionya: rupiah melemah 12% terhadap dolar, imbal hasil SBN naik 1,4 pp, saham domestik turun 18%, saham global turun 8% dalam dolar, emas naik 5% dalam dolar.
SBN: perkiraan perubahan harga = −durasi × kenaikan imbal hasil = −5,8 × 1,4 = −8,12%. Rp240 juta × 0,9188 = Rp220.512.000.
Saham domestik: −18%. Rp320 juta × 0,82 = Rp262.400.000.
Saham global: 0,92 × 1,12 − 1 = +3,04%. Rp120 juta × 1,0304 = Rp123.648.000. Emas: 1,05 × 1,12 − 1 = +17,60%. Rp80 juta × 1,176 = Rp94.080.000. Kas: tetap Rp40.000.000.
Total: Rp740.640.000, turun 7,42%. Jauh lebih ringan daripada saham domestik yang turun 18%.
Pembanding: kalau porsi 25% (saham global + emas) dipindah ke saham domestik, bobotnya jadi 30% SBN, 65% saham domestik, 5% kas. Hasilnya 0,30 × (−8,12%) + 0,65 × (−18%) = −14,14%. Bedanya 6,72 poin persentase, kira-kira Rp54 juta.
Contoh di atas menganggap emas naik dan saham global turun moderat saat rupiah melemah. Ada skenario lain yang lebih buruk: guncangan likuiditas global yang parah bisa menekan saham global, emas, dan rupiah sekaligus. Saat tekanan ekstrem, hubungan antar-aset bisa runtuh bersamaan. Ujilah skenario itu juga.
Selisih antara −18% dan −7,42% adalah diversifikasi mata uang yang bekerja, bukan hasil menebak waktu. Kalau tujuanmu kelak memerlukan mata uang asing (misalnya kuliah di luar negeri), sesuaikan sebagian aset dengan mata uang kebutuhan itu, sebanding porsinya, bukan berdasarkan ramalan kurs.
Mitos atau fakta?
Ketuk setiap kartu untuk membaliknya.
"QE itu cetak uang, jadi inflasi pasti melonjak."
QE menciptakan cadangan perbankan. Ia baru menjadi daya beli lewat kredit, dan rantainya bisa putus. Pernah ada QE besar dengan inflasi rendah.
"Bunga naik pasti menguatkan rupiah."
Yang menentukan adalah selisih bunga riil, perkiraan kurs, dan persepsi risiko. Kenaikan bunga yang dibaca sebagai tanda tekanan bisa malah melemahkan kurs.
"Kurs yang naik-turun berarti kebijakan gagal."
Menurut trilema, kurs mengambang adalah akibat pilihan Indonesia: modal bebas dan moneter mandiri.
"Kerentanan tinggi berarti krisis akan datang."
Kerentanan mengukur seberapa parah dampaknya bila guncangan terjadi, bukan kapan atau apakah guncangan itu datang.
"Saham global turun, berarti investasiku di sana pasti rugi."
Dalam rupiah bisa justru untung. Turun 8% dalam dolar dengan rupiah melemah 12% memberi +3,04% dalam rupiah.
Cek pemahamanmu
Latihan singkat ini tidak dinilai. Kuis resmi modul ada di bagian akhir halaman.
1. Bank sentral memborong obligasi dalam jumlah besar, tetapi kredit bank tidak tumbuh. Apa yang paling mungkin terjadi?
- Harga barang sehari-hari langsung melonjak tinggi
- Uang tunai langsung bertambah di dompet setiap orang
- Cadangan perbankan menumpuk tanpa banyak menjadi daya beli
- Kurs rupiah otomatis menjadi tetap
Rantai putus di bank atau peminjam. Cadangan menumpuk, tetapi tidak menjadi belanja. Itu sebabnya QE tidak otomatis memicu inflasi.
2. Imbal hasil SBN 7,0%. Selama setahun rupiah melemah 5% terhadap dolar. Berapa kira-kira hasilnya bagi investor asing dalam dolar?
- 1,65%
- 2,00%
- 7,00%
- 12,00%
1,07 × 0,95 − 1 = 1,65%. Kalikan, jangan kurangkan begitu saja.
3. Indonesia membiarkan kursnya mengambang. Menurut trilema, itu karena Indonesia memilih…
- Kurs tetap dan arus modal bebas
- Kurs tetap dan kebijakan moneter mandiri
- Pembatasan arus modal dan kurs tetap
- Arus modal bebas dan kebijakan moneter mandiri
Dari tiga hal, hanya dua bisa dipilih. Indonesia memilih modal bebas dan moneter mandiri, sehingga kurs tetap dikorbankan.
4. Emas naik 8% dalam dolar, sementara rupiah menguat 5% (harga dolar dalam rupiah turun 5%). Perubahan harga emas dalam rupiah kira-kira…
- +13,00%
- +2,60%
- +3,00%
- −5,00%
1,08 × 0,95 − 1 = +2,60%. Penguatan rupiah memangkas sebagian kenaikan emas.
5. Data menunjukkan sebuah negara punya cadangan devisa menipis dan utang jangka pendek besar. Kesimpulan yang dapat dipertahankan adalah…
- Krisis pasti datang dalam enam bulan
- Semua aset di negara itu harus dijual sekarang
- Dampak guncangan akan lebih parah bila guncangan terjadi
- Data itu tidak relevan bagi investor ritel
Kerentanan mengukur besar dampak, bukan waktu atau kepastian kejadian.
Ringkasan dan kamus mini
Terhubung: banyak gerakan besar pasar Indonesia berasal dari luar negeri.
QE/QT: QE menambah cadangan perbankan, bukan uang di dompet; yang penting arah dan kejutannya.
Rantai uang: uang primer → uang beredar → kredit bisa putus. Pantau kredit.
Dolar: dolar kuat cenderung menekan negara berkembang lewat utang dolar dan arus modal.
Selisih riil: investor asing melihat bunga riil plus kurs. Bunga naik tidak selalu menguatkan kurs.
Trilema: modal bebas + moneter mandiri = kurs mengambang.
Kerentanan: mengukur besar dampak, bukan ramalan krisis.
- Neraca bank sentral
- Catatan aset dan liabilitas bank sentral.
- QE (pelonggaran kuantitatif)
- Bank sentral membeli surat berharga; cadangan perbankan bertambah.
- QT (pengetatan kuantitatif)
- Kebalikan QE; cadangan perbankan berkurang.
- Cadangan perbankan
- Saldo bank-bank umum di bank sentral.
- Uang primer (M0)
- Uang kartal ditambah cadangan perbankan.
- Uang beredar luas (M2)
- M1 ditambah deposito dan tabungan.
- Mata uang cadangan
- Mata uang yang dipakai luas untuk perdagangan, utang, dan cadangan devisa dunia.
- Suku bunga riil
- Suku bunga setelah dikurangi inflasi.
- Titik impas kurs
- Pelemahan kurs maksimum agar investasi asing tetap setara alternatifnya.
- Trilema kebijakan
- Dari kurs tetap, modal bebas, dan moneter mandiri, hanya dua yang bisa dipilih.
- Cadangan devisa
- Simpanan valuta asing bank sentral untuk impor dan stabilisasi kurs.
- Neraca transaksi berjalan
- Selisih pemasukan dan pengeluaran dengan luar negeri dari barang, jasa, dan pendapatan.
- Kerentanan eksternal
- Kondisi yang memperbesar kerugian bila guncangan dari luar datang.
- Risk-on / risk-off
- Suasana investor berani mengambil risiko, atau lari ke aset aman.
Materi ini untuk pendidikan, bukan rekomendasi membeli atau menjual produk apa pun. Semua angka adalah ilustrasi pengajaran, bukan data terkini dan bukan proyeksi.
Selesai membaca? Mantap!
Uji pemahamanmu dengan kuis modul (4 soal). Skor terbaiknya dihitung 20% dari nilai akhir jenjang. Ingin rincian, rumus lengkap, dan latihan tambahan? Buka naskah lengkap modul ini.