Invesmentpedia Enigma Institute
L0.8 · Matematika Investasi: Bunga Majemuk dan Imbal Hasil
TINGKAT

Level 0 · Fondasi · Modul 8

Matematika Uang Bertumbuh

Kenapa uang bisa "beranak"? Kenapa naik 50% lalu turun 50% justru bikin rugi? Dan kenapa biaya 2% bisa menghabiskan separuh tabunganmu? Di modul ini kamu belajar lima jurus matematika yang dipakai investor sungguhan. Tenang, cukup bermodal kalkulator HP.

⏱ ±45 menit baca🧮 5 jurus🎮 5 simulasi
th 1 th 10 · 2,6× th 20 · 6,7× 17× th 30 Rp1 juta, 10% per tahun, dibiarkan 30 tahun

Kenalan dulu dengan masalahnya

Setelah modul ini, kamu bisa

  • menjelaskan bunga majemuk ("bunga berbunga") dan kenapa waktu adalah bahan bakarnya;
  • membongkar jebakan rata-rata yang menipu di iklan investasi;
  • memahami kenapa naik-turun harga diam-diam menggerus hasil;
  • membedakan nilai rapor produk (TWR) dan nilai rapor investornya (MWR);
  • menghitung betapa besar biaya kecil menggerus uangmu, dan mengenal tiga ukuran risiko dasar.

Aku nabung Rp100 ribu tiap bulan di celengan. Kira-kira kapan aku kaya, ya?

Ikut program Om aja! Bulan lalu turun 50%, bulan ini naik 50%. Rata-ratanya nol, berarti AMAN, modal balik!

Tunggu, Raka. Turun 50% lalu naik 50% itu bukan balik modal. Uangmu justru hilang seperempat.

HAH?! Kok bisa?

JRENG!

Matematika uang itu beda dengan matematika di buku tulis. Ada lima jurus yang wajib kamu kuasai.

Ajari aku, Kak! Biar nggak gampang ditipu.

Raka mengalami hal yang dialami banyak orang: kita diajari tambah-kurang-kali-bagi, tetapi tidak diajari cara uang bertumbuh. Akibatnya kita gampang terkecoh angka yang terdengar meyakinkan. Mari kita pelajari jurusnya satu per satu.

Jurus 1 · Bunga berbunga: bola salju uang

Kalau kamu menyimpan Rp1.000.000 dengan imbal hasil 10% per tahun, di akhir tahun pertama kamu dapat tambahan Rp100.000. Sampai sini biasa saja.

Yang menarik terjadi di tahun kedua. Bunga 10% sekarang dihitung dari Rp1.100.000, bukan Rp1.000.000. Jadi tambahanmu Rp110.000, bukan Rp100.000 lagi. Bunga tahun lalu ikut menghasilkan bunga. Inilah yang disebut bunga majemuk.

TahunUang di awal tahunTambahan 10%Uang di akhir tahun
1Rp1.000.000Rp100.000Rp1.100.000
2Rp1.100.000Rp110.000Rp1.210.000
3Rp1.210.000Rp121.000Rp1.331.000

Perhatikan kolom "Tambahan": Rp100.000, Rp110.000, Rp121.000. Setiap tahun tambahannya makin besar, walaupun persentasenya tetap 10%. Polanya bisa diringkas menjadi satu rumus.

\[ FV = PV \times (1 + r)^n \]
\(FV\)
Future Value: uangmu di masa depan
\(PV\)
Present Value: uangmu sekarang (modal awal)
\(r\)
imbal hasil per tahun, ditulis desimal (10% = 0,10)
\(n\)
berapa tahun uangnya dibiarkan bertumbuh

kalikan modalmu dengan (1 + imbal hasil) sebanyak jumlah tahunnya. Rp1 juta × 1,10 × 1,10 × 1,10 = Rp1,331 juta setelah 3 tahun.

Coba geser waktunya ke 30 tahun. Rp1 juta menjadi sekitar Rp17,45 juta, alias 17 kali lipat. Lalu perhatikan batang hijaunya: hampir datar di awal, lalu melesat di akhir. Sekitar 65% dari seluruh pertambahan terjadi di 10 tahun terakhir.

Bunga majemuk butuh waktu. Orang yang berhenti di tahun ke-20 tidak mendapat "dua pertiga hasil". Ia kehilangan bagian terbesarnya. Jadi mulailah sedini mungkin dan jangan berhenti di tengah jalan.

Aturan 72. Ingin tahu berapa lama uangmu jadi dua kali lipat? Bagi 72 dengan angka imbal hasilnya. Pada 10% per tahun: 72 ÷ 10 ≈ 7,2 tahun. Pada 6%: 72 ÷ 6 = 12 tahun. Ini perkiraan cepat. Hitungan persisnya untuk 10% adalah 7,27 tahun.

Bunga majemuk bekerja dua arah. Ia membesarkan tabungan, tetapi juga membesarkan utang (misalnya pinjol dan kartu kredit yang tidak dilunasi) dan biaya yang dipotong tiap tahun. Kita akan lihat dampak biaya di Jurus 5.

Jurus 2 · Rata-rata yang menipu

Kembali ke tawaran Om Cuan. Misalkan kamu menaruh Rp100. Tahun pertama naik 50%, tahun kedua turun 50%.

Rp100 Rp150 Rp75 +50% → −50% → 50% dari 150 = 75, bukan 50
Turun 50% dihitung dari angka yang sudah lebih besar (Rp150), jadi yang hilang Rp75, lebih banyak daripada yang didapat (Rp50).

Kalau dihitung dengan rata-rata biasa (yang di matematika disebut rata-rata aritmetik): (+50% − 50%) ÷ 2 = 0%. Kesannya impas. Kenyataannya uangmu tinggal Rp75, rugi 25%.

Ukuran yang jujur adalah pertumbuhan nyata per tahun, yang di dunia investasi disebut CAGR atau rata-rata geometrik. Ia menjawab pertanyaan: "kalau tumbuhnya sama rata setiap tahun, berapa persen per tahun supaya hasil akhirnya sama?"

\[ \text{CAGR} = \left(\frac{\text{nilai akhir}}{\text{nilai awal}}\right)^{1/n} - 1 \]

bagi nilai akhir dengan nilai awal, ambil "akar pangkat n" (n = jumlah tahun), lalu kurangi 1. Untuk contoh tadi: (75 ÷ 100)1/2 − 1 = −13,40% per tahun.

Coba ubah angkanya menjadi +20 dan −20, lalu +80 dan −80. Makin liar naik-turunnya, makin jauh selisih antara rata-rata biasa dan hasil nyata.

Pertumbuhan nyata (rata-rata geometrik/CAGR) selalu lebih kecil atau sama dengan rata-rata biasa. Keduanya hanya sama kalau hasilnya tidak naik-turun sama sekali.

  1. Dalam lima tahun, Dana A mencatat +40%, −25%, +35%, −20%, +30%. Dana B lebih kalem: +12%, +8%, +11%, +6%, +13%.

  2. Rata-rata biasa. Dana A: (40 − 25 + 35 − 20 + 30) ÷ 5 = 12%. Dana B: (12 + 8 + 11 + 6 + 13) ÷ 5 = 10%. Sekilas Dana A juara, dan angka 12% inilah yang biasanya dipajang di brosur.

  3. Uang sungguhan. Modal Rp100 juta.
    Dana A: 100 × 1,40 × 0,75 × 1,35 × 0,80 × 1,30 = Rp147,42 juta.
    Dana B: 100 × 1,12 × 1,08 × 1,11 × 1,06 × 1,13 = Rp160,82 juta.

  4. Pertumbuhan nyata (CAGR). Dana A: (147,42 ÷ 100)1/5 − 1 = 8,07% per tahun. Dana B: (160,82 ÷ 100)1/5 − 1 = 9,97% per tahun.

  5. Kesimpulan. Dana A "menang" di brosur tetapi kalah Rp13,4 juta di dompet. Pemilik Dana A juga dua kali melihat uangnya turun (−25% dan −20%). Banyak orang panik lalu menjual di saat seperti itu, sehingga hasil nyatanya bisa lebih buruk lagi.

Materi promosi sering memamerkan rata-rata biasa karena angkanya lebih besar. Kalau kamu melihat "rata-rata imbal hasil 12% per tahun", tanyakan: "Itu rata-rata biasa atau CAGR?" Pertanyaan sederhana ini sudah melindungimu.

Jurus 3 · Naik-turun itu mahal

Dari Jurus 2 kita tahu: hasil yang naik-turun membuat pertumbuhan nyata lebih kecil daripada rata-rata biasa. Selisih itu punya nama: hambatan volatilitas (volatility drag). Volatilitas artinya seberapa liar hasil investasi naik-turun.

\[ r_{\text{nyata}} \approx r_{\text{rata-rata}} - \frac{\sigma^2}{2} \]
\(r_{\text{nyata}}\)
pertumbuhan nyata per tahun (rata-rata geometrik)
\(r_{\text{rata-rata}}\)
rata-rata biasa (aritmetik)
\(\sigma\)
dibaca "sigma": ukuran seberapa liar hasilnya naik-turun (volatilitas)

besarnya hambatan kira-kira volatilitas dikuadratkan, lalu dibagi dua. Karena dikuadratkan, volatilitas dua kali lipat membuat hambatannya empat kali lipat.

Geser "naik-turun" dari 10% ke 40%. Garis ungu (hasil tengah) turun, dan makin banyak garis merah yang berakhir rugi, walaupun rata-rata hasil per tahunnya tidak kamu ubah.

Mengurangi naik-turun bukan sekadar supaya hati tenang. Dengan rata-rata hasil yang sama, investasi yang lebih stabil secara matematis menghasilkan uang akhir lebih banyak. Inilah alasan para investor menyebar uangnya ke beberapa jenis aset (diversifikasi).

Apa itu σ (simpangan baku)?

Simpangan baku mengukur seberapa jauh hasil tiap tahun biasanya menyimpang dari rata-ratanya. Kalau rata-ratanya 10% dan σ = 20%, sekitar dua dari tiga tahun hasilnya berada di antara −10% dan +30%. Rumus hambatan \(\sigma^2/2\) adalah perkiraan. Rumus ini cukup akurat ketika naik-turunnya tidak terlalu ekstrem.

Rata-rata biasaVolatilitas σHambatan σ²/2Pertumbuhan nyata
10%10%0,50%9,50%
10%20%2,00%8,00%
10%40%8,00%2,00%
10%60%18,00%−8,00%
15%80%32,00%−17,00%

Jurus 4 · Rapor produk vs rapor investornya

Dua orang membeli reksa dana yang sama persis. Hasil mereka bisa sangat berbeda, karena waktu mereka menyetor dan menarik uang berbeda. Maka ada dua "nilai rapor":

TWR: rapor produknya

TWR (Time-Weighted Return) mengukur seberapa bagus produk atau manajernya, tanpa peduli kapan kamu menyetor.

Dipakai untuk menilai manajer investasi, karena manajer tidak bisa mengatur kapan nasabah menyetor.

VS

MWR: rapor kamu sendiri

MWR (Money-Weighted Return) mengukur hasil yang benar-benar kamu alami, termasuk akibat keputusanmu kapan menyetor dan menarik.

Dipakai untuk menilai perilakumu sebagai investor.

Tahun lalu reksa danaku naik 30%! Aku tambah Rp300 juta sekarang juga!

Waduh, sekarang turun 30%. Aku tarik Rp150 juta saja, takut habis!

Reksa dananya untung +5,76% per tahun. Tapi Bapak sendiri rugi −7,62% per tahun.

WaktuYang dilakukan Pak RezaHasil reksa dana tahun ituNilai setelahnya
Awal tahun 1Setor Rp100 juta—Rp100 juta
Akhir tahun 1—+30%Rp130 juta
Awal tahun 2Setor Rp300 juta (sedang semangat)—Rp430 juta
Akhir tahun 2—−30%Rp301 juta
Awal tahun 3Tarik Rp150 juta (sedang panik)—Rp151 juta
Akhir tahun 3—+30%Rp196,3 juta
  1. Rapor produk (TWR). Gabungkan hasil tiap tahun, abaikan setoran: (1,30 × 0,70 × 1,30)1/3 − 1 = +5,76% per tahun. Reksa dananya baik-baik saja.

  2. Uang nyata Pak Reza. Total setoran Rp400 juta. Total yang kembali: Rp150 juta (ditarik) + Rp196,3 juta (sisa) = Rp346,3 juta. Ia rugi Rp53,7 juta.

  3. Rapor Pak Reza (MWR) dihitung dengan memperhitungkan kapan dan berapa uang masuk-keluar. Hasilnya −7,62% per tahun. Kalkulator keuangan atau fungsi IRR di spreadsheet bisa menghitungnya.

  4. Selisihnya 13,38 poin persen per tahun. Semuanya akibat waktu yang salah: menyetor besar setelah harga naik, menarik setelah harga turun. Selisih ini disebut behavior gap, yaitu jurang perilaku.

Untuk menilai manajer investasi, pakai TWR. Untuk menilai dirimu sendiri, bandingkan MWR-mu dengan TWR produknya. Kalau MWR-mu jauh di bawah, masalahnya bukan di produk, tetapi di kebiasaanmu. Karena itu kurikulum ini mengajarkan menabung otomatis dan aturan pribadi sebelum mengajarkan analisis.

Rumus lengkap TWR dan MWR

TWR menggabungkan hasil setiap sub-periode \(r_1, r_2, \dots, r_k\) di antara arus kas, lalu dihitung per tahun selama \(n\) tahun:

\[ \text{TWR} = \bigl[(1 + r_1)(1 + r_2)\cdots(1 + r_k)\bigr]^{1/n} - 1 \]

MWR adalah tingkat bunga yang membuat nilai kini semua arus kas (setoran negatif, penarikan dan saldo akhir positif) berjumlah nol:

\[ \sum_{t=0}^{n} \frac{CF_t}{(1 + \text{MWR})^t} = 0 \]

Untuk Pak Reza: −100 − 300/(1+m) + 150/(1+m)² + 196,3/(1+m)³ = 0 terpenuhi pada m ≈ −7,62%.

Jurus 5 · Biaya: rayap yang diam-diam

Banyak orang mengira biaya 2% per tahun hanya mengurangi hasil sebesar 2%. Salah besar. Biaya dipotong setiap tahun, sehingga ia ikut "berbunga", tetapi melawanmu. Ia memperlambat laju bola saljumu sepanjang perjalanan.

Dengan setoran Rp3 juta per bulan selama 30 tahun dan imbal hasil kotor 10%, investor yang membayar biaya 2,4% berakhir dengan sekitar Rp4,12 miliar. Temannya yang hanya membayar 0,4% berakhir dengan sekitar Rp6,23 miliar. Selisihnya lebih dari Rp2,1 miliar, hampir dua kali seluruh uang yang mereka setor (Rp1,08 miliar).

Biaya adalah satu-satunya hal dalam investasi yang pasti: dibayar setiap tahun, untung atau rugi. Memilih produk berbiaya rendah adalah "keuntungan" yang bisa diraih siapa pun, tanpa harus pintar menganalisis dan tanpa menambah risiko.

Rumus porsi kekayaan yang hilang

\[ \text{Porsi hilang} = 1 - \left(\frac{1 + r - b}{1 + r}\right)^n \]

dengan \(r\) imbal hasil kotor, \(b\) biaya per tahun, \(n\) jumlah tahun. Contoh: \(r = 10\%\), \(b = 2{,}5\%\), \(n = 30\): \(1 - (1{,}075/1{,}10)^{30} \approx 49{,}8\%\). Menurunkan biaya dari 2,5% ke 0,5% pada horizon itu menambah sekitar 74% kekayaan akhir.

Bonus · Tiga cara mengukur risiko

Menilai investasi hanya dari besarnya hasil sama seperti menilai mobil hanya dari kecepatan maksimumnya. Kamu juga perlu tahu remnya. Ada tiga ukuran risiko dasar.

1. Simpangan baku (σ): seberapa liar naik-turunnya

Makin besar σ, makin lebar perbedaan hasil dari tahun ke tahun. Kelemahannya: naik dan turun dianggap sama buruknya, padahal investor hanya takut pada yang turun.

2. Penurunan maksimum (maximum drawdown): seberapa dalam jatuhnya

Ini penurunan terdalam dari titik tertinggi ke titik terendah. Ukuran inilah yang paling terasa di hati, dan sering membuat orang menyerah lalu menjual di harga terendah.

\[ \text{MDD} = \frac{\text{nilai terendah} - \text{nilai tertinggi}}{\text{nilai tertinggi}} \]

kalau portofoliomu pernah di puncak Rp200 juta lalu jatuh ke Rp120 juta, penurunan maksimumnya (120 − 200) ÷ 200 = −40%.

3. Hasil per satuan risiko: adil membandingkan

Bandingkan "kelebihan" hasil (di atas hasil tanpa risiko, misalnya deposito) dengan besarnya risiko. Makin tinggi rasionya, makin efisien investasi itu.

\[ \text{Rasio} = \frac{r_{\text{portofolio}} - r_{\text{bebas risiko}}}{\sigma} \]

Dua strategi dengan hasil sama tetapi risiko berbeda bukan strategi yang sama baiknya. Selalu tanyakan: "hasilnya berapa, dan risiko apa yang harus ditanggung untuk mendapatkannya?"

Mitos atau fakta?

Ketuk setiap kartu untuk membaliknya.

"Naik 50% lalu turun 50% berarti balik modal."

Rugi 25%. Turun 50% dihitung dari angka yang sudah lebih besar: 100 → 150 → 75.

"Biaya 2% per tahun cuma mengurangi hasil 2%."

Biaya ikut berbunga melawanmu. Dalam 30 tahun, biaya 2,5% bisa memakan hampir separuh kekayaan akhir.

"Rata-rata imbal hasil di brosur adalah hasil yang akan kudapat."

Brosur sering memakai rata-rata biasa. Hasil nyata (CAGR) lebih kecil, dan hasil yang kamu alami juga bergantung pada perilakumu (MWR).

"Kalau produknya bagus, pasti aku juga untung."

Pak Reza memegang produk yang naik +5,76% per tahun, tetapi ia sendiri rugi −7,62% per tahun karena salah waktu.

Cek pemahamanmu

Latihan singkat ini tidak dinilai. Kuis resmi modul ada di bagian akhir halaman.

1. Uang Rp200 naik 20%, lalu turun 20%. Berapa uangnya sekarang?

  1. Rp200, karena impas
  2. Rp208
  3. Rp192
  4. Rp160

200 × 1,20 = 240, lalu 240 × 0,80 = 192. Rugi 4%, bukan impas.

2. Mana yang selalu lebih kecil atau sama?

  1. Rata-rata biasa (aritmetik)
  2. Pertumbuhan nyata (rata-rata geometrik/CAGR)
  3. Keduanya selalu sama
  4. Bergantung arah pasar

Rata-rata geometrik (CAGR) selalu ≤ rata-rata aritmetik. Keduanya sama hanya bila tidak ada naik-turun.

3. Kamu ingin menilai apakah seorang manajer investasi pandai mengelola dana. Ukuran yang tepat adalah…

  1. TWR, karena tidak terpengaruh kapan nasabah menyetor
  2. MWR, karena itu hasil yang dialami nasabah
  3. Rata-rata biasa lima tahun terakhir
  4. Total untung dalam rupiah

Manajer tidak bisa mengatur kapan nasabah menyetor, jadi ia dinilai dengan TWR. MWR dipakai untuk menilai perilaku investor.

4. Hambatan volatilitas kira-kira sebesar…

  1. σ ÷ 2
  2. 2σ
  3. σ²
  4. σ² ÷ 2

Pertumbuhan nyata ≈ rata-rata biasa − σ²/2. Volatilitas 20% → hambatan 0,2² ÷ 2 = 2%.

5. Dengan Aturan 72, berapa lama uang menjadi dua kali lipat pada imbal hasil 8% per tahun?

  1. Sekitar 6 tahun
  2. Sekitar 9 tahun
  3. Sekitar 12 tahun
  4. Sekitar 18 tahun

72 ÷ 8 = 9 tahun.

Ringkasan dan kamus mini

Jurus 1: bunga majemuk butuh waktu; bagian terbesar hasil datang di akhir.
Jurus 2: pakai CAGR, bukan rata-rata biasa.
Jurus 3: naik-turun menggerus hasil sekitar σ²/2 per tahun.
Jurus 4: TWR untuk menilai produk/manajer, MWR untuk menilai dirimu.
Jurus 5: biaya kecil berbunga melawanmu; pilih biaya rendah.

Bunga majemuk
Bunga yang dihitung dari modal ditambah bunga sebelumnya ("bunga berbunga").
Imbal hasil
Keuntungan (atau kerugian) investasi, biasanya dalam persen per tahun.
Rata-rata aritmetik
Rata-rata biasa: jumlahkan, lalu bagi banyaknya data.
CAGR / rata-rata geometrik
Pertumbuhan tetap per tahun yang menghasilkan nilai akhir yang sama.
Volatilitas (σ)
Seberapa liar hasil investasi naik-turun.
Hambatan volatilitas
Pengurangan pertumbuhan nyata akibat naik-turun, kira-kira σ²/2.
TWR
Imbal hasil tertimbang waktu: rapor produk/manajer.
MWR
Imbal hasil tertimbang uang: rapor investor, termasuk efek waktu setoran.
Behavior gap
Selisih TWR dan MWR akibat perilaku investor.
Maximum drawdown
Penurunan terdalam dari puncak ke lembah.

Materi ini untuk pendidikan, bukan rekomendasi membeli atau menjual produk apa pun. Angka-angka adalah contoh hitungan; hasil investasi tidak dijamin.

Selesai membaca? Mantap!

Uji pemahamanmu dengan kuis modul (4 soal). Skor terbaiknya dihitung 20% dari nilai akhir jenjang. Ingin rincian, rumus lengkap, dan latihan tambahan? Buka naskah lengkap modul ini.